Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 21.7 ° C

Mampu Juarai Dua Turnamen Super 300, Performa Jonatan Christie sudah Kembali

Wina Setyawatie
null
null

 

JAKARTA, (PR).- Mampu menjuarai dua turnamen BWF World Tour 300, New Zealand dan Australia Open 2019, performa tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie dinilai sudah kembali lagi. Meski belum semaksimal penampilannya saat merebut medali emas Asian Games 2018 lalu, Pelatih Tunggal Putra PBSI Hendry Saputra tetap menilai mulai ada perbaikan.

Setelah Jonatan merebut medali emas di multievent olahraga se-Asia di Agustus tahun lalu, penampilan Jonatan memang turun naik. Dirinya pernah tersingkir di babak kedua di tiga kejuaraan, Swiss (Super 300), All England (Super 1000), dan Malaysia Master (Super 500). Bahkan sempat pernah tidak melewati babak pertama di Kejuaraan Asia 2019 setelah dikalahkan wakil Jepang, Kenta Nishimoto. 

Namun, penampilannya mulai membaik selepas kekalahan di Kejuaraan Asia. Dia mulai melakukan evaluasi hingga langsung juara di New Zealand Open. Kendati kemudian sempat tidak bisa menyumbangkan angka di Piala Sudirman saat Indonesia menghadapi Taiwan di babak perempat final, namun faktor tersebut bukan karena menurunnya kembali performanya. Hal itu dinilai Hendry, lebih kepada ketegangan bermain di nomor beregu yang memang memiliki tekanan lebih besar dibandingkan turun di turnamen perorangan. 

Meski dua gelar tersebut diperoleh Jonatan dari turnamen Super 300, hal tersebut menurutnya tidak masalah. Mengingat kini sudah mulai masuk pengumpulan poin Olimpiade Tokyo 2020, banyak pemain top dunia juga ambil bagian. Hingga, menurut Hendry rasanya pun tidak jauh berbeda dengan turnamen Super 1000 atau 500. Apalagi target di sektor yang dipegangnya, dinilai sudah bisa melewati harapannya

"Kalau dibilang ini hanya juara di turnamen Super 300, ya enggak masalah. Sah saja, karena memang sedang mengejar poin olimpik. Sama dengan pemain lainnya, kalau kurang poin olimpik pasti akan mencari di turnamen level Super 300 juga. Saya rasa hasil ini cukup oke. Apalagi sektor ini sudah bisa menghasilkan pencapaian tertinggi yakni menciptakan final sesama Indonesia. Jadi bagi saya, ini sudah melebihi target, karena target awalnya hanya mencapai final dan juara," katanya seperti dalam siaran pers yang dirilis PBSI, Minggu, 16 Juni 2019.

Dia menilai memang sudah saatnya Jonatan dan Anthony Sinisuka Ginting untuk juara di level Super 300. Jonatan kini mulai menatap turnamen berikutnya, Indonesia Open 2019 yang akan digelar pada Juli mendatang. Dia kembali membidik hasil maksimal dan siap untuk memperbaiki catatan buruknya tahun lalu. Pada 2018, Jonatan tidak mampu menembus babak pertama setelah dikandaskan oleh tunggal Denmark Victor Axelsen. Saat itu dia kalah cukup telak 10-21, 19-21. 

"Jonatan membutuhkan stamina yang bagus, karena itu dia butuh kondifi fisik yang prima. Karena dia kalau bermain perlu durasi yang panjang dan tempo yang lama. Jadi awalnya itu dulu. Secara teknik dan cara main, saya lihat sudah bisa mulai menguasai," tukas Hendry.

Jonatan pun juga dinilainya harus menjaga fokusnya dan melihat lagi seberapa besar ambisinya untuk meraih gelar. Tiga hal tersebut yang dinilai Hendry penting untuk menjadi fokus Jonatan guna tampil di level turnamen yang lebih tinggi. 

"Sekarang bisa dibilang dia (Jonatan) main lebih "safe" saat bertemu dengan kompetitornya. Terutama pemain level atas yang sering bertemu dengannya, rata-rata sudah lebih "safe". Dari beberapa stroke pukulan yang biasanya dia tidak yakin, sekarang lebih berani diterapkan dan menguntungkan. Mulai dari pukulan tipuan, atau ubah-ubah arah pukulan, dan bahkan dari sisi strategi pun sudah lebih baik," imbuh Hendry.***

Bagikan: