Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Cerah berawan, 26.9 ° C

Sepak Bola Putri Iran, Sempat Haram Kini Gemilang Beprestasi

Arif Budi Kristanto
Tim Nasional Sepak Bola Perempuan Iran/TELEGRAPH
Tim Nasional Sepak Bola Perempuan Iran/TELEGRAPH

SELAMA puluhan tahun, menikmati laga sepak bola pernah menjadi hal yang sangat tabu bagi kaum perempuan di Iran. Pascarevolusi Islam yang dipimpin Ayatollah Khoemeini pada 1979, Iran memberlakukan aturan yang ketat terhadap perempuan. Saat itu ada tiga hal yang menjadi keluhan para perempuan Iran: aturan ketat soal pakaian, pekerjaan yang sulit didapatkan, dan larangan menonton sepak bola pria di stadion. 

Di awal rezim Khoemeini berkuasa, jangankan untuk hadir di stadion, menyaksikan pertandingan lewat layar kaca pun haram bagi perempuan Iran. Alasannya, perempuan dilarang melihat aurat pemain sepakbola pria, yang notabene selalu memakai celana di atas lutut. 

Franklin Foer secara sentimen dalam buku How Soccer Explain The World: The Unlikely theory of Globalization menjelaskan sebuah fenomena di Iran. Fenoma itu adalah saat banyak perempuan melakukan aksi-aksi nekat dengan mengempiskan payudara, memotong rambut dan menyamar jadi pria agar bisa masuk ke Stadion. Bahkan, tak jarang tindakan nekat ini dilakukan keturunan para penguasa dan ulama ternama di negeri penerus bangsa Persia itu. 

Namun pada 2018, pemerintah Iran untuk pertama kalinya sejak 38 tahun  memperbolehkan kaum Hawa untuk menonton sepak bola di stadion. Momen itu terjadi saat pertandingan Iran melawan Spanyol, Kamis 21 Juni 2018. Warga Iran, baik laki-laki maupun perempuan, berkumpul di Stadion Azadi untuk menggelar nonton bersama pertandingan tersebut. Banyak dari mereka langsung mengeluarkan ponsel untuk merekam momen bersejarah tersebut. Meski Iran harus kalah 0-1 dari Spanyol, paling tidak hak perempuan untuk bisa menonton bola secara langsung di negara tersebut mulai diakui lagi. Setelah momen itu, Teheran memutuskan memperbolehkan 150 orang perempuan menonton pertandingan berdasarkan permintaan induk organisasi sepak bola dunia (FIFA). Keputusan otoritas Iran yang melarang sekelompok kecil perempuan datang ke Stadion Azadi Teheran saat Iran melawan Bolivia Selasa 16 Oktober 2018.

Terlepas dari sorotan media terhadap kebebasan perempuan Iran dari belenggu larangan menonton sepak bola, prestasi kaum perempuan Iran di arena sepak bola sendiri sedang menggeliat. 

Setelah lolos fase pertama kualifikasi di Tajikistan pada September 2018, tim putri U-16 Iran maju ke fase kedua turnamen AFC yang akan digelar Maret 2019. Pada Oktober tahun lalu, tim putri U-19 Iran berada di puncak klasemen kualifikasi Asian Football Confederation (AFC) championship. Sebulan kemudian, November 2018, tim putri Iran berhasil lolos ke babak lanjutan kualifikasi kualifikasi di Thailand untuk memperebutkan tiket ke Olimpiade Tokyo 2020. 

Dalam beberapa bulan terakhir, tim sepak bola putri Iran memnangi sejumlah pertandingan internasional yang memperbesar peluang mereka untuk tampil pada Olimpiade 2020 dan menjadi inspirasi bagi banyak kaum perempuan di Iran untuk bermain sepak bola.

Katayoun Khosrowyar  /SKY SPORTS

Katayoun Khosrowyar  

Geliat sepak bola putri Iran tidak lepas dari peran wanita asal Oklahoma Amerika, Katayoun Khosrowyar. Menjejakkan kakinya di Iran untuk sekadar liburan bersama keluarganya pada 2006, Kat, sapaan Katayoun Khosrowyar, tidak pernah menyangka akan menjadi penggerak revolusi sepak bola kaum hawa di Iran. Berkat peran besarnya di arena sepak bola Iran, baik sebagai atlet maupun pelatih, wanita Iran keturunan Amerika itu bahkan dinobatkan oleh FIFA sebagai perempuan yang berperan penting dalam revolusi sepak bola wanita Iran.  

"(Dulu) Saya tidak mengerti bahasa dan tak tahu apapun tentang budaya (Iran). Yang saya tahu adalah makanannya enak," kata Kat mengenang kesan pertamanya hidup di Iran.

"Dua belas tahun yang lalu, ada begitu banyak larangan. Orang-orang di sini akan bertanya, 'Kenapa kamu mau main sepak bola? Diamlah di rumah dan belajar menjadi istri yang baik saja'. Tapi sekarang, kami mendapatkan banyak bantuan dar orang-orang yang mendukung sepak bola wanita," ujar Kat yang aktif sebagai pemain sepak bola putri Iran pada kurun waktu 2005 sampai 2012.

50 besar

Pensiun sebagai pemain pada 2013, setelah 8 tahun mengabdi sehingga tim sepak bola putri Iran mampu menembus 50 Besar ranking FIFA, Kat Khosrowyar memberi pengaruh lebih besar dengan menangani tim muda (U-14, U-16 dan U-19) putri Iran. Dia menjadi wanita pertama asal Timur Tengah yang meraih lisensi kepelatihan FIFA A dan menjadi pembicara yang menebar inspirasi pada berbagai acara.

"Anggaran (untuk sepak bola putri) negara kami sangat kecil, jadi fakta bahwa kami eksis adalah sebuah pencapaian besar. Federasi mencoba melakukan yang terbaik dengan mencari sponsor, meski sulit. Tugas saya adalah menciptakan peluang dan membuka jalur unutk para pemain muda supaya bisa bersaing di pentas dunia," kata wanita 31 tahun itu.

Tanpa liga domestik di negaranya, kondisi jadi makin sulit untuk para pemain prospektif Iran dalam meningkatkan kemampuan dan kualitas. Namun, regulasi baru yang membuka peluang pemain umur 16 tahun untuk berlatih dengan tim senior di klub-klub dinilai Kat sebagai langkah besar dalam persiapan Iran menuju Olimpiade.

Sepak bola wanita kini menjadi tayangan favorit di televisi nasional Iran. Kat Khosrowyar, dengan tim U-17 dan U-10 yang berkompetisi di Russian dan Italia tahun lalu, telah menjadi panutan untuk kaum muda Iran. 

"Saya selalu mencari pemain-pemain baru yang potensial. Saya akan melangkah menyusuri jalanan untuk menemukan seorang gadis yang mengalahkan para anak lelaki. Itulah pemain saya!" ujarnya bersemangat.***

Bagikan: