Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Ratu Tisha Sebut PSSI Akan Duduk bersama Polisi dan FIFA

Wina Setyawatie
SEKJEN PSSI, Ratu Tisha Destria menjawab pertanyaan wartawan seusai memenuhi panggilan pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di Jakarta, Jumat 28 Desember 2018. Ratu Tisha dimintai keterangan terkait kasus dugaan pengaturan skor dalam pertandingan Sepak Bola Liga 3 . */ANTARA FOTO
SEKJEN PSSI, Ratu Tisha Destria menjawab pertanyaan wartawan seusai memenuhi panggilan pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di Jakarta, Jumat 28 Desember 2018. Ratu Tisha dimintai keterangan terkait kasus dugaan pengaturan skor dalam pertandingan Sepak Bola Liga 3 . */ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Semakin banyaknya anggota eksekutif (exco) dan insan sepak bola PSSI yang tersangkut kasus pengaturan skor dalam kompetisi sepak bola nasional, membuat PSSI akhirnya mulai mengambil sikap. Mereka akan membahas dengan pihak kepolisian untuk mencari langkah selanjutnya sebelum agenda Kongres Tahunan PSSI, 20 Januari mendatang di Bali. 

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria kepada wartawan setelah menjalani pemeriksaan selama lima jam di Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor di Gd. Ombusdman, Kuningan, Jakarta, Jumat 28 Desember 2018 malam. Langkah selanjutnya yang dimaksud adalah untuk pembenahan organisasi. Karena seperti yang diketahui, saat ini sudah ada tiga anggota exco yang tersangkut masalah pengaturan skor. Bahkan Johar Lin Eng yang juga Kepala Komite Futsal PSSI sudah berstatus tersangka oleh pihak kepolisian.

Pihaknya mengatakan akan mengundang FIFA untuk membantu PSSI membenahi masalah pengaturan skor ini, pada Januari mendatang. PSSI berharap FIFA bisa memberikan arahan terkait dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) Komite Ad Hoc yang akan jadi tim pencari fakta PSSI terkait pengaturan skor ini. 

"Harus ada pembenahan organisasi dulu kedepannya. Di awal Januari, sebelum kongres, kami akan mengadakan rapat dengan pihak kepolisian dan FIFA untuk membahas lebih lanjut tupoksi yang komparatif dari masing-masing kelembagaan," katanya. 

Menurut Tisha, PSSI tidak bisa berjalan sendiri untuk memerangi permasalahan dalam sepak bola Indonesia ini. Tugas PSSI melalui Komisi Disiplin (Komdis) menurutnya akan tetap berjalan, meskipun pihak kepolisian juga telah jalan untuk melakukan pemeriksaan. Mengingat tugas dari Komdis berbeda dengan pihak Satgas.

"Ini perlu disepakati, bahwa peran yang mereka emban berbeda. Meski sudah ada pemeriksaan di Satgas, proses di Komdis kami pastikan akan tetap berlanjut. Itu sesuai dengan tupoksi Komdis yang berjalan di sisi hukum sepakbolanya. Itu yang harus kita hargai bersama," tuturnya. 

Sementara itu, mengenai kewajiban untuk penggantian exco PSSI yang sudah tersangka, menurut Tisha, aturannya ada di statuta PSSI. Tertulis, bila kekosongan exco tidak kurang dari 50 persen maka tidak ada aturan yang mewajibkan membahas pergantian exco. 

"Namun, bila kekurangannya lebih dari 50 persen (tidak quorum), baru harus dilakukan pemilihan untuk exco. Kewenangan itu adanya di kongres," ungkapnya. 

Edy Rahmayadi akan dipanggil Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor?

Pemeriksaan kasus pengaturan skor dalam sepak bola nasional mungkin saja juga akan menyasar Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang kini juga menjadi Gubernur Sumatera Utara. Dipanggilnya Edy, menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo kemarin, tergantung dari pengembangan penyelidikan dari para saksi yang telah dipanggil. 

"Sangat tergantung dari pemeriksaan para saksi," tuturnya. 

Sejauh ini, ujar Dedi, pihak Edy memberikan respon yang baik dan menyatakan sangat mendukung langkah cepat yang dilakukan pihak kepolisian saat ini untuk membongkar praktik pengaturan skor tersebut. 

Salah satu exco yang namanya juga tersangkut pengaturan skor Papat Yunisal mengaku juga sudah dipanggil oleh pihak Bareskrim, Senin 24 Desember 2018 lalu di Polda Metro. Dia ditanya selama tiga jam oleh penyidik seputar tuduhan pengaturan skor yang menyeret namanya dan tentang kronologis soal pemilihan Manajer serta pelaksanaan Pelatnas Timnas U-16 putri. 

"Kalau tidak salah yang diperiksa pertama itu saya. Sebetulnya itu bukan diperiksa tapi klarifikasi karena pasalnya jelas, pencucian, penipuan, dan pengaturan skor. Kebetulan itu bukan kapasitas saya, karena hubungan saya hanya dengan sepak bola wanita. Jadi, semuanya apa yang diklarifikasi mentoknya saya tidak tahu itu. Karena yang ditanya soal pertandingan 2017, sedangkan saya baru aktif untuk pengembangan sepakbola wanita itu Maret 2018," ucapnya menjelaskan. 

Saat ini, sudah ada empat orang "football family" PSSI yang terjerat kasus pengaturan skor ini, yakni Johar (J), Dwi Irianto (Mbah Putih), Priyanto (P), dan Anik Yuni Artika (A). Mereka tersangkut masalah pidana penipuan dan atau penggelapan dan atau tindak pidana pencucian uang sesuai Pasal 378 KUHP, Pasal 372 KUHP, UU No.11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan atau Pasal 3, 4, 5, UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.***

Bagikan: