Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Dugaan Komite Eksekutif Terlibat Pengaturan Skor, Ini Tanggapan Wakil Ketua PSSI

Wina Setyawatie
SUPORTER membentangkan spanduk dalam partai perempat final Piala Asia U-19 antara Indonesia melawan Jepang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu, 28 Oktober 2018 lalu.*
SUPORTER membentangkan spanduk dalam partai perempat final Piala Asia U-19 antara Indonesia melawan Jepang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu, 28 Oktober 2018 lalu.*

JAKARTA, (PR).- Indikasi kembalinya mengaturan skor dalam kompetisi sepak bola profesional kembali  terjadi. Setelah isu ini sempat menghilang selama tiga tahun, kini muncul lagi.

Indikasi itu terangkat lagi lewat tayangan Mata Najwa di Trans7, dengan tema ‘PSSI Bisa Apa’, Rabu, 28 November 2018 malam. Dalam acara tersebut Manajer Madura FC, Januar Herwanto mengungkap fakta mengejutkan. Bahwa ada salah satu anggota Komite Eksekutif yang berniat mengatur skor, inisial H, dalam salah satu pertandingan di kompetisi Liga 2.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua PSSI Joko Driyono belum mau mengeluarkan pernyataan apapun untuk saat ini. Dia mengaku masih ingin membaca secara lengkap dulu kondisi yang terjadi saat ini.

 

"Sudah banyak komentar dari yang lain bertebaran. Saya belum mau komentar dulu. Nanti ada waktunya saya akan berbicara panjang lebar. Dalam waktu dekat ini, biar saya baca dulu secara lengkap kondisi saat ini," ujarnya saat dihubungi "PR".

Kebanyakan pertandingan yang menjadi sorotan dalam indikasi adanya pengaturan skor ada di Kompetisi Liga 2. Beberapa yang janggal, seperti pertandingan PS Mojokerto Putera dengan Aceh United. Dimana penalti yang dilakukan pemain Mojokerto, Krisna Adi Darma terlihat melenceng jauh di sisi kiri gawang Aceh United.

Bila melihat dari tayangan ulang, dia terlihat seperti sengaja tidak mengarahkan bola ke gawang. Tendangannya, di lihat dari gerak tubuh, mengarahnya ke sisi kiri gawang.

Lalu, indikasi lain dari daftar yang dirilis "Save Our Soccer" (SOS) adalah pertandingan antara Kalteng Putra dan Semen Padang. Kalteng Putra awalnya menolak wasit dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), Syahrial Panggabean asal Sumatra dengan alasan etika. PSSI mengirimkan penggantinya, hanya saja ternyata wasit yang digunakan tetap Syahrial.

SOS pun mengindikasi adanya kejanggalan. Mereka menilai bahwa keduanya mengamankan posisi untuk lolos dengan "kesepakatan".

Sementara untuk Liga 1, tim yang diterpa rumor pengaturan skor adalah Persib Bandung. Ketika kalah 0-1 atas PSMS Medan. 

Digelar serentak



Guna menghindari ada indikasi pengaturan skor lagi, maka pekan terakhir Liga 1 dan Liga 2 akan digelar serentak. Ini merupakan keputusan PT LIB sebagai operator kompetisi dengan mempertimbangkan aspek keadilan. PT LIB pun telah mengirimkan surat kepada manajemen klub tertanggal 27 November lalu.

Jika benar ditemukan adanya oknum yang terlibat dalam pengaturan skor, maka sesuai dengan Statuta PSSI, hukuman maksimal adalah tidak boleh lagi berkecimpung dalam dunia sepak bola apapun yang berafiliasi dengan PSSI atau FIFA. Hukuman lain beragam, tergantung dari hasil pemeriksaan Komisi Displin PSSI.

Banyak pihak yang mengatakan bahwa munculnya masalah ini berasal dari rangkap jabatan yang dilakukan oleh Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara. Dia dinilai tidak fokus mengelola PSSI, karena perhatiannya terbagi sebagai pimpinan daerah, hingga masalah di sepak bola yang sudah lama menghilang kembali muncul.***

Bagikan: