Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Laga Klasik Stapac dan SM Digelar di Jakarta dan Bandung

Wina Setyawatie
PEBASKET NSH Hengki Infandi (kiri) berusaha mencuri bola dari pebasket Satria Muda Pertamina Hardianus (kanan) pada laga semifinal IBL Pertamax Playoffs 2018-2019 di Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro, Jakarta, Sabtu, 9 Maret 2019. Pada laga kedua semifinal IBL tersebut NSH menang dengan skor 81-73, sehingga kedua tim harus memainkan laga ketiga untuk menentukan tim yang melangkah ke babak final.*/ANTARA FOTO
PEBASKET NSH Hengki Infandi (kiri) berusaha mencuri bola dari pebasket Satria Muda Pertamina Hardianus (kanan) pada laga semifinal IBL Pertamax Playoffs 2018-2019 di Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro, Jakarta, Sabtu, 9 Maret 2019. Pada laga kedua semifinal IBL tersebut NSH menang dengan skor 81-73, sehingga kedua tim harus memainkan laga ketiga untuk menentukan tim yang melangkah ke babak final.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Kompetisi Indonesia Basketball League (IBL) Pertamax 2018-2019 memasuki akhir musim. Partai final yang akan berlangsung pada 21, 23, dan 24 Maret 2019 akan mempertemukan sang juara bertahan Satria Muda Pertamina Jakarta melawan Stapac Jakarta. 

Dengan menggunakan sistem pertandingan "best of three", Britama Arena, Jakarta akan digunakan sebagai kandang SM yang akan menjadi tuan rumah gim pertama babak final. Kemudian, gim kedua dan ketiga akan berlangsung di GOR C-Tra Arena sebagai kandang dari Stapac. 

Pemilihan Bandung sendiri tidak lepas dari minimnya ketersediaan sarana Gedung Olahraga (GOR) Basket yang ada. Sebelum Bandung, sempat ada pembicaraan untuk memilih Yogyakarta atau Malang sebagai "home" Stapac. 

"Sistem pertandingan sama dengan tahun lalu. Kali ini kita main di away dulu, lalu dua kali home-home di Bandung. Kenapa Bandung, karena di tanggal itu GOR yang "available" itu di sana dan secara jarak pun tidak jauh. Dua tim yang memenangi dua gim pertama lah yang akan keluar sebagai pemenang," kata Direktur IBL Hasan Gozali dalam jumpa pers di The Hook Senopati, Jakarta, Selasa, 19 Maret 2019.

Pertemuan kedua tim tersebut merupakan laga "El Classico". Keduanya sudah 10 kali bertemu sejak pelaksanaan kompetisi bola basket tertinggi di tanah air digelar pada 2001 lalu. Dari 10 kali pertemuan itu, keduanya memiliki rekor pertemuan yang sama imbang 5-5. Hingga laga final nanti akan jadi penentu, siapa klub terkuat saat ini. 

Gelar juara IBL terakhir didapatkan oleh Stapac pada 2012 lalu, sementara Satria Muda terakhir pada 2014 lalu. Penantian yang cukup lama bagi Stapac untuk kembali menuju final, karena itu Stapac mengaku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. 
 

Hal tersebut diungkapkan Pelatih Stapac Giedrius Zibernas. Menurutnya kembali ke partai puncak setelah lima tahun bukan hal yang mudah. Dia mengharapkan para pemainnya bisa memperlihatkan ini adalah "Big Finals" bagi timnya dan memberikan yang terbaik bagi fans mereka. 

"Secara rekor reguler memang kami cukup impresif musim ini dengan kemenangan 17-1. Tapi ini final, semua kembali lagi ke 0-0. Kami harus start lagi dari awal persiapannya. Kami tidak mau gagal di saat akhir, hingga saya minta semua pemain menganggap semua gim yang ada adalah laga final," tegasnya. 

Sementara itu, Kapten Tim SM, Arki Dikania Wisnu mengatakan bahwa memang dibandingkan Stapac timnya di musim ini mengalami ritme permainan yang turun naik. Namun, pada akhirnya mereka tetap bisa mencapai final meski tertatih-tatih. 

"Kita sudah membuktikan bahwa dengan kondisi yang tertatih-tatih kami tetap bisa mencapai final. Tentu ekspektasinya di final ini tinggi. Karena tanggung sudah di final. Mungkin Stapac luar biasa di musim ini, tapi kembali ini final. Kami akan fokus pada kekuatan sendiri," ucapnya. 

Dari segi kekuatan Vice Presiden SM Rony Gunawan mengatakan bahwa melawan Stapac timnya selalu harus punya ekstra persiapan. Mengingat kekuatan Stapac ada di kecepatannya, sementara timnya tampil dengan ciri khas pertahanan yang kuat dan bigman yang bagus.

"Jadi bisa dipastikan laga final nanti akan seru dan sengit," imbuhnya. 

Manajer Stapac Irawan Haryono menambahkan bila kunci Stapac sebenarnya ada di Arki. Meskipun secara usia senior, tapi permainan Arki dinilainya sulit ditebak. "Musim ini memang sulit ditebak. Tapi kami ingin mematahkan mitos bahwa tim yang bagus di reguler tidak akan juara di final," tukasnya.***

Bagikan: