Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Hadapi Timnas Indonesia, Singapura Butuh "Patroli Polisi" untuk Hentikan Febri Hariyadi

Wina Setyawatie
PELATIH Timnas Indonesia Bima Sakti (kedua kiri) didampingi Hansamu Yama (kiri) berjabat tangan dengan Pelatih Singapura Fandi Ahmad (kedua kanan) dan Hariss Harun saat konferensi pers piala AFF 2018 di Stadion Nasional, Singapura, Kamis 8 November 2018. Indonesia akan menjalani laga perdana penyisihan grub B Piala AFF 2018 melawan Singapura di Stadion Nasional, Singapura pada Jumat 9 November 2018.
PELATIH Timnas Indonesia Bima Sakti (kedua kiri) didampingi Hansamu Yama (kiri) berjabat tangan dengan Pelatih Singapura Fandi Ahmad (kedua kanan) dan Hariss Harun saat konferensi pers piala AFF 2018 di Stadion Nasional, Singapura, Kamis 8 November 2018. Indonesia akan menjalani laga perdana penyisihan grub B Piala AFF 2018 melawan Singapura di Stadion Nasional, Singapura pada Jumat 9 November 2018.

SINGAPURA, (PR).- Pelatih Timnas Indonesia Bima Sakti menilai, laga pertama di kandang lawan tidak pernah mudah sehingga dia mencoba membuat Timnas seakan bermain di rumah sendiri saat bertemu Singapura di laga babak penyisihan Grup B Piala AFF 2018.

"Selalu sulit untuk pertandingan pertama. Apalagi ini bermain di kandang lawan, pemain pasti gugup dan itu wajar. Kami berusaha untuk fokus ke pemain, karena kami butuh poin absolut untuk bisa menambah kepercayaan diri saat nanti kami bermain di Jakarta lawan Timor Leste nanti," katanya dalam jumpa pers di Stadion Nasional, Singapura, Kamis 8 November 2018.

Persiapan minim Timnas yang hanya 3 pekan, menurut dia,  bukan suatu kendala karena Bima Sakti menilai skuatnya memiliki pengalaman yang bagus. Hampir seluruh pemain adalah skuat yang tampil di Asian Games 2018.

"Saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengubah tim dan program latihan sehingga yang kini masih dijalani adalah program yang dibuat di bawah kepelatihan Luis Milla," tuturnya.

Semua pemain Timnas saat ini dinilai sebagai satu bagian penting. Di mata Bima Sakti, tidak pernah ada yang istilah pemain cadangan.

"Semua pemain dalam tim saya adalah penting karena butuh pemain yang bagus untuk bisa menyatukan tim. Semua punya kesempatan yang sama. Jadi, saya menerapkan bahwa semua pemain adalah pemain inti dan semua istimewa. Kami punya pemain sayap yang bagus dan kami akan memanfaatkan mereka untuk lebih banyak menyerang nanti,"  katanya.

Lini serang jadi perhatian



Mengomentari calon lawannya, Bima Sakti menyebut kalau "The Lions" kini punya pemain yang bagus terutama di lini serang. Bukan hanya itu, Singapura juga dinilainya memiliki organisasi permainan bagus dan transisi berbahaya.

"Yang pasti kami harus siap untuk permainan yang kuat dan sengit,"  tutur Bima Sakti.

Kecepatan Febri Hariyadi



Sementara itu, Pelatih Singapura Fandi Ahmad sangat mewaspadai pergerakan cepat para pemain Indonesia. Pemain sayap Indonesia dinilai memiliki banyak ruang bisa dimanfaatkan di belakang mereka.

"Pemain Indonesia bisa sangat berbahaya di belakang, kami harus ekstra hati-hati," ujarnya.

Menurut Fandi Ahman, salah satu pemain yang paling diwaspadainya adalah Febri Haryadi. Bahkan sembari bergurau, karena sangkit cepat dan bagusnya pergerakan Febri Hariyadi, menurut dia, butuh patroli polisi untuk mengawal pergerakan pemain Persib Bandung tersebut.

"Saya sudah memperhatikan Febri Hariyadi dalam 2-3 tahun ini, dia memiliki potensi besar tapi yang berbahaya bukan hanya Febri Hariyadi. Ada Beto (Alberto Gonzalves) dan beberapa pemain lainnya yang bisa jadi ancaman. Hal itu tidak masalah, karena yang penting kami akan bermain dengan permainan kami sendiri," ujarnya.

Untuk bisa mengimbangi permainan Timnas Indonesia, Fandi Ahmad telah mempersiapkan 2-3 pemainnya sebagai kunci serangan mereka yang dinilainya bisa membahayakan gawang Indonesia.

Baginya, Timmasn Indonesia  di bawah arahan Bima Sakti lebih berbahaya dibandingkan tim yang ditangani Luis Milla.

Bima Sakti dipandang sebagai legenda oleh para pemainnya sehingga pemain memiliki rasa hormat.

Dibandingkan Indonesia, kata Fandi Ahmad, timnya kurang memiliki pemain muda potensial. Meski begitu, dia tetap mengatakan bahwa mereka tahu apa yang mereka mau.***

Bagikan: