Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 21.7 ° C

Indonesia Kembali Gagal di Piala Sudirman

Wina Setyawatie
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

NANNING, (PR).- Indonesia kembali harus memendam impiannya untuk membawa pulang Piala Sudirman 2019 yang sudah melanglang buana keluar selama 30 tahun. Di semifinal yang berlangsung di Guangxi Sports Center, Nanning, Tiongkok, Sabtu 25 Mei 2019), Indonesia kandas di tangan Jepang 1-3. 

Ini merupakan ke-14 kalinya Indonesia mampu melangkah hingga babak semifinal. Dari 14 kali tersebut, Indonesia baru kali pertama merebut gelar juara di 1989 dan 6 kali runner-up. Sayang, langkah Indonesia untuk bisa membawa pulang Piala Sudirman belum bisa kesampaian, namun pencapaian Anthony Sinisuka Ginting dkk. di tahun ini lebih baik dibandingkan hasil dua tahun lalu di Gold Coast, Australia, dimana Indonesia bahkan gagal melewati fase penyisihan. 

Di babak "4 Besar" ini, Indonesia sempat memimpin keunggulan setelah ganda putra Kevin Sanjaya Sukamujo-Marcus Fernaldi Gideon sukses mengatasi pasangan Takeshi Kamura-Keigo Sonoda 21-14, 21-18. Kemenangan tersebut menjadi yang kesembilan dari 15 kali pertemuan. 

Di gim pertama, Kevin-Marcus langsung tampil "in". Mereka tidak memberikan kesempatan bagi lawan untuk bisa mengembangkan permainan. Namun di gim kedua, permainan justru berlangsung sengit. Selisih poin antara kedua pemain tidak terpaut jauh. 

"Kami lebih siap di gim pertama. Karena sudah sering bertemu mereka, kami juga sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga sebaliknya. Kali ini lebih siap dan lebih sabar," ucapnya. 

Di gim kedua, permainan lebih sengit di kedudukan 15-15. Wasit sempat menyatakan fault sambaran Kevin, namun itu tidak terlalu berpengaruh. 

"Setelah dilihat memang tidak masuk, jadi raket saya pasti melewati net. Tapi tidak masalah, kami fokus lagi ke pertandingan," tutur Kevin.
 
Sebagai partai pembuka, menurut Marcus, mereka memang diwajibkan menang dan mereka pun senang karena bisa menyumbangkan satu poin untuk tim. 

Unggul 1-0, Indonesia tidak mampu menjaga keunggulan di dua partai selanjutnya. Di tunggal putri, Gregoria Mariska Tunjung belum mampu melewati  Akane Yamaguchi. Meski memberikan perlawanan, namun Gregoria akhirnya tunduk 13-21, 13-21. Kedudukan pun kembali imbang 1-1. 

Jepang berbalik memimpin 2-1 setelah Anthony Sinisuka Ginting juga kalah ditangan Kento Momota setelah berusaha selama lebih dari satu jam. Anthony pun kalah 17-21, 19-21. 

Kekalahan Indonesia pun akhirnya terjadi setelah di partai penentu, Greysia Polii-Apriyani Rahayu kembali gagal mengatasi pasangan Mayu Matsumoto-Wakana Nagahara. Untuk kali ketiga, Greysia-Apriyani kandas 15-21, 17-21 atas pasangan nomor satu dunia tersebut. 

Tiongkok ke final

Sementara itu, Tiongkok mencapai final setelah menang telak 3-0 atas Thailand. Tiongkok langsung mengincar gelar ke-11 mereka di Piala Sudirman 2019. Ini menjadi final ke-13 mereka di turnamen beregu campuran paling bergengsi di dunia. 

Pencapaian Tiongkok di tahun ini lebih baik dibandingkan 2017 lalu dimana mereka hanya finis di posisi runner-up setelah dikandaskan oleh Korea. Kekalahan mereka di tahun lalu merupakan kali kedua sejak 1993 lalu. Kali ini mereka kembali ingin merebut posisi tertinggi. 

Poin kemenangan Tiongkok di babak semifinal kemarin langsung peroleh di tiga partai pertama. Poin pertama disumbangkan oleh sektor ganda campuran, dimana Zheng Siwei-Huang Yaqiong belum bisa dikalahkan oleh pasangan Dechapol Puavaranukroh-Sapsiree Taerattanachai. Pasangan nomor dua kedua tersebut mengoleksi kemenangan mudah 21-18, 21-7 dalam tempo 39 menit. 

Di pertandingan ini Dechapol-Sapriree tidak bisa mengulang performa mereka seperti di Singapore Open lalu, ketika mereka sukses mengalahkan Zheng-Huang. Sempat memberikan perlawanan di gim pertama, dengan mencoba menarik Zheng ke belakang, di gim kedua ganda negeri Gajah Putih tersebut justru tidak bisa memulai start dengan baik. 

Zheng pun dengan leluasa melesakan serangan dan membawa permainan ke dalam pola mereka. Sapsiree pun mengakui jika mereka tidak mampu mengulang momentum seperti di gim pertama. 

"Kami hanya mampu menahan serangan mereka, tanpa bisa melancarkan serangan balik. Zheng pun dengan leluasa mengontrol permainan kami dan sebaliknya tidak mampu menjalankan taktik kami dengan baik," ucapnya. 

Lalu di tunggal, Shi Yuqi yang diistirahatkan di babak perempat final, kemarin tampil impresif. Meski harus kerja keras, Shi sukses mengatasi perlawanan Kantaphon Wangcharoen dengan skor akhir 21-15, 26-24. 
Meski di atas kertas, Kantaphon tidak diunggulkan, dia tetap tidak mau menyerah begitu saja. Hal itu dibuktikannya di gim kedua, dimana dia tidak mau begitu saja diintimidasi oleh lawan. 

Lewat permainan reli dia mencoba meraih poin sebanyak mungkin di setengah gim kedua. Sayang di poin-poin kritis, Kantaphon gagal menahan Yuqi dan tidak mampu memperpanjang napas Thailand. 

"Kami langsung menganalisa permainan setelah kekalahan di turnamen sebelumnya dan kami sangat mempersiapkan diri untuk laga ini. Lawan pun keliatan kini lebih memiliki kepercayaan yang tinggi setelah sebelumnya mampu mengalahkan kami untuk kali pertama kemarin. Kekalahan kemarin (Singapore Open 2019) menjadi pelajaran berharga bagi kami," tuturnya.

Pelatih tunggal Tiongkok, Xia Xuanze mengatakan jika dirinya sangat mengapresiasi timnya. Pasalnya, dia menilai perjalanan mereka kali ini menuju final tidak selalu mudah. 

"Ini bukan langkah yang mudah untuk mencapai final. Saya berbahagia untuk semua pemain. Karena tim ini sangat mudah, karena kebanyakan mereka lahir setelah tahun 1996. Tapi sejak awal saya yakin bisa mereka memberikan 100 persen kemampuan terbaiknya saat ini," tukasnya.***
 

Bagikan: