Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Edy Rahmayadi Mundur dari PSSI, Persib Dorong KLB

Yusuf Wijanarko
EDY Rahmayadi menyampaikan keterangan terkait pengunduran dirinya seusai pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu 20 Januari 2019.*/ANTARA
EDY Rahmayadi menyampaikan keterangan terkait pengunduran dirinya seusai pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu 20 Januari 2019.*/ANTARA

DENPASAR , (PR).- Edy Rahmayadi memutuskan mundur dari jabatannya sebagai ketua umum Persatuan PSSI (Sepak Bola Seluruh Indonesia) dalam kongres tahunan yang digelar di Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu 20 Januari 2019.

Edy Rahmayadi memimpin PSSI sejak tahun 2016. Dia yang juga gubernur Sumatera Utara itu menganggap diri gagal menjalankan organisasi dan berharap seluruh elemen PSSI tetap akur.

Edy Rahmayadi menegaskan, keputusannya untuk mundur dari jabatan ketua Umum PSSI adalah keputusan terbaik yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

"Tidak ada yang menekan saya untuk mundur. Ini adalah keputusan yang terbaik untuk bangsa," ujar Edy Rahmayadi usai menyampaikan pidato pengunduran dirinya dalam kongres seperti diberitakan Antara.

Menurut mantan Pangkostrad itu, memimpin PSSI menjadi tantangan paling sulit yang dihadapi dalam hidupnya.

Dia mengakui, dalam beberapa hal, dia gagal membawa PSSI menjadi lebih baik sejak memimpin tahun 2016.

"Sudah dilarang mengatur skor, terjadi pengaturan skor. Ada perkelahian juga. Itu berarti saya gagal. Jangan sampai karena satu atau dua orang PSSI terganggu. Mari kita doakan pemimpin berikutnya lebih jaya," tutur Edy Rahmayadi.

Joko Driyono

Karena itu, dia pun meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia terutama pencinta sepak nasional atas semua kekurangannya selama memimpin PSSI.

Dengan mundurnya Edy Rahmayadi, pucuk organisasi PSSI untuk sementara dijabat oleh Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono.

Joko Diryono bisa saja saja memimpin sampai tahun 2020, tahun berakhirnya era kepengurusan yang dilantik tahun 2016.

Akan tetapi, jika para pemilik suara meminta untuk segera melakukan pergantian ketua umum, mekanisme yang dilakukan adalah melalui kongres luar biasa (KLB).

Regulasi tersebut diterangkan dalam pasal 30 Statuta PSSI. Di sana tertulis, KLB bisa digelar jika 50 persen atau 2/3 delegasi membuat permohonan tertulis untuk itu.

KLB akan diadakan oleh komite eksekutif PSSI tiga bulan setelah permintaan resmi itu diterima. Seandainya tidak juga digelar, anggota dapat melangsungkan kongres sendiri atau bisa pula meminta bantuan FIFA.

Persib minta KLB

Para pemilik suara di PSSI mendorong organisasi tersebut untuk segera menggelar KLB menyusul mundurnya ketua umum Edy Rahmayadi.

"Saya kira itu harus diajukan demi pembaruan PSSI. Tak ada jalan keluar lain," ujar Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Jakarta Uden Kusuma Wijaya saat kongres.

Menurut Uden, PSSI saat ini dalam kondisi sangat buruk karena beberapa para petingginya di jajaran komite eksekutif terjerat kasus hukum pengaturan skor dan bahkan ada yang ditetapkan menjadi tersangka.

Oleh sebab itu, dia berharap PSSI dapat menemukan orang-orang baru yang kompeten untuk mengisi posisi-posisi pengambil keputusan.

"Saya rasa pilihan paling rasional adalah mengganti para anggota komite eksekutif. Jangan memercayakan organisasi pada orang-orang lama yang kita tahu terlibat dalam masalah hukum. Biarkanlah mereka menyelesaikan persoalannya," tutur Uden.

Sementara itu, perwakilan klub Liga 1 Indonesia Persib Bandung, Umuh Muchtar menyebut, KLB memang harus segera dilaksanakan.

Terkait waktunya, Umuh Muchtar meminta agat KLB digelar usai pemilu 17 April 2019.

"Agar KLB tidak terganggu. Ini harus diselesaikan dahulu sebelum Liga 1 dimulai," tutur dia.***

Bagikan: