Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Penerapan Hukum yang Menjerat Mafia Sepak Bola Selama Ini Salah Kaprah

Yusuf Wijanarko

BANDUNG, (PR).- Bobotoh Persib yang juga Peneliti Hukum Olah Raga Kemenkumham Eko Noer Kristiyanto menilai, munculnya isu pengaturan skor di kancah sepak bola Indonesia harus menjadi momentum bagi PSSI untuk bebenah. Negara dan aparat penegak hukum harus turun tangan mengusut mafia sepak bola.

Eko Noer Kristiyanto mengatakan, para pelaku suap di kancah sepak bola Indonesia bisa dijerat Undang-Undang Nonor 11 tahun 1980 tentang pidana suap. UU itu bisa menjerat siapapun pelaku suap, termasuk para pelaku pengaturan skor.

"Dalam hasil penelitian saya beberapa tahun lalu, aparat keamanan salah menjerat Johan Ibo. Itu kasus suap tahun 2015. Johan Ibo ditangkap di Surabaya. Motifnya jelas mau menyuap, tapi kepolisian melepaskan yang bersangkutan karena kurangnya bukti dan dianggap tidak merugikan keuangan negara. Artinya, suap yang dimaksud aparat hukum adalah yang termasuk tindak pidana korupsi. Jelas kalau dijerat UU Tipikor tidak akan bisa, tapi pakai UU Nomor 11 tahun 1980," ujarnya.

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1980 tentang pidana suap luput dari perhatian banyak pihak termasuk para aparat penegak hukum. Padahal, salah satu alasan dibuatnya aturan tersebut untuk menyelesaikan kasus suap dalam dunia olah raga.

"Memang UU ini tidak populer, luput dari perhatian bahkan tidak diketahui oleh aparat penegak hukum. Selama ini kasus penyuapan yang melibatkan wasit juga hanya diberi sanksi oleh PSSI dan tidak ada tindak lanjut ke ranah hukum," ujarnya dalam seperti dilaporkan Prfmnews 2 Desember 2018.

Eko Noer Kristiyanto mengatakan, PSSI tidak bisa menyelesaikan kasus suap sendiri. Butuh andil aparat penegak hukum agar para pelaku yang terlibat bisa diadili.

Menurutn dia, PSSI hanya bisa bertindak sebatas penjatuhan sanksi kepada pelaku maupun klub, sementara aparat bisa membawa kasus suap hingga ke pengadilan.

"PSSI hanya bisa memberi sanksi, selebihnya urusan aparat hukum. Bandar atau mafia terbesar yang mengendalikan sepak bola dunia ada di Asia Tenggara. Liga Eropa bisa mereka kendalikan, apalagi liga di Indonesia," katanya.

Jangan hanya sebut nama



Nama Sigit Waluyo kini tengah ramai diperbincangkan. Petinggi PS Mojokerto Putra itu dituduh menjadi dalang pengaturan skor oleh Bambang Suryo, mantan rekan seprofesi Sigit Waluyo.

Menanggapi isu ini, pengamat sepak bola yang juga mantan pemain Persib, Supriyono Prima mendesak PSSI mengusut tuntas kasus pengaturan skor meski tidak akan mudah.

"Jangan hanya dibongkar nama-namanya, harusnya dituntaskan meski tidak mudah karena banyak kepentingan," ujarnya

Menurut dia, pengaturan skor merupakan benalu yang membuat sepak bola Indonesia semakin bobrok. Tak heran, Timnas Indonesia sulit berprestasi dan bersaing dengan negara tetangga.

"Memang butuh kesamaan visi dari semua pemangku kepentingan jika ingin sepak bola Indonesia maju. Mafia-mafia seperti ini harus diberantas meski tidak mudah," ujar Supriyono.

Dia mengatakan, semua orang yang berkaitan dengan sepak bola harus memiliki sportivitas dan kecerdasan. "Makanya nilai-nilai ini (sportivitas) harus ditanamkan sejak dini," tuturnya.

Supriyono berharap kasus pengaturan skor segera dituntaskan agar tidak melibatkan FIFA. Sebab, bila FIFA sudah turun tangan, dampaknya akan panjang. "Jangan sampai sepak bola kita dibekukan lagi," ujarnya.***

Bagikan: