Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

FIFA Tidak Bahas KLB, PSSI Laporkan Kasus-kasus

Wina Setyawatie
Presiden FIFA Giani Infantino.*/REUTERS
Presiden FIFA Giani Infantino.*/REUTERS

KONGRES Luar Biasa (KLB) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi hal yang ditunggu-tunggu semua pemangku kepentingan dalam sepak bola nasional. Dengan KLB, PSSI diharapkan bisa mengubah dunia persebakbolaan tanah air menjadi lebih mengigit di arena internasional.

Kelumit masalah di dalam PSSI selama ini telah menyedot perhatian dunia luar. Salah satunya tentu saja Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). Demi pelaksanaan KLB, sebelumnya PSSI memang berencana berkonsultasi dengan FIFA di kantornya di Zurich, Swiss.

Namun, Kamis, 11 April 2019, FIFA telah datang dan mengadakan pertemuan dengan PSSI. Akan tetapi, KLB yang sedianya akan dilakukan untuk memilih Ketua Umum PSSI yang baru justru tidak dibicarakan.

Menurut Sekretaris Jendral (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha Destria, dalam jumpa pers di Kantor PSSI, Menara Komite Olimpiade Indonesia (KOI), FX.Sudirman Jakarta, sore hari usai pertemuan, perwakilan FIFA dan AFC yang datang telah menyatakan bahwa KLB sepenuhnya merupakan kewenangan Komite Eksekutif PSSI. Exco PSSI yang dinilai FIFA berhak mengajukan kapan persiapan KLB akan dimulai.

KANTOR pusat FIFA di Zurich, Swiss.*/REUTERS

Kedatangan perwakilan FIFA, yakni Luca Nicola dan Rolf Tanner, serta satu perwakilan AFC, Purushottam Kattel, justru untuk memastikan bahwa di tengah fokus PSSI mempersiapkan KLB jangan sampai program-program pengembangan terbengkalai. Termasuk, review ulang regulasi sesuai revisi Statuta FIFA 2018.

"Kedatangan mereka tidak untuk membicarakan KLB, namun lebih memastikan program pengembangan berjalan dan regulasi diperbaiki. Terkait KLB, FIFA menyerahkan sepenuhnya kepada exco untuk menentukan tanggal pelaksanaannya. Ini merupakan follow up pertemuan PSSI dan FIFA dua pekan lalu sebenarnya," katanya.

Menurut Tisha, dengan kejelasan status KLB ada di tangan exco, maka secepat mungkin exco akan menggelar rapat. PSSI pun tidak perlu lagi pergi ke Markas FIFA di Zurich untuk mendapatkan asistensi. 

"Iya, enggak perlu lagi ke Zurich. Kedatangan mereka sudah menegaskan kewenangan ada di rapat exco. Setelah Pemilu Presiden, segera kita gelar. Mungkin paling cepat 25 April 2018, atau sekitar tanggal 22-28 April 2019, lah. Karena setelah Pilpres ada tanggal merah," ucap Tisha. 

FIFA ingatkan bahwa program PSSI harus tetap berjalan pada jalurnya

PSSI.*/DOK. PR

Kedatangan FIFA dan AFC ini ditujukan agar Indonesia tidak kehilangan kepercayaan dari dua lembaga sepakbola internasional tersebut karena berulang kali menggelar kongres. Sebab, Indonesia adalah salah satu dari dua negara percontohan yang ditunjuk FIFA untuk percontohan program pengembangan, pemain, wasit, pelatih, dan lain-lain. 

FIFA, menurut Tisha, juga berpesan kepada PSSI untuk terus mencanangkan dan melaksanakan visi 2024 yang telah disahkan di kongres 2018 dan 2019. Harapannya, pelaksanaan program pengembangan pelatih, wasit, dan pemain yang telah dilakukan tetap berjalan dengan lancar, tetap on track dengan situasi yang ada. 

"Dalam pertemuan juga, saya memberikan update mengenai situasi yang ada di organisasi, salah satunya adalah kasus-kasus yang tengah berjalan di PSSI. Kemudian, keputusan-keputusan dari komite disiplin  yang memang telah kita lakukan sebelumnya terkait beberapa pihak. Kemudian FIFA memberikan pesan agar statuta PSSI dan seluruh regulasi PSSI harus di-review dengan baik karena ini menjadi salah satu agenda PSSI yang kita sahkan di kongres," imbuhnya.***

Bagikan: