Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.4 ° C

Bernal, Pembalap Kolombia Pertama Jadi Juara Tour de France

Bambang Kuntady
EGAN Benal (Ineos/Kolombia)  juara Tour de France 2019 didampingi runner up Geraint Thomas (Ineos/Inggris) kiri dan rangking ketiga Steven Kruijswijk (Jumbo Visma/Belanda) kanan.*/BETTINI PHOTO
EGAN Benal (Ineos/Kolombia) juara Tour de France 2019 didampingi runner up Geraint Thomas (Ineos/Inggris) kiri dan rangking ketiga Steven Kruijswijk (Jumbo Visma/Belanda) kanan.*/BETTINI PHOTO

PARIS,(PR).- Egan Bernal (22) dari tim Ineos, Inggris menjadi pembalap Kolombia  pertama sepanjang sejarah yang menjadi juara balap sepeda paling prestisius Tour de France 2019 edisi ke-106 yang berakhir di jantung kota Paris paling elite, Avenue Champs Elysees  Senin 29 Juli 2019 dinihari WIB. Dia disambut ratusan warga Kolombia yang merayakan suksesnya dengan mengibarkan bendea Kolombia.

Bernal merebut kaus kuning di etape XIX (dihentikan karena badai salju) menjadi juara TdF 2019 dengan total waktu tercepat 82 jam 57 menit   menyelesaikan jarak total 3.456 km terbagi 21 etape , lomba  dimulai dari Brussel, Belgia  (6/7/20119). “Runner up”  ditempati rekan setimnya juara bertahan TdF 2018 Geraint Thomas (23) asal Inggris terpaut  1 menit 11 detik, ketiga Steven Kruijswijk (Jumbo visma/Belanda) + 1 menit 31 detik.

Sementara  andalan tuan rumah yang juga rangking kesatu dunia UCI, Julian Alaphilippe (Deceuninck Quick Step/Prancis) yang  tampil mengejutkan memegang kaus kuning sejak etape III dan  berjuang ekstra keras  di pegunungan Alpenharus akhirnyaq harus puas di urutan kelima + 4 menit 5 detik,  posisi kedua setidaknya  bisa jadi milik Alaphilippe pada TdF 2010 namun karena tampil buruk di rute tanjakan terakhir pegunungan Alpen etape XX, akhirnya posisi kedua pun gagal diraih dan melorot ke urutan kelima.

Meski  gagal memenuhi dahaga publik Prancis untuk menjadi juara TdF 2019   memutus paceklik gelar selama 34 tahun sejak terakhir kali Prancis menjadi juaa di rumah sendiri oleh Bernard Hinault (TdF 1985), Alaphilippe mengaku tidak terlalu kecewa karena dukungan timnya Deceuninck Quick Step sangat tidak memadai untuk melawan tim sekelas Ineos dan Jumo Visma di lomba TdF yang butuh dukungan tim yang solid di tanjakan. “Ini pengalaman pertama saya untuk bisa mengejar gelar juara TdF. Terlalu tinggi mimpi itu. Namun menjadi pengalaman berharga untuk tahun depan,” ujarnya.

Meski Alaphilippe gagal menjadi juara TdF 2019, publik Prancis sedikit terhibur karena kaos polka dot  “King of Mountain dikuasai pembalap Prancis lainnya Romain Bardet (AG2R La Mondiale). Gelar lainnya untuk  kaos hijau (king of sprint) jadi milik pembalap Slovakia, Peter Sagan (Bora Hansgrohe) yang mencatat rekor 7 kali menjadi king of sprint  TdF. Untuk kaus putih (kategori pembalap muda U25) dikuasai juara TdF Ergan Bernal (Ineos/Kolombia). Untuk kategori beregu, tim Movistar (Spanyol) menjadi juara.

Pada etape terakhir Senin (29/7/2010) WIB , Bernal selamat  menyelesaikan etape XXI  sejauh  128 km dari Rambouillet  ke Paris (Avenue Champs Elysees) dalam satu rombongan besar dengan waktu sama 3 jam 6 menit 14 detik seperti pemenang etape terakhir ini yang dimenangi sprinter muda berbakat  Caleb Ewan (Lotto Soudal), sekaligus kemenangan etape TdF 2019 untuk ketiga kali bagi  sprinter Australia ini.

Atas suksesnya menjuarai TdF 2019 Egan Bernal yang tangguh di rute tanjakan, menyatakan amat gembira karena  menjadi  orang Kolombia petama yang bisa menjuarai TdF. “Ini adalah impian yang jadi kenyataan,  tapi saya masih tidak percaya ini benar benar terjadi, sungguh luar biasa, terasa seperti mimpi,” tutur Bernal yang disambut keluarganya  usai upacara podium.***

Bagikan: