Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Sedikit awan, 20 ° C

Piala Sudirman 2019, Jangan Sampai Tunggal Putri Jadi Pengganjal

Wina Setyawatie
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Tunggal putri menjadi sektor terlemah di Tim Piala sudirman Indonesia 2019. Dua tunggal Indonesia Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani dinilai masih butuh untuk memperkuat daya tahan mereka di lapangan, mengingat dua lawan Indonesia di fase penyisihan memiliki kekuatan yang seimbang. 

Dibandingkan sektor lainnya, tunggal putri secara peringkat memang memiliki ranking terkecil. Gregoria saat ini menempati posisi 15 dunia, sedangkan Fitriani di posisi 29 dunia. Sebaliknya sektor lain dari skuad Indonesia rata-rata menempati ranking Top 10 dunia.

Dengan skenario bisa memetik kemenangan di sektor ganda putra, tunggal putra/ganda putri, dan campuran, sektor tunggal putri menjadi skenario terakhir untuk bisa menggenapi kemenangan. Jangan sampai justru sektor ini menjadi pengganjal. 

Bila melihat dua negara pesaing lainnya di fase grup, Denmark yang menurunkan Line Hojmark Kjaersfeldt (peringkat 19) dan Mia Blichfeldt (22) memiliki kekuatan yang merata. Di atas kertas, Gregoria memang sementara unggul atas Line.

Namun, kemenangannya di Denmark Open tahun lalu diraihnya dengan susah payah dalam tiga gim ketat. Begitu juga dengan melawan Mia. Gregoria sementara juga unggul 2-1 dari rekor pertemuan, tapi di pertemuan terakhir dia mampu takluk di tangan Mia. Meski berakhir dua gim, namun poinnya cukup ketat 16-21, 20-22.

Sedangkan Fitriani, sejauh ini memiliki keunggulan 2-0 atas Mia. Namun, dua kemenangan itu diraihnya dua tahun lalu di Piala Sudirman. Setelah itu keduanya belum pernah bertemu lagi dalam dua tahun ini.

Dengan Line, sejauh ini keduanya sudah pernah saling mengalahkan. Pada pertemuan terakhir di Indonesia Master 2019, Fitriani mengantongi kemenangan perdananya atas Line. 

Jika Denmark memiliki kekuatan merata, Inggris mungkin hanya menumpukan harapannya di tangan Chloe Birch (48). Mengingat cadangannya, Abagail Holden belum memiliki peringkat dunia BWF.

Di antara dua tunggal putri Indonesia ini, baru Gregoria yang pernah bertemu dengan Chloe. Dari dua kali pertemuan, di Orleans International 2016 dan Thailand Open 2018, kemenangan menjadi miliki tunggal putri asal klub Mutiara Cardinal Bandung.

Pelatih tunggal putri PBSI Rionny Mainaky mengatakan memang di atas kertas, dua pemainnya dinilainya cukup mampu bersaing. Karena secara kekuatan dari tiga negara yang tergabung di Grup 1B dilihatnya memiliki kualitas yang merata.

"Namun yang jadi catatan adalah daya tahan pemain. Saya biasakan anak-anak untuk bisa bermain lebih lama, baik di posisi depan ataupun belakang, dan terutama di poin-poin yang menentukan. Jadi dengan sering dilatih, maka mereka otomatis akan memiliki power dan kecepatan yang lebih baik, dan ketahanannya pun terbentuk. Hingga mereka bisa menguasai permainan," tuturnya sebelum keberangkatan ke Tiongkok.
 
Terkait dengan siapa yang akan diturunkan di laga pertama melawan Inggris, Rionny mengaku akan melihat terlebih dahulu kesiapan pemainnya. Terutama Gregoria yang sempat mengalami cedera pinggang kambuhan.***

Bagikan: