Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

Komdis PSSI Jatuhkan Sanksi Ringan untuk Hidayat

Wina Setyawatie

JAKARTA, (PR).- Komisi Disiplin secara resmi telah mengeluarkan putusannya atas kasus indikasi pengaturan skor yang dilakukan mantan anggota Komite Eksekutif PSSI, Hidayat. Berbeda dengan putusan Komisi Disiplin sebelumnya yang dijatuhkan untuk para aktor pengaturan skor, kali ini sanksi yang diberikan cukup ringan. 

Bila tiga tahun lalu, Komdis menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup berkecimpung di sepak bola dan dilarang untuk datang ke stadion untuk aktor pengaturan skor, maka kali ini mereka memberikan sanksi lebih ringan.

Hidayat dinyatakan bersalah oleh Komdis karena dinilai telah mencoba melakukan pengaturan skor antara PSS Sleman dan Madura FC di Liga 2. Dia dianggap melanggar Pasal 65 Kode Disiplin PSSI, yakni perjudian atau tindakan curang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi Disiplin PSSI Umar Husein saat dihubungi wartawan, Selasa, 4 Desember 2018. Menurut Umar, Hidayat terkena tiga sanksi.

"Tiga sanksi dijatuhkan kepada Hidayat. Pertama dilarang beraktifitas dalam sepak bola tanah air selama tiga tahun. Kedua, dilarang masuk ke stadion, dan denda uang sebesar Rp 150 juta. Sanksi efektif pada saat putusan Komdis ini dikeluarkan. Kecuali ada kasus lain yang turut melibatkannya lagi," ujarnya.

Pengawasan akan berjalannya sanksi tersebut menurut dia ada di tangan PSSI. Dengan keluarnya Hidayat sebagai exco dan keluarnya putusan Komdis ini, maka kelanjutan kasus ini dinilai sudah selesai. 

"Karena pak Hidayat sudah mengundurkan diri sebagai exco PSSI, maka tidak perlu memecat lagi. Hingga pengawasan akan pelaksanaan sanksi tersebut, itu merupakan tugas PSSI," tuturnya.

Mengapa hukumannya lebih ringan dibandingkan para aktor pengaturan skor sebelumnya, menurut dia, karena Hidayat hanya terkena Pasal 65 yang menyoroti kasus judi. Dalam pasal tersebut disebutkan, orang yang melakukan segala jenis taruhan atau yang berkaitan dengan pertandingan sepak bola atau kompetisi merupakan pelanggaran. 

Tingkah laku buruk terlibat taruhan, judi baik dengan cara meminta, mendukung menawarkan untuk melakukan taruhan agar memperoleh keuntungan baik untuk keuntungan sendiri atau untuk keuntungan orang lain, dengan cara dan mekanisme apapun yang digunakan kepada atau oleh perangkat pertandingan, pengurus, ofisial, pemain, atau siapa saja yang berhubungan dengan aktivitas sepak bola atau pihak ketiga baik yang dilakukan atas nama pribadi atau atas nama pihak ketiga itu sendiri untuk berbuat curang dan atau melakukan pelanggaran disiplin harus disanksi.

"Bahkan sebenarnya untuk hukumannya sekurang-kurangnya hanya larangan beraktivitas dalam sepak bola selama 12 bulan. Bila diulang baru, larangan memasuki stadion sekurang-kurangnya 24 bulan atau dua tahun, serta terkena denda sekurang-kurangnya Rp 50 juta bahkan. Kecuali kita berbicara konspirasi. Itu pasalnya lain lagi, yakni Pasal 72 itu putusan hukumannya baru seumur hidup," ungkapnya. 

Sementara untuk kasus ini, menurut dia, Hidayat hanya mengaku kerja sendiri. Jadi tidak tahu siapa yang menyuruhnya.

"Dia tidak mengaku bersama siapa. Dia kerja sendiri, jadi masalah konspirasi itu tidak terjadi. Dua baru mencoba, kebetulan Maduranya enggak mau. Kan beda, kalau Maduranya mau, itu baru bisa kena pasal konspirasi, dengan denda Rp 250 juta dan hukuman pun seumur hidup," ucapnya.***

Bagikan: