Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 18.6 ° C

Alfian M. Fajri Kembali Jadi Juara Dunia Panjat Tebing

Wina Setyawatie
PEMANJAT putra Indonesia, Alfian M Fajri melakukan selebrasi setelah sukses meraih gelar juara dunia di IFSC Worldcup Chamonix, Perancis, Jumat, 12 Juli 2019. Dia berhak atas gelar juara dunia setelah jadi yang tercepat dengan torehan waktu 5,764 detik. Lebih cepat dari rivalnya di final, Zhong Qixin (Tiongkok) dengan waktu 6,382 detik.*/FPTI.OR.ID
PEMANJAT putra Indonesia, Alfian M Fajri melakukan selebrasi setelah sukses meraih gelar juara dunia di IFSC Worldcup Chamonix, Perancis, Jumat, 12 Juli 2019. Dia berhak atas gelar juara dunia setelah jadi yang tercepat dengan torehan waktu 5,764 detik. Lebih cepat dari rivalnya di final, Zhong Qixin (Tiongkok) dengan waktu 6,382 detik.*/FPTI.OR.ID

CHAMONIX, (PR).- Cabang panjat tebing kembali mencatatkan prestasi dunia. Setelah April lalu sukses menelurkan juara dunia speed putra di IFSC Worldcup Chongqing di Tiongkok, Indonesia kali ini untuk kali pertama sukses menjuarai seri IFSC Worldcup di Eropa. 

Alfian M. Fajri kembali memperoleh gelar juara dunia keduanya di Chamonix, Perancis, Jumat, 12 Juli 2019. Sebelumnya dia menjadi juara dunia IFSC Worldcup Chongqing, Tiongkok 2019 setelah menghasilkan waktu 5,970 detik. 

Sesuai rilis yang dikirimkan PB FPTI Sabtu, 13 Juli 2019, Alfian berhak meraih gelar juara dunia setelah jadi yang tercepat dengan torehan waktu 5,764 detik. Lebih cepat dari rivalnya di final, wakil Tiongkok, Zhong Qixin yang mencatatkan 6,382 detik. 

Kunci kemenangannya, menurut Alfian, adalah ketenangan. Dia berusaha menjaga fokusnya agar bisa menguasai diri. Dari dua kejuaraan seri dunia yang diikutinya, pemanjat asal Solo ini mengaku dirinya semakin tenang saat menghadapi tekanan. 
 

"Karena sudah ada pengalaman dari sebelumnya. Jadi saya berusaha untuk lebih banyak menenangkan diri, untuk jaga fokus. Jangan sampai ketegangan di final jadi tekanan balik untuk saya," ujarnya. 

Di nomor ini, medali perunggu direbut oleh Vladislav Deulin dari Rusia. Dia menghasilkan waktu 6,057 detik. Sebaliknya lawannya, Danyil Boldyrev dari Ukraina mengalami "fall". 

Menurut Manager Timnas Panjat Tebing Pristiawan Buntoro, di era nomor speed ini berlangsung. Kali ini, Indonesia baru sukses merebut juara dunia di Eropa. Sebelumnya hanya di kawasan Asia saja. 

Sayang pencapaian Alfian, belum bisa diikuti oleh pemanjat Indonesia lainnya. Aspar Jaelolo yang juga lolos ke putaran final, belum mampu melaju lebih jauh. Langkahnya terhenti di perempat final.

Keberuntungan juga belum jatuh ke tangan nomor speed putri. Dua pemanjat Indonesia, Aries Susanti Rahayu dan Nurul Iqamah kali ini belum bisa menyumbangkan medali. Keduanya lolos ke putaran final, hanya saja Aries gagal di perebutan perunggu, sementara Nurul terhenti di 16 besar. 

Pristiawan mengatakan jika jelang Olimpiade ini, persaingan cukup ketat. Karena setiap seri dunia dijadikan para pemanjat sebagai salah satu ajang uji coba mereka menuju Olimpiade Tokyo 2020. 

"Perjuangan cukup berat. Apalagi ini kejuaraan di Eropa yang biasanya didominasi pemanjat tuan rumah. Perjuangan paling berat ada di babak kualifikasi, cukup mendebarkan. Namun, untungnya target untuk bisa meloloskan empat atlet ke putaran final terpenuhi dan hasil juara merupakan kejutan yang manis," ungkapnya. 

Di kejuaraan ini ada satu atlet muda putri Fitria Hartani yang dikutsertakan. Sayang, Fitria belum mendapatkan hasil maksimal. Dia disiapkan untuk fokus pada nomor combined. "Fitria hanya menempati peringkat 53 dalam kualifikasi dengan catatan waktu 11,562 detik. Tapi dia memang kami siapkan untuk fokus di nomor lead dan boulder pada Prakualifikasi Olimpic Tokyo 2020 nanti," ucap Pristiawan. 

Di tahun ini, para pemanjat Indonesia ini diharapkan bisa mempertahankan peringkat dunianya. Sembari menambah peringkat dunia di dua nomor lainnya, lead dan boulder. Untuk nomor speed, saat ini Indonesia memiliki lima atlet yang masuk dalam jajaran 20 Top dunia. 

Di putra ada Aflian M Fajri yang duduk di peringkat lima. Kemudian Aspar Jaelolo di peringkat tujuh dan Fatchur Roji peringkat sembilan. Di nomor putri, ada Aries Susanti Rahayu di peringkat empat dan Nurul Iqamah di peringkat 20. "Kita ingin lebih banyak menembuskan 20 dunia, agar di prakualifikasi kedua Olimpiade 2020, 28 November-1 Desember mendatang di Toulouse, Perancis, kita bisa menurunkan lebih banyak pemanjat. Karena persyaratan untuk bisa ambil bagian di kejuaraan itu harus masuk top 20 dunia di semua nomor combine," kata Pristiawan. 

Untuk Olimpiade 2020, menurutnya kuota yang diberikan untuk satu negara, maksimal adalah dua putra dan dua putri. Jika Indonesia bisa meloloskan atletnya ke Olimpiade, maka menurutnya, Indonesia ingin mempertahankan posisi di nomor speed, serta meningkatkan kemampuan di nomor lead dan boulder.

"Untuk lead dan boulder yang menguasai kebanyakan negara Eropa dan Jepang untuk Asianya. Sementara untuk speed kekuatan lebih merata, tapi yang mendominasi Indonesia, Iran, dan Perancis," imbuhnya.***

Bagikan: