Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Berawan, 22.5 ° C

Liliyana Natsir dan Teknik Bulu Tangkisnya yang Paling Ditakuti Lawan

Wina Setyawatie
PEBULU tangkis Liliyana Natsir melambaikan tangan saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu 27 Januari 2019./ANTARA FOTO
PEBULU tangkis Liliyana Natsir melambaikan tangan saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu 27 Januari 2019./ANTARA FOTO

MINGGU, 27 Januari 2018 lalu adalah garis finish pebulu tangkis Liliyana Natsir. Liliyana mengumumkan mundur bukan karena tidak bersinar lagi. Sinarnya masih terang, dia masih bisa bermain dan bersaing dengan para pebulutangkis muda dunia lainnya.

Bahkan dia bersama Tontowi masih menduduki peringkat 4 dunia hingga kemarin. 

Terbukti di akhir karirnya dia mampu melesat ke final mengalahkan para pesaing mudanya. Meskipun tidak berhasil membawa pulang gelar juara Indonesia Master seteleh kalah 21-19, 19-21, 16-21, tapi pemain yang akrab disapa Butet ini memberikan tontonan dan perlawanan apik kepada pesaingnya, ganda nomor satu dunia Zheng Siwei-Huang Yaqiong. 

Teknik depan net yang paling ditakuti

Sebagai seorang pemain, Liliyana dinilai merupakan salah satu pemain putri yang ditakuti. Apalagi di depan net. Kecepatannya dan penempatannya yang apik di dalam mengolah bola di depan net sering kali tidak bisa diantisipasi lawannya. 

Bahkan teknik Liliyana tersebut dipelajari oleh hampir seluruh pemain putri dunia. Salah satunya Chen Qingchen, pemain putri spesialis ganda asal Tiongkok.

"Kamu menyajikan teknologi di depan net. Itu selalu menjadi objek untuk menjadi pelajaran untuk ku. Jika kita berbicara dengan bahasa yang sama, aku ingin berkonsultasi dengan mu secara langsung berhadapan," tulis Chen di media sosialnya. 

Bahkan para pemain Jepang mengaku belajar dari Liliyana. Arisa Higashino dan Wakana Nagahara mengakui jika mereka berdua sangat mengidolakan sosok Liliyana. Arisa selesai bertanding pun langsung memburu tandatangan Liliyana. Dirinya kesal tidak bisa bertemu dengan idolanya tersebut dalam pertandingan Indonesia Master kemarin, setelah kalah dari Zheng-Huang di perempat final. 

PEBULU tangkis Liliyana Natsir menghapus air mata saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu 27 Januari 2019./ANTARA FOTO

Sedangkan Wakana yang berpasangan dengan Takuro Hoki, meski dikalahkan oleh Tontowi-Liliyana di "8 Besar" tapi mereka justru girang. Pasalnya mereka berhasil bertemu dengan idolanya tersebut dalam pertandingan. 

"Siapa pemain ganda campuran dunia yang tidak ingin bertemu dengan Liliyana dan Tontowi. Mereka mainnya bagus sekali. Kami tidak menyesal kalah, asalkan bisa bermain melawan mereka," kata Wakana. 

Salah satu rival berat Liliyana, Chan Peng Son asal Malaysia, menilai bahwa pensiunnya Liliyana terlalu dini. Karena menurutnya Liliyana masih bisa bermain, sementara yang pensiun itu rata-rata yang cedera dan tidak bisa lagi maksimal dalam bersaing di kancah dunia. 

"Sangat disayangkan dia pensiun, karena Liliyana masih bisa bermain. Salah satu kehilangan besar untuk bulutangkis Indonesia," katanya. 

Terima kasih, Butet

Rasanya tidak ada yang tidak sedih saat melepas Liliyana. Bahkan rekan-rekan sepelatnasnya pun seakan tidak mau melepasnya untuk pensiun dari bulutangkis profesional. Tidak hanya pemain di sektornya saja, bahkan Jonatan Christie pun mengaku akan sangat merindukan sosok Liliyana.

Pasalnya dia melihat tidak ada yang sepeduli Liliyana. Di dalam dan di luar lapangan, seniornya tersebut dinilai sangat rendah hati dan tidak pernah memberikan batasan antara pemain senior ataupun junior. 

Greysia Polii yang pernah menjadi rekan seperjuangannya di klub pada masa kecil pun tidak luput menuliskan kesan-kesannya untuk Liliyana di media sosialnya.

Dengan berlatar gambar podium juara dan medali emas bersama lima rekan lainnya, termasuk Liliyana Natsir yang masih kecil, Greysia menuliskan, "#Thankyoubutet Pernah bawa aku merasakan juara 1 di umur aku yang belum cukup kala itu. Aku bangga (Lihat aja itu senyum gue paling heboh sendiri dan gue paling kecil sendiri). Ya, walaupun hanya level se-Indonesia Timur (catat ya guys, Indonesia TIMUR bukan level seluruh Indonesia apalagi level seluruh dunia, belum mampulah kita di kala itu," katanya.

"Yang di kala itu kita baru mau memulai, memilih, bermimpi ingin jadi pemain bulutangkis hebat dunia. Dimana kita belum tau yang namanya pilihan hidup menjadi seorang atlet bulutangkis itu ternyata sangat sangat sangat sulit. Puluhan tahun kita terjebak dalam dunia ini tapi jebakan itu ternyata mendatangkan kebahagiaan buat seluruh masyarakat Indonesia. (Thank you for never giving up, you inspired me to never give up easily too)".

"Ada quote yang pantas untuk ci Butet "FINISH WHAT YOU STARTED". Dia bukan hanya finish gitu aja apa yang dia sudah mulai tetapi dia finish it well, very very very well! So long my childhood friend, I am honored to be a witness of your life journey. You are indeed a legend and i am so proud of you!," tambah Greysia. 

Ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir (kanan) dan Tontowi Ahmad berusaha mengembalikan kok ke ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019). Owi/Butet lolos ke final setelah menang dengan skor 22-20 dan 21-11.*/ANTARA

Awal mula terjun ke dunia bulu tangkis

Impian Liliyana menjadi atlet bulutangkis sudah ada sejak kecil. Dia mulai bermain bulutangkis sejak kelas tiga SD di Pisok, klub lokal di Manado. Hingga akhirnya selepas tamat Sekolah Dasar (SD), Butet kecil memutuskan 100 persen untuk fokus ke bulutangkis. Tidak ada yang memaksakannya ketika itu, bahkan sang ayah, Beno Natsir memperbolehkan anaknya memilih sekolah atau bermain bulutangkis. 

Pilihan Liliyana menjadi seorang atlet tidak lepas dari keinginannya menjadi tulang punggung untuk keluarga. Hal itu yang pernah dituliskannya di selembar tisu. 

Di Manado sejumlah prestasi telah ditorehkannya di level daerah. Bahkan dia menyumbangkan medali terbanyak untuk klubnya kala itu. 

Hal itu berkat catatan sang Ayah. Dimana tiap Liliyana bertanding dia selalu mencatat kekurangan anak putri keduanya tersebut. Selesai bertanding, sampai di rumah Liliyana pun kembali latihan lagi di halaman rumah memperbaiki kesalahan yang dicatatkan oleh ayahnya. 

Tiga tahun kemudian, saat usianya 12 tahun, dia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan mulai hidup mandiri jauh dari orang tua. Tiga bulan pertama, Liliyana terus menangis. Karena dirinya tidak pernah jauh dari sang mama dan hanya sepekan sekali dia bisa keluar dari asrama klub Tangkas, Jakarta.

Suatu ketika, saat ada kesempatan pulang ke Manado, Lilyana bahkan sempat menolak kembali ke Jakarta. Sang mama lah, Olly Maramis yang membujuknya untuk kembali ke ibukota. 

Di Tangkas lah, perlahan tapi pasti, sifat dan sikapnya gigihnya terbentuk. Dia pun menemukan kecocokan bermain ganda selama di klub. 

Pasangan pertamanya adalah Nathalia Poluakan. Bersama Nathalia, Liliyana diturunkan di turnamen besar pertamanya, yakni Junior Indonesia Open pada 2001. Hasilnya, hanya mencapai babak 32 besar. 

Atas prestasinya tersebut, Liliyana akhirnya terpilih masuk pelatnas PBSI setahun kemudian. Tidak perlu beradaptasi lama, berpasangan dengan Markis Kido, mereka langsung 'moncer', yakni gelar Kejuaraan Asia Junior pada tahun 2002. 

Setelah juara, dia mulai dicoba bermain double bersama para senior, di ganda putri dan campuran. Di ganda putri, selain bersama Nathalia, dia juga sering bermain dengan Devi Sukma Wijaya, Eny Erlangga, dan Rintan Apriliana. Sedangkan di ganda campuran, selain bersama Kido, dia juga pernah sekali dipasangkan dengan (alm) Rian Sukmawan. 

Mulai berprestasi di ganda campuran

Lewat kejelian Richard Mainaky, Liliyana pun diambil sektor ganda campuran. Pada akhir 2004, dia pun mulai dipasangkan dengan Nova Widianto. Pertama kali dimainkan di China Open, mereka langsung menembus semi final. Selepas itu di Singapore Open mereka justru mampu membawa pulang gelar pertama. 

Di tengah perjalanan bersama Nova, dia kembali bermain di ganda putri bersama Vita Marissa. Berdua, mereka sukses menggondol emas SEA Games 2007 ganda putri.  

PEBULU tangkis Liliyana Natsir melambaikan tangan saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu 27 Januari 2019./ANTARA FOTO

Sekali-sekali Liliyana juga berganti pasangan di campuran. Dia pernah dipasangkan dengan pemain muda, seperti Muhammad Rijal di Chinese Taipei Grand Prix Gold dan Devin Lahardi di Malaysia Grand Prix Gold 2010. Bersama Rijal, hasilnya lumayan tembus "8 Besar". Bersama Devin, Liliyana meraih gelar di Malaysia Grand Prix Gold 2010. 

Kejayaan Liliyana bersama Nova pun berlanjut hingga puncaknya medali perak Olimpiade 2008 di Beijing. Kisah mereka berlanjut hingga pertengahan 2010. Dia pun dipersatukan dengan Tontowi Ahmad. 

Pada penampilan pertama di Macau Grand Prix Gold 2010, Liliyana-Tontowi langsung membawa pulang gelar juara. Perjalanan Liliyana pun berlanjut bersama Tontowi hingga hari ini. Bersama Tontowi, mereka mencatatkan hattrick gelar level super series paling bergengsi di dunia, All England 2012, 2013, dan 2014. Hingga kini, total ada 56 gelar yang dimilikinya, dengan pencapaian tertinggi Emas Olimpiade 2016. Karirnya pun kemarin ditutup dengan status "runner-up" ganda campuran Indonesia Master 2019. ***

Bagikan: