Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Malaysia Ingin Pencak Silat Diakui sebagai Warisan Budayanya, Maspi Tak Tinggal Diam

Irfan Subhan
SEJUMLAH Pengurus Masyarakat Pencak Silat Indonesia periode 2018-2023 saat dilantik di Hotel Prama Grand Preanger, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu (30/12/2018). Kegiatan tersebut juga diisi dengan Saresehan Pendekar 2018 yang membahas penetapan silat sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh Unesco dari segi peluang, tantangan dan harapan.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
SEJUMLAH Pengurus Masyarakat Pencak Silat Indonesia periode 2018-2023 saat dilantik di Hotel Prama Grand Preanger, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu (30/12/2018). Kegiatan tersebut juga diisi dengan Saresehan Pendekar 2018 yang membahas penetapan silat sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh Unesco dari segi peluang, tantangan dan harapan.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi) terus melakukan langkah serta konsolidasi agar pencak silat bisa segera ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda Indonesia pada tahun 2019.

Ketua Umum Maspi, Edwin Senjaya, mengatakan selain Indonesia, saat ini negara tetangga Malaysia juga sedang melakukan hal yang sama agar pencak silat bisa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda asal negeri jiran tersebut.

“Kita (Maspi) tidak bisa bekerja sendiri, sebabnya kita memerlukan kerja sama dengan semua unsur mulai dari paguron, komunitas,organisasi, praktisi, dan insan pencak silat termasuk IPSI, PPSI, HPSI,dan lainnya untuk mengawal,” tutur Edwin usai acara pelantikan pengurus Maspi periode 2018-2022 dan Sarasehan Pencak Silat, di Ballroom Hotel Grand Preanger, Jalan Asia Afrika, Minggu 30 Desember 2018.

Agar pencak silat bisa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2019, Maspi sudah melakukan berbagai upaya sejak dua tahun lalu. Bahkan pada tahun 2017, perwakilan Maspi diundang secara langsung untuk tampil di markas besar UNESCO, di Paris, Prancis.

Edwin mengatakan, jika dilihat dari runutan sejarah dan de facto, Indonesia memiliki bukti yang kuat mengenai asal usul pencak silat dimana di tanah air sendiri memiliki ratusan paguron pencak silat dengan berbagai aliran.

“Sebetulnya Malaysia dan Indonesia itu masih saudara, kita serumpun, tapi persoalan untuk pencak silat mereka merasa ada hak atau rasa memiliki. Secara de facto aliran pencak silat di Indonesia ada ratusan, sedangkan di Malaysia puluhan,” katanya.

“lalu kemudian sejarah panjang Indonesia merdeka lebih dulu pada tahun 1945, tetapi sebelum itu jika melihat rentang jejak ke belakang, banyak kerajaan di tanah air melibatkan unsur silat. Jadi dilihat dari aspek sejarah, aspek aliran dan paguron, termasuk budaya di Indonsia lengkap,” tambahnya.

MASPI Pencak Silat.*/DOK PR

Dia menambahkan, satu hal yang tidak dimiliki oleh negara lain dari pencak silat ini adalah Indonesia memiliki kendang penca yang menjadi tradisi atau budaya dari pencak silat tradisional khas.

“Hanya Indonesia yang bisa. Kelebihannya darti kendang penca ini kalau di cabang olah raga bela diri lainnya, atlet atau praktisi gerakannya mengikuti music, di kendnag penca justru sebaliknya, musik bisa mengikuti gerakan dari pesilat dan itu benar-benar original,” ucapnya.

Untuk mendukung agar UNESCO bisa menetapkan pencak silat bisa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda Indonesia pada tahun 2019, Maspi pun terus melakukan kosolidasi dengan berbagai elemen lainnya agar hal ini bisa segera terwujud.

Selain melakukan pertemuan dengan berbagai unsur, Maspi juga gencar melakukan sosialisasi ke berbagai negara seperti seperti Selandia Baru, Jerman, Dubai, Belanda, dan negara lainnya. Bahkan Maspi juga rutin mengadakan temu pendekar internasional setiap tahunnya.

Edwin berharap dengan kepengurusan Maspi saat ini, pencak silat bisa semakin dikenal, sehingga bisa benar-benar dicintai, dilestarikan, dan dikembangkan.***

 

Bagikan: