Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian cerah, 19.6 ° C

Diuntungkan Wasit, Kevin-Marcus ke Final Kejuaraan Asia 2019

Wina Setyawatie
GANDA putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon berlaga di babak semi final Kejuaraan Asia 2019. Mereka melangkah ke final usai menang 15-21, 21-17, 21-15 atas Takeshi Kamura-Keigo Sonoda dari Jepang pada pertandingan yang berlangsung di Wuhan Sports Center, Tiongkok, Sabtu 27 April 2019.*/PBSI
GANDA putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon berlaga di babak semi final Kejuaraan Asia 2019. Mereka melangkah ke final usai menang 15-21, 21-17, 21-15 atas Takeshi Kamura-Keigo Sonoda dari Jepang pada pertandingan yang berlangsung di Wuhan Sports Center, Tiongkok, Sabtu 27 April 2019.*/PBSI

WUHAN, (PR).- Ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon membuka peluang untuk merebut gelar kedua di tahun ini setelah melaju ke babak final Kejuaraan Asia 2019. Mereka menaklukan ganda Jepang, Takeshi Kamura-Keigo Sonoda di semi final.

Bertanding di Wuhan Sports Center, Tiongkok, Sabtu 27 April 2019, The Minions menang 15-21, 21-17, 21-15. Ini menjadi final pertama mereka setelah tiga turnamen berturut-turut All England, Malaysia Open, dan Singapore Open kandas sebelum semi final. Kemenangan ini juga kembali memperlebar selisih keunggulan Kevin-Marcus atas Kamura-Sonoda menjadi 8-5.

Pada pertandingan ini, Kevin-Marcus belum mendapatkan ritme permainan mereka di gim pertama. Baru di gim kedua mereka bisa memberikan perlawanan, kendati sempat tertinggi di awal. Setelah melewati interval mereka pun tak terbendung.

Di gim ketiga, ada satu insiden yang membuat pasangan Jepang tersebut mengajukan protes kepada wasit. Pengembalian mereka dinilai sudah mengenai badan Marcus, tapi tidak dinyatakan "fault" oleh wasit. Sebaliknya saat bola jatuh diluar arena pertahanan Kevin-Marcus, justru poin untuk Indonesia.

Saat diprotes, wasit mengatakan tidak melihat jika bola sudah mengenai badan Marcus, dan hakim garis menyatakan bola jatuh di luar lapangan. Keputusan wasit tersebut adalah mutlak dan tidak bisa diubah kembali. Jepang pun harus menerimanya dengan kecewa. 
Kejadian itu mempengaruhi performa Kamura-Sonoda. Permainan mereka pun berubah. Kevin-Marcus pun memanfaatkan kondisi tersebut dan merebut kemenangan.

"Di gim pertama mereka 'start'-nya lebih siap dari kami. Sebaliknya kita masih banyak melakukan kesalahan sendiri. Waktu awal-awal gim kedua pun sebenarnya kami masih berusaha untuk keluar dari tekanan lawan, hingga akhirnya setelah interval, kami mulai menemukan permainan sendiri," ucap Marcus. 

Pada gim ketiga, diakui Kevin, sebenarnya bola memang mengenai badan Marcus. Hanya saja mereka diuntungkan dengan keputusan wasit. 

"Di gim ketiga, permainan masih ramai terus dan tadi kami hoki juga karena sebenarnya memang" fault", kena badan koh Sinyo (Marcus), tapi wasit tidak bisa mengubah keputusan," katanya.

Marcus menilai jika dirinya dan Kevin diuntungkan dengan putusan wasit. Karena hal tersebut membuat Kamura-Sonoda dinilainya kehilangan konsentrasi. 
"Pertemuan kami memang selalu ramai. Tapi sepertinya mereka sudah hilang konsentrasi setelah kejadian" touch" itu," ungkapnya. 

Di final, siapapun lawannya, menurut Marcus harus diwaspadai. Pasalnya setelah mencapai final, tidak mungkin calon lawan mereka mau kalah begitu saja dinilainya. 
"Sudah final, pasti mereka (calon lawan) pasti akan ngotot. Jadi lawan siapapun nanti, kami harus siap," katanya. 

Gagal final

Satu tiket final lainnya dari ganda putri akhirnya melayang. Pasangan Rizki Amelia Pradipta-Della Destiara Haris untuk kali pertama gagal mengatasi perlawanan wakil tuan rumah, Chen Qingchen-Jia Yifan. 

Di tiga pertemuan sebelumnya Rizki-Della sukses memetik kemenangan. Namun semua kemenangan itu diraih mereka setahun lalu sebelum dipecah. 

Pada pertandingan kali ini Rizki-Della dipaksa menyerah 20-22, 12-21 setelah berjuang pada 43 menit. Gim pertama berlangsung ramai. Saling kejar poin terjadi jelang akhir permainan. Sayang mereka kurang bisa menahan, meski bisa mengejar dari 18-20 menjadi 20-20 untuk memaksakan "duece". Mereka akhirnya kalah tipis. 

Di gim kedua, permainan Rizki-Della menurun. Poin mereka pun terpaut sangat 5-15. Meski bisa merebut poin demi poin secara perlahan, selisih angka yang terlalu jauh membuat mereka tidak bisa lagi mengejar Chen-Jia.***

Bagikan: