Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Cacat Moral Membuat Sepak Bola Indonesia Tidak Dipercaya

Abdul Muhaemin
Pengaturan skor.*/DOK. PR
Pengaturan skor.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Banyaknya kasus pengaturan skor yang terjadi di jagat sepak bola Indonesia membuat banyak pihak menyayangkannya dan geram. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang ada di lingkungan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) terindikasi terlibat.

Anggota Exco PSSI sudah ada yang terjerat dan ditahan. Yang terbarum Pelaksana Tugas Ketua PSSI Joko Driyono baru saja ditahan Satuan Tugas Anti Mafia Bola.

Dengan adanya keterlibatan orang-orang PSSI, masyarakat dan pecinta sepak bola Indonesia mulai meragukan kualitas praktik persepakbolaan Indonesia.

Hal itu diakui pengamat sepak bola Tommy Welly dalam acara bertajuk Membangun Masa Depan Sepak Bola Indonesia Bersama Satgas Anti Mafia Bola. Acara digelar di Hotel El Royale, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis 28 Maret 2019.

Tommy Welly menilai, Satgas Anti Mafia Bola yang dibentuk kepolisian telah melakukan hal yang optimal dalam urusan “bersih-bersih” sepak bola Indonesia. Hal itu secara perlahan bisa membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat.

“Pasti terjadi penurunan kepercayaan masyarakat dan sudah terjadi, tapi tidak boleh dibiarkan. Adalah hal yang normal jika kurva (kepercayaannya) turun tapi jangan diabaikan. Cara menaikkannya gimana? Satgas bersih-bersih, keluarga sepak bola juga harus bersih-bersih, klub, asprov, voters harus bersih diri supaya ke depannya kepercayaannya naik lagi,” tutur Tommy Welly.

JOURNAIST Community mengadakan acara Focus Group Discussion bersama Satgas Anti Mafia Bola di Hotel El Royale, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis 28 Maret 2019. Acara itu dihadiri Ketua Satgas Anti Mafia Bola Hendro Pandowo, Pengamat Sepak Bola Nasional Tommy Welly, Manajer Persib Umuh Muchtar, Ketua PSSI Jawa Barat Tommy Apriantono, dan Asosiasi Advokat Indonesia Wenda S Aluwi.*/ABDUL MEHAEMIN/PR

Dia juga meminta PSSI melakukan pembersihan praktik kotor sebelum berjalannya bergulirnya kompetisi musim 2019. Tujuannya, agar kasus-kasus pengaturan skor pada tahun-tahun sebelumnya tak terulang. Saat kompetisi sudah berjalan tetapi kasus-kasus masa lalu dibiarkan dan tanpa ada penegakan hkum, beban kasus pengaturan skor masa lalu tidak otomatis tergerus oleh jalannya kompetisi.

Kasus pengaturan skor di jagat sepak bola Indonesia diakui Tommy Welly juga bukan hanya terjadi pada musim 2018. Pada musim-musim sebelumnya, aksi culas itu sudah pasti terjadi. Namun menurut dia, sebaiknya kasus-kasus yang terjadi pada 2018 bisa dibersihkan dan diselesaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke kasus pengaturan skor sebelum 2018.

“Tahun lalu, yang paling terdekat, yang tahun lalu saja, 2018, setidaknya penegakkan hukumnya ada dan terjadi. lalu tahapan KLB. Jadi, menurut saya sudah cacat kredibelitas dan integritasnya. Sudah kehilangan marwah dan kepercayaan di hadapan publik atau pecinta sepak bola,” ujarnya.

Apa kabar pemilik hak suara?

Bukan hanya PSSI yang menurut Tommy Welly harus melakukan aksi pembersihan praktik kotor, klub-klub yang berkompetisi di sepak bola Indonesia juga harus melakukan hal yang sama.

Klub yang juga merupakan pemilik hak suara harus berani menentang jika ada keputusan yang dianggap keliru.

Hal itu berlaku dalam segala keputusan Komisi Eksekutif PSSI lantaran integritas orang-orang yang ada di Komisi Eksekutif PSSI saat ini sudah jatuh. Sehingga, jika perlu ada perdebatan terhadap suatu keputusan, pemilik hak suara harus bisa menentang.

“Saya menggugah voters berpikir tentang KLB yang akan datang, apakah pilihan yang tepat, itu yang harus kita gugah, supaya voters ini bisa berpikir, ini kondisinya darurat. Exco yang ini menurut saya kalau bicara apapun tidak kredibel, lihat yang tersangkut (kasus) ada 50%, itu baru yang terungkap,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi cacat moral Komisi Eksekutif PSSI akibat kasus pengaturan skor merupakan hal yang sudah tidak normal. Jika FIFA saja memerangi pengaturan skor, lantas mengapa anggota PSSI malah terlibat dan menjadi dalang.

“Menurut saya, harus dipikirkan bahwa ini kondisi yang tidak normal, bukan (bermaksud) tidak menghormati, voters juga bisa menyampaikan (protes )karena FIFA juga memerangi match fixing. Rapor buruk Exco saat ini adalah match fixing dan itu adalah hal tabu dalam sepak bola,” tuturnya.***

Bagikan: