Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Umumnya berawan, 22 ° C

Jaga Mood Atlet jadi Kunci Performa Prima Para Atlet Special Olympics

Wina Setyawatie
PARA atlet Special Olympics Indonesia sedang menjalani proses divisioning sebelum akhirnya turun di  Special Olympics World Games 2019, mulai 15-19 Maret 2019 di Abu Dhabi. Kontingen Indonesia yang berkekuatan 68 atlet, terdiri dari 54 atlet special Olympics dan 14 unified partner akan ambil bagian di 11 cabang olahraga.*/HUMAS SOI
PARA atlet Special Olympics Indonesia sedang menjalani proses divisioning sebelum akhirnya turun di Special Olympics World Games 2019, mulai 15-19 Maret 2019 di Abu Dhabi. Kontingen Indonesia yang berkekuatan 68 atlet, terdiri dari 54 atlet special Olympics dan 14 unified partner akan ambil bagian di 11 cabang olahraga.*/HUMAS SOI

ABU DHABI, (PR).- KUNCI utama untuk menghasilkan performa prima bagi atlet Special Olympics Indonesia (SOI) adalah menjaga mood supaya stabil. Dengan kondisi emosi yang baik, para atlet yang merupakan penyandang disabilitas intelektual itu diyakini bisa tampil baik dan percaya diri ketika berlaga di Special Olympics World Games 2019, di Abu Dhabi, 14-21 Maret 2019. 

Hal tersebut diungkapkan Pelatih cabor bocce, Suci Noor Rahmawaty, sesuai rilis yang diterima "PR", Kamis, 14 Maret 2019. Kondisi emosi yang stabil sangat penting saat divisioning cabor tersebut. 

"Kita benar-benar menjadi kondisi emosi atlet. Hasilnya terbukti sangat memuaskan. Muhammad Febredy dan Hafshah Nabila, bermain dengan baik dan memperoleh hasil yang jauh lebih bagus dari pada pencapaian terbaik mereka sebelumnya," ujarnya.

Febredy mendapat total skor 448, sementara Nabila mendapat skor 507. Di Pornas (Pekan Olahraga Nasional SOI 2018), lemparan terbaik Febredy masih di atas 500, bahkan Nabila masih di atas 800. Dengan kondisi lapangan yang sama dengan pelatnas yang memakai rumput sintetis, pelatih harus menjaga mood mereka hingga hari pertandingan selesai.

Salah satu caranya, kata Suci, adalah dengan tidak membuat atletnya terlalu lelah. Kelelahan menjadi salah satu pemicu yang membuat kondisi mood mereka bisa turun. 
"Kami belajar dari pengalaman pada saat program Host Town kemarin. Karena acara yang padat, mereka jadi lelah dan mood-nya turun. Pada saat pelatnas, kalau kita pelajari, Febredy tidak pernah mau ikut jalan-jalan kalau di ajak ke Ragunan. Kalau pergi, dia keluar dengan koyo ditempel di jidat. Dia tidak suka pergi," imbuhnya. 

Kelebihan Febredy, menurut Suci, meskipun disabilitas intelektual, namun dia menunjukkan kesabaran yang tinggi. Ia pun sangat rapi dan selalu semangat saat bertanding. 

PARA atlet Special Olympics Indonesia sedang menjalani proses divisioning sebelum akhirnya turun di  Special Olympics World Games 2019, mulai 15-19 Maret 2019 di Abu Dhabi. Kontingen Indonesia yang berkekuatan 68 atlet, terdiri dari 54 atlet special Olympics dan 14 unified partner akan ambil bagian di 11 cabang olahraga.*/HUMAS SOI

Perlakuan Berbeda untuk Atlet Berbeda

Sementara, perlakuan kepada atlet cabang tenis meja berbeda lagi. Salah satu untuk menjaga kestabilan emosi atlet di cabang ini adalah dengan berteriak. Bila berteriak, Heri Septiawan dan Yunika Pujiastika mengaku lebih lega untuk menghadapi kompetisi di World Games ini. 

"Salah satu cara lain untuk menjaga emosional atlet adalah dengan melepaskan semua hal yang membuat mereka stres, salah satunya dengan berteriak. Saya minta mereka berteriak sekencang-kencangnya biar lega dan mood-nya bisa tetap terjaga," ungkap pelatih tenis meja, Tiyas Vegariani. 

Kontingen Spesial Olympics Indonesia berkekuatan 68 atlet, terdiri dari 54 atlet Special Olympics dan 14 unified partner. Sejak Selasa, 12 Maret 2019, hingga Jumat, 15 Maret 2019, para atlet menjalani proses divisioning

Menurut staf Special Olympics International Asia Pacific, Amran Siregar, divisioning adalah babak kualifikasi berdasarkan kemampuan, usia, dan jenis kelamin. Diharapkannya, pada babak final, seluruh peserta memiliki kemampuan yang sama untuk berkompetisi dengan setara dan adil.***

Bagikan: