Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Fajar-Rian Butuh Poin Banyak untuk Tampil di Tokyo 2020

Wina Setyawatie
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian-Muhammad Rian Ardianto harus mengejar perolehan poin Olimpiade 2020 mereka untuk bisa bersaing dengan dua pasangan putra Merah Putih lainnya, Kevin Sanjaya-Kevin Sukamuljo dan Hendra Setiawan-Muhamad Ahsan untuk tiket menuju olimpik. Ketiganya saat ini masuk dalam posisi Top 10 dunia, namun baru Kevin-Rian dan Ahsan-Hendra yang masuk jajaran 10 besar pengumpulan poin olimpik.

Poin Fajar-Rian tertinggal jauh. Sejak dimulainya kualifikasi untuk pengumpulan poin olimpik di turnamen Australia Open 2019 Juni lalu, pasangan peringkat 6 dunia itu baru sekali turun bertanding. Hasilnya pun bahkan tidak bagus. Tidak mampu melewati babak pertama. Di Piala Sudirman pun, walaupun masuk skuad, mereka tetap tidak dimainkan. 

Sejauh ini dalam daftar "race to Tokyo BWF Olimpic qualification", mereka baru mengumpulkan 1.670 dan menempati posisi 89. Jauh dibawah para juniornya, seperti Akbar Bintang Cahyono-Moh Reza Pahlevi Isfahani (32) yang telah mengumpulkan 4.420 poin. 

Melihat hasil Fajar-Rian yang belum maksimal, Pelatih Ganda Putra PBSI, Herry Imam Pierngadi kepada wartawan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Rabu (19/6/2019) mengatakan, jika pasangan ini dilihatnya masih belum yakin dengan kemampuan sendiri. Kepercayaan diri mereka dinilai kadang keluar, namun kadang juga tidak. 

"Jadi bisa dibilang mereka belum konsisten, terutama kepercayaan dirinya. Mereka masih berapa permainannya belum mantap, hingga mainnya jadi tidak 100 persen. Berbeda dengan dua pasangan lainnya, Kevin-Marcus dan the daddies (Hendra-Ahsan), kalau lihat mainnya mau ketinggalan pun mereka tetap tenang. Itu yang harusnya bisa dicontoh oleh Fajar-Rian. Dalam hal ini memang ada yang bisa cepat membentuk seperti itu, tapi tergantung karakter masing-masing pemain," tukasnya. 

Kebutuhan berbeda

Untuk bisa mengejar dan membentuk kepercayaan diri Fajar-Rian, menurut Herry, pemainnya itu memang butuh banyak pertandingan. Namun, setiap pemain punya kebutuhan berbeda. Khusus Fajar-Rian, menurutnya butuh persiapan cukup panjang untuk mengikuti turnamen yang cukup panjang.

"Tidak main di Piala Sudirman, kemudian langsung turun di Australia Open memang cukup mempengaruhi mereka. Tapi secara garis besar memang mereka butuh banyak pertandingan. Namun, kita juga harus memilah, sebab tiap minggu ada pertandingan. Tidak mungkin ikut semua. Jadi tinggal bagaimana pemain menyikapinya. Bagaimana mereka membentuk serta menjaga motivasinya, konsentrasinya, dan fokusnya sendiri. Saya hanya membantu, selebihnya kembali kepada mereka," imbuhnya. 

Turnamen terdekat Indonesia Open 2019 diminta Imam bisa menjadi ajang pembuktian Fajar-Rian. Apalagi sebagai salah satu turnamen level tertinggi, sudah pasti akan lebih ketat dan berat tantangannya, karena para pemain akan memperebutkan poin olimpik yang besar. 
"Kali ini persiapan semua pemain yang ikut Indonesia Open cukup panjang, ada satu bulan lebih. Minimal persaingannya pasti akan ketat, hingga mereka (Fajar-Rian) pun harus memiliki tenaga dan pikiran yang lebih "fresh"," ungkapnya. 

Kendati permainan mereka sedang menurun, Herry menegaskan tetap menetapkan target untuk Fajar-Rian. Target tersebut yang dinilainya akan jadi patokan dan pemacu. Bila tahun lalu mereka bisa mencapai babak semi final, di tahun ini, menurutnya, minimal mereka juga harus bisa mencatatkan hasil yang sama atau bahkan melebihi. 

"Terlebih target tersebut berhasil atau tidak, itu persoalan nanti. Tapi mereka harus pembuktian terlebih dahulu, kalau mereka punya tujuan itu (olimpik)," imbuh Herry.***

Bagikan: