Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Langit umumnya cerah, 22.3 ° C

FORKI Jabar Berlakukan Mekanisme Promosi Degradasi

Arif Budi Kristanto
null
null

BANDUNG, (PR).- Mekanisme promosi degradasi atlet diberlakukan Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia (FORKI) Jawa Barat dalam penentuan komposisi tim inti karate Jabar untuk menghadapi babak kualifikasi PON XX yang direncanakan digelar September 2019 mendatang. Saat ini, sebanyak 34 atlet atau komposisi 200 persen menjadi anggota tim pelatda Jabar.

"Saat ini satu kelas masih diisi dua atlet untuk menjaga persaingan di antara atlet. Kami masih belum menentukan komposisi tim inti untuk babak kualifikasi PON," ujar Pelatih Kepala Tim Karate Jabar Dikdik Nugraha di GOR Sasakawa, komplek olahraga Pajajaran, Jalan Pajajaran Kota Bandung, Minggu 24 Maret 2019.

Dikdik mengatakan, saat ini 34 atlet tim pelatda tersebut sedang dipersiapkan untuk menghadapi pelaksanaan seleksi nasional (seleknas) tim karate Indonesia untuk SEA Games 2019 di Manila, Filipina. Seleknas SEA Games akan digelar di Cilangkap, Jakarta, pada Sabtu-Minggu 30-31 Maret 2019.

"Untuk pelatda PON, sebenarnya kami masih melaklukan latihan dengan sistem desentralisasi. Sentralisasi latihan yang saat ini dilakukan adalah  untuk menghadapi seleknas. Setelah seleknas, atlet akan kembali ke daerah masing-masing untuk berlatih," katanya.

Hanya 17 atlet

Dikdik menambahkan, pihaknya berencana untuk menetapkan komposisi tim inti karate Jabar saat sudah mendekati waktu pelaksanaan babak kualifikasi PON XX. Dia memastikan, paling lambat satu bulan sebelum pelaksanaan BK PON XX komposisi tim inti Karate Jabar sudah terbentuk.

"Nanti tim inti akan berjumlah 17 atlet atau satu kelas satu atlet. Kalau untuk BK PON XX rencananya digelar di Nusa Tenggara Timur pada September 2019," tutur Dikdik.

Dia menilai, pemanfaatan pelatih luar negeri untuk menambah porsi latihan atlet bukan hal sangat urgent dilakukan seperti halnya pada persiapan PON XIX tahun 2016 silam. 

"Untuk penggunaan pelatih asing, kami lihat perkembangan dulu. Kalau memang diperlukan, kenapa tidak. Tapi saat ini akan lebih baik apabila dana untuk pelatih asing digunakan untuk melakukan uji coba atau tryout ke luar negeri seperti persiapan PON XIX tahun 2016 lalu," ucapnya.

Pencapaian karateka Jabar di PON 2016 diiringi catatan bersejarah. Raihan 5 medali emas menjadi jumlah terbanyak sepanjang partisipasi Jabar pada cabang olah raga karate pada pesta olah raga paling bergengsi skala nasional itu. Ditambah tiga perak, dan dua perunggu, Jabar mampu mengungguli seteru beratnya, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, hingga Sumatera Utara.

FORKI Jabar bertekad mempertahankan prestasi tersebut pada PON XX/2020 di Papua.***

Bagikan: