Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Bulan Puasa Tetap Latihan, Targetnya Piala Sudirman

Wina Setyawatie
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

JAKARTA, (PR).- Setelah sukses menjadi juara umum di turnamen New Zealand Open 2019 dengan merebut dua gelar, Indonesia langsung tancap gas untuk persiapan menuju kejuaraan beregu campuran, Sudirman Cup 2019 yang akan berlangsung di Nanning, Tiongkok, 19-26 Mei mendatang. Mengingat persiapan yang mepet, sekitar 10 hari, maka pemain hanya difokuskan untuk menjaga kondisi saja. 

Indonesia memang merindukan gelar juara Sudirman. Mengingat sudah cukup lama trofi kejuaraan yang mengambil nama legenda bulutangkis Indonesia, Dick Sudirman itu tidak pulang kandang. Dari 15 kali penyelenggaraan Piala Sudirman, Indonesia baru sekali juara, yakni di edisi perdananya pada 1989 lalu di Jakarta. 

Sejauh ini baru tiga negara yang mampu merengkuh gelar di turnamen paling bergengsi untuk kategori beregu tersebut. Selain Indonesia, ada Tiongkok dan Korea. Tiongkok mendominasi kejuaraan ini dengan 10 kali gelar, lalu diikuti Korea dengan empat kali gelar, dan Indonesia.
 
"Di waktu persiapan yang sempit ini, yang terpenting adalah jaga kondisi. Selain mereka juga tetap harus menjalani latihan seperti biasa. Tahun ini  tidak ada simulasi atau "team building", karena pas puasa juga waktunya. Kami hanya meminta para pemain untuk fokus menjaga kondisi kesehatan maupun fisik mereka hingga hari H nanti, selain kami juga terus bangun atmosfer kebersamaan tim dengan menjaga motivasi dan tekad mereka," katanya saat dihubungi "PR" Online, Senin 6 Mei 2019. 

Susy mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada pemain untuk menjaga kondisi mereka. Karena dia menilai hanya pemainlah yang tahu sampai mana kekuatan mereka. 

"Termasuk soal puasa. Saya memberikan pemain kebebasan untuk menjalankan ibadah puasa, tapi mereka juga harus tetap menjaga profesionalitasnya dengan tetap berlatih sesuai program yang diberikan. Kekuatan badan mereka, ya hanya mereka sendiri yang tahu apakah tetap kuat puasa atau tidak dengan porsi latihan yang diberikan. Karena memang tidak ada perubahan jam latihan maupun porsinya," tegasnya. 

Libur sehari

Pihaknya hanya memberikan keringanan untuk beberapa pemain yang menjalankan ibadah puasa di hari pertama saja, yakni dengan memberikan libur latihan. Namun, esoknya, menurut Susy semua harus berlatih seperti biasa, disesuaikan dengan kebutuhan tim dan ketersediaan lapangan di PBSI.

"Paling untuk kebersamaan, kita harus cari waktu khusus di luar jam latihan mereka. Buka bersama mungkin, sekaligus ada "flashback" untuk mengingatkan kembali apa motivasi kita. Mungkin kita akan panggil motivator atau legenda bulutangkis untuk sharing. Berusaha tetap menjaga kekompakan dan tekad pemain," ujarnya. 

Indonesia tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bisa memulangkan trofi Piala Sudirman ke tanah air. Waktu 30 tahun dinilai sudah cukup bagi Piala Sudirman melanggang buana ke negara lainnya. Saat ini, menurut Susy, saatnya Indonesia rebut kembali. 

Di atas kertas, secara kekuatan peluangnya 50-50. Mengingat Indonesia menempati daftar unggulan ketiga. 

"Di atas kita masih ada Jepang dan Tiongkok yang menjadi unggulan pertama dan kedua. Tapi, peluang tetap ada. Karena rasanya 30 tahun waktu yang cukup lama. Ada tiga target yang harus dipenuhi para pemain secara bertahap. Target pertama, yakni berusaha lolos dari fase grup dulu. Lalu, karena kita unggulan ketiga, maka minimal harus bisa mencapai semi final. Meskipun pada akhirnya, harapan terbesar adalah mengembalikan lagi Piala Sudirman ke tanah air. Kita "step by step" saja," imbuhnya. 

20 pemain

Tim Piala Sudirman Indonesia yang berjumlah 20 pemain, rencananya akan bertolak menuju Nanning pada 15 Mei 2019. Rencana tersebut berubah dari sebelumnya berangkat 16 Mei 2019. Perubahan tersebut dilakukan untuk penyegaran kondisi pemain. 

"Karena kalau berangkat 16 Mei pesawatnya tengah malam. Kita transit di Hong Kong 3-4 jam, lalu kembali terbang ke Nanning. Hingga sampainya disana pagi. Perjalanan jauh tentu kondisi pemain harus diperhatikan. Kalau berangkat 15 Mei, penerbangannya pagi pukul 08.40 WIB, jadi sampai Hong Kong sore, dan lanjut ke Nanning sampai sekitar pukul 22.00 WIB. Pemain pun begitu sampai tinggal istirahat, besoknya latihan lagi," tukasnya. 

Sejauh ini tidak ada kendala yang ditemui. Susy mengaku pihaknya telah mempersiapkan segala hal selama di Tiongkok nanti. 

"Tidak ada kendala sejauh ini. Cuaca, "no problem". Suhunya hampir sama dengan Jakarta 27 derajat, bahkan disana lagi panas juga. Paling kita menyesuaikan dengan kondisi lapangan dan makanan juga. Apalagi pasti ada pemain yang puasa,"  ucapnya menambahkan.***
 

Bagikan: