Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Gregoria Mariska Berharap Bisa Tingkatkan Pencapaian di Kejuaraan Dunia 2019

Wina Setyawatie
PEBULU tangkis tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung.*/ANTARA
PEBULU tangkis tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Pemain tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung mengharapkan bisa meningkatkan pencapaiannya di BWF World Championships 2019 yang akan berlangsung di St. Jakobshalle Basel, Swiss, 19-25 Agustus mendatang. Tahun lalu, pemain asal Mutiara Cardinal Bandung ini hanya finis di hingga babak kedua.

Tumpuan di sektor ini masih ada di tangannya. Mengingat Gregoria sejauh ini masih jadi wakil Indonesia yang memiliki rangking terbaik BWF di 16 besar dunia.

Tampil tidak begitu baik di empat turnamen terakhir sejak Mei 2019 lalu, membuat dia pun bertekad untuk bisa tampil lebih maksimal di Kejuaraan Dunia nanti. Kepada wartawan, Selasa, 13 Agustus 2019, di Pelatnas PBSI Cipayung, dia mengakui jika ada penurunan. Hal tersebut yang kini sedang diupayakannya agar bisa terus fokus untuk tampil konsisten dalam pertandingan. Mengurangi kesalahan-kesalahan kecil yang bisa berakibat fatal.

Dia mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan bye di babak pertama di Kejuaraan Dunia nanti, namun dia akan langsung berhadapan dengan lawan berat antara Busanan Ongbamrungphan asal Thailand dan Chloe Birc dari Canada.

Menghadapi persaingan ini, Gregoria mengatakan bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lawannya di tahun sebelumnya. Karena untuk level Kejuaraan Dunia memang semua lawan sama beratnya. Hanya bedanya, dia harus kembali mempelajari lawan karena undian baru ini.

Seperti diketahui, sektor ini mengalami pengundian ulang karena kesalahan data. Gregoria yang mendapatkan bye tadinya bisa bertemu lawan yang lebih seimbang di babak kedua, antara wakil Swiss Sabrina Jaquet dan Kirsty Gilmour dari Finlandia. Namun, dengan perubahan undian, maka bila dia lolos hingga "16 besar" maka besar kemungkinan akan kembali bersua Ratchanok Intanon dari Thailand.

"Sebenarnya tidak merugikan juga. Karena sudah sering bertemu juga. Hanya saja, saya harus mempelajari lagi lawan-lawan baru nanti. Secara level permainan, ya siapapun lawannya tetap harus waspada. Namun, kembali lagi ke saya, jangan sampai merasa undian ini berat, karena pasti akan berpengaruh ke mental," ujarnya. 

Beberapa hari terakhir, dirinya mengaku sedang menggenjot persiapan fisik. Karena untuk turnamen level ini, menurutnya fisik dibutuhkan 80-90 persen di lapangan untuk daya tahan.

"Fisik dikuatin terus. Sembari mempelajari bola yang akan digunakan nanti. Saya harus terbiasa dengan tipikal bolanya. Mulai membiasakan bolanya dipetik, agar lebih berat. Ini jadi bagian dari antisipasi. Karena kalau main di Indonesia, pakainya kok yang bulu tebal. Berbeda dengan di sana nanti," tuturnya. 

Secara taktikal di persiapan akhir ini, Gregoria ditekankan untuk mau terus mencari bola. Mencari bagaimana dia bisa mendapatkan bola dari posisi yang enak menurutnya. 
"Jadi bagaimana caranya saya harus dapat posisi enak itu. Karena kakikan harus cepat juga. Pelatih drilling kasih bola kemana-mana, kita  harus bisa ambilnya itu dengan kualitas yang bagus," tuturnya.

Asisten Pelatih Tunggal Putri Minarti Timur mengaku tantangannya memang berat. Namun, menurutnya anak didiknya tersebut harus selalu siap. Berusaha dulu saja mati-matian dengan mengeluarkan permainan terbaik. "Mudah-mudahan mereka bisa kuasai keadaan. Mengeluarkan permainan terbaiknya," katanya.

Sudah lama, 25 tahun, sektor tunggal putri absen gelar di Kejuaraan Dunia ini. Terakhir gelar untuk Indonesia di sektor ini ada datang dari Susy Susanti pada 1993 lalu di Birmingham, Inggris.***

Bagikan: