Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 18.5 ° C

Pemilihan Gusti Randa sebagai Pemimpin PSSI Dianggap Dagelan

Wina Setyawatie
ANGGOTA Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa, diberi tugas untuk menjalankan roda kepemimpinan PSSI sebagai Plt Ketua Umum, menggantikan Joko Driyono yang non-aktif sejak Selasa, 19 Maret 2019. Gusti diberi mandat untuk mengawal jalannya kompetisi Liga 1 musim ini dan menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) pemilihan Ketua Umum selepas Pemilu Presiden, April mendatang.*/WINA SETYAWATIE/PR
ANGGOTA Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa, diberi tugas untuk menjalankan roda kepemimpinan PSSI sebagai Plt Ketua Umum, menggantikan Joko Driyono yang non-aktif sejak Selasa, 19 Maret 2019. Gusti diberi mandat untuk mengawal jalannya kompetisi Liga 1 musim ini dan menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) pemilihan Ketua Umum selepas Pemilu Presiden, April mendatang.*/WINA SETYAWATIE/PR

JAKARTA, (PR).- Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menilai pemilihan Komite Eksekutif Gusti Randa menggantikan posisi Joko Driyono sebagai Plt Ketua Umum PSSI hanya merupakan dagelan ala federasi sepak bola Indonesia tersebut. Bahkan, ia menilai bahwa penugasan Gusti yang dilakukan diskresi oleh Joko dianggap sudah menyalahi statuta (pedoman dasar). 

"Bukan PSSI namanya bila tidak bikin sensasi dan kontroversi. Bila sebelumnya hasil rapat Komite Eksekutif memutuskan Iwan Budianto sebagai pengganti Joko Driyono sebagai Plt. Ketua Umum PSSI, kini berubah lagi. Joko justru menunjuk langsung Gusti sebagai penggantinya yang nonaktif karena sedang berurusan dengan hukum. Ini artinya, PSSI melanggar statuta yang dibuatnya sendiri," tutur Akmal di Jakarta, Selasa, 19 Maret 2019 malam. 

Menurut Akmal, dalam Statuta PSSI Pasal 34, disebutkan bahwa anggota Exco PSSI ada 15 orang. Anggota itu terdiri dari satu ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 anggota Exco. Lalu pada Pasal 36 ayat 6 dijelaskan, bahwa bila ketua umum berhalangan, maka wakil ketua umum tertua yang menggantikannya.

"Hal itu dipertegas dalam Pasal 40 ayat 6, apabila ketua umum secara permanen atau sementara berhalangan dalam menjalankan tugas resminya, wakil ketua umum akan mewakilinya sampai dengan kongres berikutnya. Kongres ini akan memilih ketua umum baru, jika diperlukan. Nah, dalam hal ini ada struktur yang dilanggar PSSI. Karena setelah mundurnya Edy, ada Joko, dan kemudian ke Iwan Budianto sebagai wakil ketua umum yang bisa menggantikan," katanya.

Kecuali bila Iwan mengundurkan diri, berhalangan tetap atau permanen, anggota exco baru bisa memutuskan untuk memilih salah satu dari mereka.
Keputusan itu pun, ujar Akmal, harus ditandatangani semua Exco, bukan perorangan seperti yang dilakukan Joko. 

"Yang menarik untuk dicari tahu, apakah ini karena Iwan mengundurkan diri? Sehingga diambil keputusan digantikan dengan Gusti? Namun, sejauh ini kan Iwan sebagai Wakil Ketua Umum justru sibuk menggarap proyek Piala Indonesia dan Piala Presiden. Sementara Gusti baru saja diangkat menjadi Komisaris PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang merupakan operator kompetisi Liga 1 menggantikan Glen T. Sugita yang mundur. Kembali terjadi rangkap jabatan dan tabrak aturan," tuturnya.***

Bagikan: