Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 31.3 ° C

Liga Sepak Bola Amatir di Bandung Sudah Gunakan Teknologi VAR

Tim Pikiran Rakyat
OPERATOR VAR di BPL sedang mengamati monitor sebuah pertandingan.*/BBC
OPERATOR VAR di BPL sedang mengamati monitor sebuah pertandingan.*/BBC

BANDUNG, (PR).- Penggunaan teknologi Video Referee Assistant (VAR) yang diterapkan oleh sebuah liga sepak bola amatir di Bandung akhir tahun 2018 lalu memang masih sangat sederhana, namun diklaim dapat mengurangi secara drastis tingkat "keributan" di lapangan.

Seorang operator berbaju hijau sedang mengotak-atik kabel yang terpasang pada sebuah perangkat komputer di atas meja yang diletakkan di sisi lapangan sepak bola. Layar monitor komputer itu dalam keadaan mati.

"Sistemnya lagi mati, ini lagi dicek apa masalahnya. Kemungkinan dari kabelnya," ujar Doni Setiabudi, CEO liga sepak bola amatir di Bandung bernama Bandung Premiere League (BPL), kepada BBC News Indonesia.

Pria yang akrab disapa Jalu itu ikut membantu sang operator memperbaiki sistem di komputer VAR milik BPL.

Sistem VAR yang digunakan di liga amatir itu memang jauh dari sempurna, apalagi jika dibandingkan dengan sistem VAR yang digunakan di Piala Dunia 2018 atau di beberapa kompetisi di Eropa.

Doni menyebut, VAR yang digunakan di BPL ini "hanya" menghabiskan biaya tak lebih dari Rp15 juta untuk pembelian beberapa peranti seperti dua buah kamera, perangkat komputer, meja kursi sebagai "ruang kontrol", kabel ukuran panjang, hingga biaya ke tukang las.

"Kita tidak mungkin bisa melakukan VAR yang sama dengan Eropa. Karena terbentur masalah anggaran. Akhirnya kita terapkan VAR yang lebih sederhana, tapi esensi dari VAR-nya itu dapat. VAR yang ada di BPL ini bisa membantu kinerja wasit di lapangan," kata Doni.

Terobosan baru

Diungkapkan pria 39 tahun ini, sebuah terobosan perlu dilakukan di sepak bola Indonesia yang dikatakannya terlalu banyak kontroversi, terutama soal keputusan wasit, yang tidak jarang justru menimbulkan keributan antarpemain hingga antarsuporter.

"Kita amatir, liga yang memang apa adanya, tapi kita berani untuk melakukan terobosan. Karena sebuah liga akan dikatakan sangat-sangat profesional, sangat-sangat bagus ketika bisa melakukan terobosan-terobosan yang memang mengikuti zaman," katanya.

CEO BPL, Doni Setiabudi alias Jalu mengatakan, sebelum menggunakan VAR di liga amatir ini, tingkat protes dan potensi keributan antarpemain di lapangan sangat tinggi. Namun setelah menggunakan VAR, hal-hal tersebut berkurang secara drastis.

"Perubahannya signifikan. Yang paling drastis adalah tingkat protes kepada wasit dan tingkat keributan. Dimana para pemain, ketika sudah melihat kejadian yang keputusannya diambil lewat VAR, mereka relatif lebih menerima."

Hal tersebut juga diamini oleh Purwanto, wasit yang bertugas di BPL dan sudah beberapa kali mengambil keputusan lewat VAR.

"VAR sangat membantu kami para wasit. Saya pernah memberi keputusan awal tendangan pinalti kemudian setelah saya lihat VAR ternyata saya salah, lalu saya ubah keputusan menjadi tidak penalti, tapi tidak ada yang protes sama sekali. Mereka menerima keputusan saya."

Garis gawang

Selain VAR, ada gebrakan lain yang bakal ditempuh kompetisi liga amatir BPL yang akan memulai musim barunya pada 2019 ini.

Sang CEO, Doni 'Jalu' Setiabudi, membocorkan kepada BBC News Indonesia bahwa mereka akan mulai mencoba menerapkan teknologi gol atau teknologi garis gawang. Teknologi yang juga sudah diterapkan di beberapa kompetisi di Eropa.

"Ada kejadian-kejadian ketika bola sudah melewati garis gawang, tetapi bola kembali keluar. Di mana posisi wasit dan hakim garis juga sangat jauh. Banyak yang protes karena salah satu tim mengatakan "itu sudah gol". Dari situ saya mulai berpikir, kenapa saya tidak bikin goal technology?" Kata Doni menjelaskan.

Teknologi gol yang coba digunakan nanti tentunya yang masih taraf sederhana dan tidak terlalu mahal. Doni bekerja sama dengan mahasiswa di Surabaya untuk membuat teknologi itu.***

Bagikan: