Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan singkat, 22.5 ° C

April, Kepastian Erick Thohir Maju atau Tidak sebagai Ketua Umum PSSI

Wina Setyawatie
Erick Thohir/ANTARA
Erick Thohir/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Lampu Hijau dari Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) untuk Erick Thohir maju sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) akhirnya dijawab. Erick akan memutuskan maju atau tidak pada April nanti, setelah tugasnya sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) selesai diemban.

"Saya rasa apa yang diucapkan JK sebuah apresiasi. Tapi seperti yang sudah saya sampaikan ribuan kali, olahraga Indonesia terutama sepakbola harus dikelola secara profesional dan transparan, tidak boleh ada politik. Saya pada posisi hingga April tidak memungkinkan, jadi jangan sampai mengorbankan olahraga dengan posisi-posisi individu yang hari ini kurang menguntungkan. Setelah April, kita akan lihat lagi," ujarnya saat ditemui media di acara Palembang Triathlon, FX Sudirman, Jakarta, Kamis, 31 Januari 2019.

Harapan Jusuf Kalla untuknya, kata Erick, adalah sebuah tantangan. Apalagi dirinya memang ingin menjadikan sepakbola sebagai industri, terutama di liganya. Karena ketika liga dikelola dengan profesional dan transparan, diyakininya pasti bisa menciptakan efek global untuk perkembangan industri sepakbola itu sendiri.

"Itu sebuah tantangan. Karena sepakbola bisa dijadikan industri, terutama liganya ya. Kita tahu ketika kompetisi bisa dikelola secara transparan dan profesional bisa menciptakan efek pertumbuhan ekonomi di industri sepakbola itu sendiri. Namun, kalau sepakbola dikelola dengan "match fixing" seperti saat ini, pasti akan mencederai kepercayaan rakyat dan masyarakat, karena itu tontonan utama. Mereka beli tiket, banyak perusahaan yang jadi sponsor, jadi kalau kondisi seperti itu terjadi maka jadi sebuah kebohongan," ucapnya.

Hal positif

Keputusan voter PSSI untuk memberikan kesempatan para pengurus PSSI untuk berbenah dalam waktu satu tahun ini, setelah ditinggal Edy Rahmayadi menurut Erick adalah sesuatu yang positif. Apalagi, ia sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pernah ditugasi pemerintah dan PSSI untuk berbicara dengan FIFA dan hingga saat ini masih ada pekerjaan rumah, yakni lima proposal yang belum bisa diselesaikan.

"Itu tentu jadi beban moral untuk dipertanggung jawabkan oleh saya dan PSSI. Karena untuk bisa lepas dari sanksi FIFA ketika itu, pertama adalah yang dijanjikan adalah bagaimana prestasi Timnas bisa naik, kedua meningkatkan profesionalisme di kompetisi yang transparan, tidak ada lagi isu-isu," katanya.

Ketiga, pemerintah harus fokus pada pembangunan infrastruktur guna membangun industri sepakbola. Lalu keempat, pembangunan sepak bola dari akar rumput hingga masyarakat keatas, terakhir bagaimana kualitas sumber daya manusia yang dimiliki manajemen sepakbola saat ini bisa ditingkatkan.

"Hanya saja, kelima hal yang kita janjikan ke FIFA ini belum bisa tercapai sampai hari ini. Semua harus punya kemauan untuk memajukan sepakbola, dan olahraga Indonesia secara menyeluruh," ucapnya.***

Bagikan: