Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor Periksa Sesmenpora, BS Terima Sanksi Seumur Hidup

Wina Setyawatie
SESMENPORA Gatot S Dewo Broto (kiri) saat meluncurkan buku "Turbulensi Sport di Indonesia, Sport Uniting The Nation", di Jakarta, Kamis 15 November 2018.*/ANTARA FOTO
SESMENPORA Gatot S Dewo Broto (kiri) saat meluncurkan buku "Turbulensi Sport di Indonesia, Sport Uniting The Nation", di Jakarta, Kamis 15 November 2018.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Pertanyaan seputar kompetisi sepak bola Indonesia dan pengawasannya ditanyakan kepada Sekretaris Kemenpora (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto oleh Satgas Pemberantasan Pengaturan Skor bentukan Bareskrim Polri pada pemeriksaan yang dilakukan di Gd. Ombudsman, Jakarta, Rabu 26 Desember 2018. Ada 25 pertanyaan yang diajukan oleh penyidik selama tiga jam pemeriksaan. 

"Siang ini saya baru saja memenuhi panggilan Bareskrim untuk pemeriksaan oleh Satgas yang baru saja dibentuk dalam rangka menuntaskan pengaturan skor. Tadi pemeriksaan berjalan baik dari pukul 10.00 wib hingga 14.00 wib yang terbagi dalam dua sesi. Praktis pemeriksaan berjalan tiga jam," ucapnya usai pemeriksaan.

Dalam pemeriksaan, menurut Gatot, ada 25 pertanyaan yang diajukan. Materinya mulai dari yang bersifat umum. Seperti sekitar tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dirinya selaku Sesmenpora, hingga bergulirnya kompetisi dan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), serta terakhir soal komitmen Kemenpora menyelesaikan masalah pengaturan skor ini. 

"Saya diminta untuk menjelaskan hal-hal tersebut dan pastikan bagaimana komitmen Kemenpora untuk masalah pengaturan skor ini. Saya sampaikan bahwa pihak kami berkomitmen bersama-sama dengan Satgas Bareskrim sepenuhnya mendukung agar masalah ini cepat tuntas," tuturnya. 

Gatot pada saat pemeriksaan kemarin didampingi dengan dua staf Kemenpora dari Biro Hukum. Dalam pemeriksaan tersebut, Gatot juga membawa dua dokumen terkait. Pertama dokumen tentang referensi umum 'Esensi Penuntasan Skor' serta satu lagi dokumen laporan lengkap Tim 9 Kemenpora yang merupakan tim ad hoc pencari fakta terkait indikasi "sepak bola gajah" yang terjadi pada kompetisi sepak bola nasional musim 2015 lalu. 

"Ada dua pertanyaan terkait (masalah pengaturan skor) yang ditanyakan oleh pemeriksa. Pertama soal apakah saya mengetahui adanya suatu pertandingan yang berlangsung pada tanggal X antara kesebalahan ini melawan kesebelasan ini. Lalu, pertandingan lainnya tanggal Y antara tim ini dengan tim itu. Saya sampaikan bahwa kami tidak memonitor secara khusus, mengingat sifatnya itu sudah masuk teknis dan itu di luar kewenangan kami. Saya juga sampaikan selama Liga 1 bergulir, saya pun hanya menonton partai puncak saja, saat Persija Jakarta melawan Mitra Kukar, itu pun karena undangan saja," kata Gatot menambahkan. 

Pertanyaan seputar masalah bandar pengaturan skor pun, menurut Gatot sempat ditanyakan juga. Hanya saja hal itu ternyata tidak tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang pada akhir pemeriksaan ditandatanganinya. 

"Meskipun pertanyaan soal bandar judi tidak masuk dalam BAP, tadi kami sampaikan bahwa pada tanggal tertentu pada awal 2015 lalu saat Tim 9 masuk bekerja, kami sudah memanggil seorang "runner" (penghubung antara bandar dan pemain/klub). Asumsi kami, ketika itu, dia bisa menjadi seorang whistle blowing (pelapor pelanggaran). Tetapi faktanya, yang bersangkutan tidak menjadi apa yang kami minta. Hal itu juga kami serahkan kepada penyidik," imbuhnya. 

Setelah pemeriksaan pertama ini, apakah dirinya akan kembali dipanggil lagi, Gatot mengaku tidak tahu. Namun, pihaknya berjanji koorperatif sepenuhnya seandainya dirinya atau pihak lain di Kemenpora kembali dipanggil. 

Pada pemeriksaan selanjutnya, Kamis 27 Desember 2018 pihak Satgas kembali akan memanggil pihak PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator pertandingan Liga 1, yakni CEO-nya Risha Adi Wijaya, serta dua orang wasit M. Reza Pahlevi dan Agung Setiawan. Menurut Gatot, Penyidik Satgas sempat mengatakan jika Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destaiara yang sempat manggil di pemanggilan pertama Jumat 21 Desember 2018 lalu akan kembali dipanggil.

Sementara Jumat 28 Desember 2018 akan ada tiga orang terakhir yang akan dipanggil, yakni Ketua Komisi Disiplin PSSI Asep Erwin, mantan anggota Komite Eksekutif PSSI Hidayat, dan Kepala Biro Hukum Kemenpora Sanusi. 

Sanksi seumur hidup

Bambang Suryo (BS) yang belakangan disebut sebagai runner pengaturan skor di kompetisi sepak bola Tanah Air, kemarin akhirnya secara resmi dihukuman seumur hidup oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. BS yang saat ini menjabat sebagai Manajer klub sepakbola nasional Liga 3 Persekam Metro FC dihukum berdasarkan surat Komdis PSSI bernomor 024/L3/SK/KD-PSSI/XII/2018. 

Keputusan itu keluar berdasarkan sidang Komdis pada 19 Desember lalu, dimana dia dipanggil untuk dimintai keterangan seputar indikasi terjadinya pengaturan skor di Liga 3 namun mangkir. Dalam surat tersebut tertulis jika Komdis menghukum lantaran BS terbukti mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi percakapan whatsapp kepada pelatih PS Ngada, Kletus Gabhe meminta uang sejumlah Rp 100 juta agar PS Ngada bisa lolos bersama menuju 32 besar. 

Percakapan BS tersebut ternyata direkam oleh Pelatih Ngada untuk menjadi barang bukti. Kletus pun mengaku menolaknya sebab timnya tidak memiliki uang sebanyak itu. 

"Hal itu diperkuat dengan bukti-bukti yang cukup untuk menegaskan terjadinya pelanggaran disiplin. Putusan ini memperkuat putusan Komdis PSSI Tahun 2015 lalu dengan merujuk pada Pasal 72 ayat (4) jo. Pasal 141 Kode Disiplin PSSI dimana Sdr. Bambang Suryo dihukum larangan ikut serta dalam aktifitas kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup," tulis Ketua Komdis Asep Erwin dalam surat tersebut. 

BS pernah mendapatkan hukuman serupa pada 2015 lalu. Dimana dia dinilai terbukti kuat terlibat dalam sepak bola gajah dalam Babak 8 Besar Divisi Utama yang mempertemukan PSIS Semarang dan PSS Sleman, pada 24 Oktober 2014 lalu di Sasaran Krida Akademi Angkatan Udara (AAU).

Pada laga tersebut, PSS menang 3-2 atas PSIS lewat lima gol bunuh diri. Peristiwa sepak bola gajah tersebut terjadi karena muncul instruksi agar menghindari tim kuat Borneo FC pada babak berikutnya. Hukuman BS pada 2015 kemudian sempat diputihkan lewat Kongres PSSI setelah sanksi pembekuan PSSI dicabut oleh FIFA pada Mei 2016 lalu. ***

Bagikan: