Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Kevin-Marcus Kembali Raih Gelar Juara

Wina Setyawatie
KEVIN Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon.*/DJARUM
KEVIN Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon.*/DJARUM

TOKYO, (PR).- Indonesia akhirnya hanya membawa pulang satu gelar saja dari turnamen Japan Open 2019. Sayang, meski meloloskan tiga sektor ke final, gelar hanya datang dari sektor ganda putra yang menciptakan final sesama Indonesia.
 
Gelar kembali datang dari Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon yang mengalahkan seniornya Hendra Setiawan-Mohamad Ahsan dengan skor cukup ketat 21-18, 23-21 pada pertandingan yang berlangsung di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, Minggu (28/7/2019). Ini merupakan kekalahan kedua Hendra-Ahsan secara beruntun setelah Indonesia Open 2019 pekan lalu dan total kekalahan kedelapan dari 10 kali pertemuan keduanya. Sebaliknya, bagi pasangan Kevin-Marcus, gelar mereka di Japan tahun ini merupakan "hattrick". 

Bagi Hendra, kalah dari juniornya tetap disyukurinya. Karena memang diakuinya, ganda nomor satu dunia tersebut unggul dari segi kecepatan. 

"Yang penting di pertandingan kali ini kami bermain lebih baik dibandingkan pertemuan sebelumnya. Kami tetap akan cari solusi bagaimana bisa mengalahkan mereka. Tapi yang terpenting bagus jika bisa "all final" di ganda putra, karena untuk dua kali final sesama Indonesia berturut-turut seperti ini sangat jarang. Mudah-mudahan ini bisa mendongkrak motivasi yang lain," tuturnya. 

Mengomentari hasil "hattrick" yang dibuatnya, Kevin mengatakan jika dirinya senang bisa kembali merebut gelar ketiganya berturut-turut di Jepang. Karena pertandingan melawan seniornya tersebut dinilainya tidak mudah. Berbeda dengan penampilan sebelumnya, Hendra-Ahsan kini dinilainya lebih sulit untuk dimatikan. 

"Di gim kedua, mereka (Hendra-Ahsan) punya peluang menang setelah sempat memimpin 20 terlebih dahulu. Sebaliknya kami bikin banyak salah, tapi syukur pada akhirnya masih bisa mengusai permainan. Kami lebih banyak insiatif. Bisa dibilang ini performa terbaik kami," ungkapnya. 
Dengan tambahan gelar ini, maka kini pasangan Kevin-Marcus telah mengumpulkan empat gelar. Tiga diantaranya adalah Indonesia Open 2019 (BWF Super 1000), Indonesia Master 2019 (BWF Super 500), dan Malaysia Master 2019 (BWF Super 500). Tahun lalu mereka membuat sejarah dengan merebut 8 gelar super series/premier. 

Jonatan Christie gagal

Sementara itu, dua sektor lainnya, tunggal putra dan ganda campuran harus puas pulang dengan status "runner-up". Di tunggal, Jonatan Christie belum bisa unjuk taring lagi setelah kemenangannya atas Kento Momota di Singapore Open 2019 lalu. Kali ini dia kembali harus mengakui unggulan pertama tersebut setelah takluk 16-21, 13-21. 

Ini menjadi kekalahan ketiganya dari empat pertemuan. Kento dinilai Jonatan kali ini tampil lebih siap. Apalagi menurutnya, sang lawan dilihatnya begitu emosional menanggapi final di depan publiknya sendiri. 

"Pertandingan ini sepertinya sangat membuat dia emosional. Tadi dia memberikan pernyataan setelah bertanding sambil menangis, mungkin dia mempersiapkan diri lebih baik dari saya karena akan tampil di publiknya sendiri," kata Jonatan. 

Jonatan mengaku dia belum puas dengan penampilannya di final. Mengingat kali ini dia menilai dirinya tidak bisa mengontrol permainannya sendiri. Kurang sabar di dalam meladeni permainan lawan. 

Nasib yang sama juga menerpa Praveen Jordan-Melati Daeva Okatavianti. Lagi-lagi untuk kali ke-3 mereka gagal naik podium tertinggi. Mereka kembali takluk di tangan Wang Yi Lyu-Huang Dong Ping. Kali ini dengan skor 17-21, 16-21. Sebelumnya Praveen-Melati juga kalah di final Australia Open dan India Open di tahun ini. 
Pasangan Tiongkok, unggulan kedua ini memang terasa sulit untuk ditembus oleh Praveen-Melati. Hal itu terlihat dari rekor pertemuan mereka, dimana dalam enam kali pertemuan, ganda Indonesia ini belum pernah sekali pun menang. 

"Pasangan Tiongkok ini sangat solid dan tidak mudah dikalahkan. Saya dan Mely (Melati -Red.) sudah mencoba semaksimal mungkin untuk menembus mereka, memberikan perlawanan. Sudah berusaha bermain reli-reli, tapi tetap terbawa pola permainan mereka. Ini yang harus diwaspadai lain waktu kami kembali tertemu," kata Praveen. 

Dalam permainan, Melati menilai jika dia dan Praveen sudah berusaha mengubah pola main saat kalah di gim pertama. Namun, selisih poin yang masih tetap jauh membuat mereka kesulitan mengejar. 

"Kalau melawan mereka, dari mulainya tidak boleh tertinggal, skornya harus mepet-mepet terus mungkin bisa mengejar, apalagi mereka lebih matang," ucapnya.***

Bagikan: