Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

PSSI, Si Seksi yang Kembali Jadi Target

Tim Pikiran Rakyat
PENGUNJUK rasa gabungan suporter Indonesia meletakkan spanduk di jalan masuk lokasi Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu 20 Januari 2019. Para pencinta sepak bola dari berbagai daerah di Indonesia menuntut pemberantasan mafia sepak bola di Indonesia.*/ANTARA
PENGUNJUK rasa gabungan suporter Indonesia meletakkan spanduk di jalan masuk lokasi Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu 20 Januari 2019. Para pencinta sepak bola dari berbagai daerah di Indonesia menuntut pemberantasan mafia sepak bola di Indonesia.*/ANTARA

SEKALI lagi, PSSI jadi target. Delapan tahun terakhir ini, organisasi yang lahir 19 April 1930 di Surakarta itu seperti masuk dalam mesin pengaduk semen. PSSI diaduk-aduk oleh pihak tertentu—yang patut diduga—dibekingi kekuatan super.

Nurdin Halid, La Nyalla Matalitti, dan sekarang Edy Rahmayadi, ketiganya tampaknya bernasib sama. Nurdin Halid tumbang karena kekuasaan ikut campur. La Nyala matalitti tergusur, juga kekuasaan memaksanya. Edy Rahmayadi, meski mundur, inti utamanya tak berbeda jauh dari dua pendahulunya.

Wartawan sepak bola senior Mahfudin Nigara menyampaikan padangannya dalam uraian panjang berikut ini. Kepada pembaca yang budiman, selamat membaca.

Intervensi dan lingkaran kekuasaan

PSSI bak seorang wanita yang begitu seksi hingga membuat lelaki berotot selalu ingin menggodanya. Uniknya, bukan bu­nga atau wewangian yang disodorkan, tetapi kokohnya otot dan cengkeraman kekuatan yang disajikan.

Sebagai gadis cantik, meski seksi, sang gadis (PSSI) tetaplah makhluk yang lemah. Ia tentu tak kuasa dicengkeram dengan lengan berotot. Maka, tak ada pilihan kecuali me­ngalah atau tepatnya pasrah.

Sejak 2011, diakui atau ti­dak, langsung atau tidak, PSSI sudah dikerjai. Saat itu kekuasaan agak malu-malu mengawalinya. Namun, jelas ada makhluk-makhluk yang bernafsu tetapi tak sanggup bertarung terbuka. Maka, dengan ”kelicikan” tingkat dewa, mereka meng­gunakan kekuasaan untuk membukakan pintu.

Diawali de­ngan Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang tahun 2010. Sang tokoh yang ngotot ingin menguasai PSSI memakai lembaga Kemenpora.

PSSI/DOK. PR

Akan tetapi, dia gagal. KSN yang awalnya akan menjadi godam, berubah pa­dam. Bahkan kekuasaan justru bisa memahami kondisi PSSI. Lahirlah tujuh rekomendasi Malang yang meminta PSSI melakukan langkah-langkah pembenahan. Jadi, intinya KSN justru memperkokoh kepengurusan. Jauh dari skenario yang dirancang orang ngotot itu.

Marah dan kecewa. Skenario ke­dua dijalankan, sekali ini tidak menggunakan pucuk kekuatan. Gayung bersambut, kaum oportunis yang memanfaatkan sepak bola untuk kepentingan pribadi, menjalankan aksinya dengan dukungan modal si penafsu itu. Maka sebulan setelah Maret 2010, selama 11 bulan PSSI didemo, siang dan malam.

Buntutnya  dapat diduga. Nurdin Halid tumbang. Meski demikian, mereka tidak me­nang seluruhnya. Sang tokoh yang ngebetnya sudah sampai ke ubun-ubun itu, justru dilarang FIFA untuk maju. Maka, ditunjuklah seseorang untuk menggantikannya memimpin PSSI.

Walaupun orang ini menang lewat pemilihan yang sudah tidak jujur, maaf, kepemimpinannya menjadi yang terburuk dalam sejarah PSSI.

Saya dan banyak kalangan menyebutnya ketua umum boneka. Tentu tidak kredibel. Orang ini memecah­kan rekor sebagai Ketum PSSI pertama yang konon menerima gaji besar dan terbanyak bersafari. Tidak ha­nya itu, kongsi mereka pun pecah. Sang ketum, karena boneka,tentu tidak mampu menindak pelanggaran statuta.

Sejak pemerintah waktu itu mencampuri PSSI, kaum oportunis yang dibekingi finansial oleh sang tokoh itu, melahirkan kompe­tisi tandingan. Karena kegiatan itulah PSSI diberi peringatan FIFA. La Nyala Matalitti yang awalnya ada di gerbong itu, menyeberang.

Ia dan kelompoknya akhirnya sadar telah ikut dalam kelompok yang salah. Ia bergabung ke kelompok PSSI perlawanan dan jadi ketua umumnya.

Maka, perseteruan pun terus berlanjut. Kisahnya terulang. Ketika La Nyalla Matalitti waktu itu tidak sejalan dengan kekuasaan. Ia pun ditumbangkan.

EDY Rahmayadi.*/ANTARA

Edy Rahmayadi yang kala itu masih menjabat Pangkostrad dan berjalan atas perintah atasannya, 100 persen menguasai PSSI. Persis dugaan saya, nasib Edy Rahmayadi pun tak akan jauh berbeda (saya pernah mengingatkannya dalam buku saya KLB Untuk Siapa?).

Saat ini, Edy Rahmayadi bukan lagi ada dalam lingkaran kekuasaan. Maka, kursinya yang seksi itu kembali jadi target. Seperti dulu saat ia menjadi bagian penggoyangan, nasibnya digoyang-goyang. Bahkan, kali ini goyangan untuk Edy Rahmayadi jauh lebih kencang ketimbang goyangan dua pendahulunya.

Lagu lama sepak bola kita

Memberantas mafia sepak bola sa­ngat penting. Karena kasus suap itulah prestasi tim nasional kita bu­kannya maju tetapi malah mun­dur.

Maulwi Saelan dan Ali Sadikin ada­lah dua Ketum PSSI yang pernah membongkar dan menghukum para pelaku. 

Akan tetapi, ketum-ketum PSSI lainnya seperti membiarkan. Akibat­nya, pengaturan skor tak  bisa diselesaikan.

Suap itu persis orang kentut. Ada suara dan baunya, tapi sulit dipegang. Sepak bola kita akhir­nya dihukum oleh penontonnya.

Saya beruntung ikut menjadi peliput pertandingan yang super padat hingga pertandingan super senyap. Dari pertandingan yang membuat dada berdebar karena dua kekuatan beradu, hingga tertawa lebar lantaran sudah diberi tahu hasilnya justru sebelum pertarungan itu dimulai.

Jadi, ketika kepolisian membentuk Satgas Mafia Sepak Bola, ada harapan besar di hati saya. Namun, kasus yang naik ke permukaan dan dipublikasikan belum menyentuh substansi pengaturan skor.

Hal ini tentu pandangan pribadi saya. Saya mulai agak waswas. Terus terang, pikiran nakal menyeruak di kepala saya. Jangan-jangan kasus pengaturan skor hanya akan dijadikan pintu masuk.

Sama seperti dugaan saya di atas, jangan sampai tujuan utamanya hanya agar Edy Edy Rahmayadi mundur. Jika maksud pemberantasan tersebut semata-mata untuk itu, tak akan ada bedanya nasib PSSI dalam kurun 11 tahun ini.

Seperti kekhawatiran saya dan tentu kita semua para penggila se­pak bola nasional, PSSI tetap tidak akan meraih apa pun. Namun, saya tetap berharap tim pemberantas mafia sepak bola bisa bekerja dengan sebaik-baiknya.

 Sebagai bahan tambahan atau mungkin bahan awal, para petugas bisa mengkaji dan meneliti kisah sepak bola gajah PSIS vs PSS Sleman yang sama-sama saling mencetak gol ke gawang ma­sing-masing.

Pahami, siapa saja orang-orang yang sudah dihukum tetapi dibebaskan. Dari sana, pasti akan banyak jalan terbuka.***

Bagikan: