Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Gregoria Mariska dan Fitriani Sudah tidak Takut Lagi

Wina Setyawatie
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Ada perubahan menggembirakan dari sektor tunggal putri. Meski di dua turnamen terakhir, Malaysia dan Singapore Open 2019 belum mencapai hasil maksimal, secara performa, Gregoria Mariska dan Fitriani dinilai sudah tidak "takut" lawan lagi.
 
Tidak takut lawan lagi, menurut Pelatih Tunggal Putri Pelatnas PBSI Riony Mainaky dalam artian sudah mau melawan. Hal itu pertama yang disadarinya di Malaysia Open 2019 lalu, ketika mendampingi. 

Keduanya memang belum bisa menembus babak pertama turnamen BWF Super 750 tersebut, tapi Gregoria dan Fitriani dinilainya sudah mau memberikan perlawanan ketat atas pemain yang memiliki level di atas mereka, seperti Ratchanok Intanon (Thailand) dan Sung Ji Hyun (Korea). Kedua anak didiknya, dinilai Riony sudah menunjukkan bahwa mereka siap untuk "perang" sejak pemanasan. 

"Jadi saya lihat dari latihan yang cukup singkat untuk dua kejuaraan ini. Pertama di Malaysia Open mereka sudah mau fight. Tidak lagi takut lawan. Masuk lapangan sudah siap, meski mereka levelnya masih di bawah lawan. Dari situ, saya tahu apa kekurangan mereka dan langsung membenahi," katanya. 

Lalu di Singapore Open 2019, kekurangan itu coba diperbaiki, kendati keduanya tetap belum bisa menembus babak pertama. Dari situ Riony pun sadar jika anak didiknya masih lemah pada fisik.

"Dari dua turnamen itu saya jadi tahu kekurangan masing-masing pemain. Fitriani, memang ada sedikit ketahanan fisik yang masih kurang. Terutama otot kakinya. Begitu juga Gregoria, otot besar dan kecilnya juga masih kurang. Makanya dalam satu tahun (jelang Olimpiade) kita coba memberbaiki. Kalau progres mereka cepat, maka dalam dua pekan harusnya sudah ada perkembangan. Kekurangan dalam fisik ini yang membuat mereka jadi bermain tidak sabar dalam pertandingan. Kurang pengalaman bermain," tukasnya saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta. 

Guna meningkatkan performa fisik kedua pemain utamanya tersebut, maka Riony mengaku sudah meminta kepada latihan pelatih fisik untuk mempercepat peningkatan kondisi fisik. Salah satu latihannya adalah dengan berlari, shadow, atau weight trainning (angkat besi).

"Jadi kita hasil latihan shadow. Main maju mundur ke depan-belakang, menyerang, lalu harus motong. Kalau fisik mereka tidak yakin, maka pasti akan lebih cepat buat kesalahan. Dari latihan itu kita bisa lihat ketahanan mereka sampai sejauh mana. Makanya saya kasih modal memperbanyak pola permainan. Saat mencoba latihan ini, pertama-tama mereka masih sudah salah-salah mainnya karena kelelahan. Tapi sekarang sudah berkurang. Kalau biasanya dalam satu momen mereka buat 4-5 kesalahan, kali ini hanya sekali kesalahan dan itu berkat meningkatan latihan fisik," ujarnya.

Kesalahan yang keliatan sangat berkurang adalah menerimaan bola pertama dan kedua. Bila biasanya banyak kesalahan karena tidak bisa mengatasi pengembalian tanggung. Sekarang sudah bisa teratasi. 

"Selain peningkatan fisik, kita juga belajar dari review video permainan. Terutama permainan pemain Jepang, yang secara postur sama dengan Indonesia. Diingatkan terus, jadi pada saat bertemu situasi begitu tidak langsung mati," tuturnya.

Berdasarkan pengalaman

Menurutnya, apa yang diberikannya kepada para pemainnya berdasarkan pengalamannya melatih di Jepang. Mengingat tipikal pemain Indonesia tidak jauh berbeda dengan Jepang secara postur. 
"Memang ada yang mengeluh. Tapi saya selalu cerita, di Jepang pemain yang top-top tidak pernah mengeluh meski latihan berat. Jadi saya minta mereka menikmatinya saja. Saya berbagi pengalaman agar para pemain bisa merasa bahwa dalam keadaan apapun, mereka harus bisa tahan bila ingin juara. Saya juga selalu bilang, ayo jangan malas dulu. Fokus, karena kalau disiplin pasti ada hasilnya juara. Saya beri contoh kepada mereka, jadi kalau pelatihnya rajin, masa atletnya tidak," tegasnya.

Riony mengaku akan terus memantau atletnya dalam sepekan ini. Bila progres peningkatan fisik mereka bagus, maka dirinya mengaku akan menambah volume latihan lagi. 

Lalu bagaimana target jangka pendek sektor tunggal putri, Riony mengaku dia belum menghitungnya. Dia mengatakan masih harus melihat turnamen apa saja yang bisa jadi patokan. 
"Namun, kalau melihat rangking anak-anak, seharusnya mereka sudah harus bisa menembus minimal babak "8 Besar". Satu lagi, targetnya kalah bertemu lawan seimbang atau dibawah harus menang. Kalau lawan yang levelnya diatas berusaha bisa menang. Kalau mereka sudah bisa menang melawan pemain yang level atas, maka seharusnya mereka juga punya peluang untuk juara," katanya menambahkan. 

Sementara itu terkait dengan strategi untuk meloloskan dua wakil ke Olimpiade Tokyo 2020, mengingat para pemainnya memiliki nilai poin yang belum terlalu tinggi, buat Riony terpenting adalah dua pemain utamanya itu bisa masuk dalam "entry" turnamen dulu. 
"Kalau bisa masuk dalam "entry" pemain, baru kita persiapkan. Minimal bisa perempat final. Kalau sudah tercapai, baru program ke semi final dan final. Karena main di turnamen pun bila tidak dapat poin percuma. Untuk level mereka seharusnya sudah bisa bersaing di BWF Super 750 dan 1.000. Memang secara persaingan lebih berat, tapi ini kita berbicara Olimpiade. Kalau juara ya harus begitu. Kalau hanya ikut dan juara di Super 300 dan 500 saja, namanya hanya cari poin," pukasnya.***

Bagikan: