Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 15.5 ° C

Dwi Irianto "Mbah Putih" Diamankan Satgas Antimafia Bola

Wina Setyawatie
Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria menjawab pertanyaan wartawan seusai memenuhi panggilan pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di Jakarta, Jumat, 28 Desember 2018. Ratu Tisha dimintai keterangan terkait kasus dugaan pengaturan skor dalam pertandingan Sepak Bola Liga 3 .*/ANTARA
Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria menjawab pertanyaan wartawan seusai memenuhi panggilan pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di Jakarta, Jumat, 28 Desember 2018. Ratu Tisha dimintai keterangan terkait kasus dugaan pengaturan skor dalam pertandingan Sepak Bola Liga 3 .*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Setelah sehari sebelumnya dasas-desus diamankannya anggota Komisi Disiplin PSSI yang juga Asprov DIY Dwi Irianto atau lebih dikenal dengan nama Mbah Putih tidak terbukti. Pada Jumat, 28 Desember 2018, Dwi akhirnya ditangkap oleh Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor Bareskrim Polri.

Dia ditangkap di Hotel New Saphire, Yogyakarta pada pukul 10.00 WIB dan langsung dibawa ke Jakarta untuk diperiksa di Polda Metro Jaya. Dwi menjadi orang keempat yang ditahan oleh pihak Bareskrim terkait kasus pengaturan skor dalam pertandingan Liga 3 di daerah Jawa Tengah.

Hal tersebut berdasarkan keterangan Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jumat, 28 Desember 2018. Keterlibatan Mbah Putih berdasarkan penelusuran dari keterangan tiga tersangka lainnya yang telah terlebih dahulu diamankan sebelumnya.

Sehari sebelumnya, Dwi di Yogyakarta bertemu dengan media. Dia menampik tuduhan terlibat dalam pengaturan skor seperti yang dituduhkan kepadanya oleh mantan Manajer Persibara Banjarnegara Laksmi Indriyani. Menurut Dwi, dirinya tidak tahu menahu dengan adanya janji-janji yang disepakati sebelumnya, mengingat dirinya mengaku tidak mengikuti prosesnya sejak awal.

Namun, dirinya tidak menampik memang bertemu dengan Laksmi. Itupun untuk membahas teknis dan bukan hal lainnya.

"Saya dimintai tolong oleh Ketua Asprov Jateng, Johar Lin Eng untuk membantu Persibara. Saya datang tidak berbicara apapun diluar hal teknis. Karena memang pertandingan pertama itu memang sama-sama jelek performanya, dan saya dimintai masukan secara teknis," ucapnya.

Dalam masukan teknisnya, menurut Dwi, Persibara memang tidak memiliki skuad yang mumpuni. Hal tersebut disampaikannya langsung oleh Laksmi.

"Saya sama sekali tidak mengetahui ada perjanjian lain dibelakangnya," ujarnya.

Dirinya hanya mempertanyakan kenapa namanya ikut dicatut dan dianggap telah melakukan penipuan. Melihat di Mata Najwa, Laksmi sudah berkali-kali tertipu, menurut dia begitu sudah gagal (tidak terbukti iming-imingnya-red) terus, seharusnya Laksmi berhenti disitu. Tidak diteruskan. Nyatanya, kembali lagi Laksmi kerjasama dengan P dan A. 

Dwi mengatakan bahwa dirinya punya kunci dan dia akan membukanya pada saat yang tepat nanti di depan penyidik. 

Jika melihat catatan pengeluaran dari pihak Persibara, Mbah Putih atau Dwi dua kali menerima uang dari manajemen. Pertama sebesar Rp 15 juta untuk pertandingan antara Banjarnegara vs Kediri, dan yang kedua senilai Rp 10 juta untuk pertandingan Kediri vs Banjarnegara di Kediri.

Pada saat penangkapan Dwi, pihak Satgas kemarin juga memanggil Sekjen PSSI Ratu Tisha. Panggilan yang dilayangkan pukul 10.00 WIB, kemudian mundur menjadi pukul 16.00 WIB karena sesuatu hal.

Tisha pun datang ke Gd. Ombudsman untuk diperiksa pada pukul 15.45 WIB. Hingga pukul 17.30 WIB dia belum turun juga dari Lt.2 tempat pemeriksaan Bareskrim.

Menolak hadir

Sementara itu, di tempat berbeda, Komisi Disiplin PSSI kemarin memanggil mantan Manajer Persibara untuk dimintai keterangan seputar pernyataannya di Mata Najwa di kantor lama PSSI, Kuningan Ofice Park pada pukul 14.00 WIB. Laksmi kemarin tidak hadir.

Laksmi melalui kuasa hukumnya, Boyamin Saiman di Banjarnegara menyatakan menolak hadir, karena mengaku sudah tidak lagi menjadi bagian dari "football family" PSSI. Mengingat kini dia tidak lagi memegang klub ataupun menjadi manajer Timnas sepakbola putri lagi. Dirinya mengatakan bahwa saat ini sedang berkonsentrasi dengan kasus pidana penyuapan dan penipuan Liga 3 yang tengah ditangani oleh Satgas.

"Bahwa perkara dugaan permainan dalam pertandingan sepak bola telah ditangani oleh penegak hukum kepolisian sehingga Kami menghormati dan mempercayakan sepenuhnya kepada pihak penegak hukum serta tidak ingin terjadi campur aduk tumpang tindih oleh berbagai lembaga dan kepentingan lain. Kami berharap PSSI menghormati dan mendukung langkah kepolisian dengan tidak melakukan tindakan lain yang berpotensi mengintervensi dan mengganggu proses di kepolisian. Kedua, surat hanya ditandatangani oleh Sekjen tanpa ada tembusan ke Ketua Umum PSSI sebagai laporan," ujarnya. 

Ketiga, bahwa Laksmi sudah tidak lagi menjadi pengurus atau organ apapun di PSSI. Hingga tidak ada kewajiban untuk tunduk dengan PSSI.

Atas penolakan tersebut, Wakil Ketua Komdis, Umar Husin dalam pesan singkatnya hanya mengatakan bahwa pihaknya belum mengambil tindakan apapun. Termasuk belum ada sanksi.

"Kami akan melakukan pemanggilan kembali yang bersangkutan," ujarnya kemudian. 

Hari ini, Sabtu, 29 Desember 2018, ada 25 akun instagram yang dipanggil oleh Komdis untuk dimintai keterangan terkait penyampaian informasi terkait dugaan pengaturan skor yang diketahui dan disampaikan di media sosial. Pemanggilan tersebut dilakukan secara resmi lewat surat, salah satunya nomor 5649/UDN/2177/XII-2018 pukul 14.00 WIB di Rasuna Ofice Park.***

Bagikan: