Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 23.6 ° C

Pengurus Besar Cabang Olahraga Diminta Proaktif Soal Bonus Asian Games 2018

Wina Setyawatie
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla melihat isi buku tabungan saat pemberian bonus kepada atlet peraih medali di Istana Negara, Jakarta, Minggu, 2 September 2018 lalu. Pemerintah memberikan bonus kepada para atlet yang berhasil meraih medali dalam ajang Asian Games 2018.*
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla melihat isi buku tabungan saat pemberian bonus kepada atlet peraih medali di Istana Negara, Jakarta, Minggu, 2 September 2018 lalu. Pemerintah memberikan bonus kepada para atlet yang berhasil meraih medali dalam ajang Asian Games 2018.*

JAKARTA, (PR).- Pemerintah meminta agar uang bonus Asian Games 2018 yang telah cair dan masuk dalam rekening, untuk segera dikomunikasikan pihak induk cabor (Pengurus Besar) kepada para pelatih serta asisten pelatih. Hal ini agar buku tabungan segera bisa diambil para pelatih dan asisten, sehingga tak ada lagi keributan soal bonus belum turun.

Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta dalam jumpa pers di Kemenpora, Jakarta, Selasa, 16 Oktober 2018. Hal itu menjawab pertanyaan dari sejumlah cabang olahraga yang mengaku jika bonus Asian Games 2018 untuk pelatih dan asisten pelatih mereka belum diterima.

"Secara keseluruhan atlet dan pelatih sudah selesai proses pencairan bonusnya untuk Asian Games 2018. Tapi memang beberapa pelatih di beberapa cabang olahraga, termasuk kano, sepak takraw, dan sebagainya itu belum mengambil. Padahal tiap pelatih dan asisten pelatih telah disiapkan dan diberikan buku tabungannya," tuturnya.

Dirinya mengambil istilah belum mengambil karena, seperti sepak takraw, dari lima pelatih dan lima asisten pelatih ternyata sudah ada dua yang datang dan mengambil buku tabungannya. Hingga, menurut dia, kemungkinan hanya terjadi masalah komunikasi. Pihak PB telah diberitahukan agar segera menginformasikan pelatih dan asisten pelatih untuk mengambil sendiri buku tabungan mereka.

"Karena ini sifatnya pribadi, jadi tidak boleh diwakilkan oleh PB. Itu aturan perbankan. Saya sendiri berpikirnya positif, yang belum ambil mungkin masih disibukkan melatih di luar negeri atau karena jarak sudah berada di daerahnya. Tapi kami pun sudah berusaha carikan solusinya. Bagi pelatih asal daerah, dipersilakan untuk berkomunikasi dengan kami agar nantinya kita bisa menghubungi BRI selaku mitra untuk koneksitas dengan kantor cabang BRI di tempatnya dan sudah ada beberapa pelatih yang melakukan hal tersebut," ujarnya.

Untuk bonus pelatih, diakui Isnanta, memang tidak secepat bonus atlet yang diberikan secara simbolis oleh Presiden RI Joko Widodo beberapa waktu lalu. Namun kendala bukan berasal dari pihaknya.

"Karena saat kita akan mengurus bonus pelatih dan asisten pelatih yang tertera di SK Kontingen yang dibuat Komite Olimpiade Indonesia  (KOI) semua masuknya ofisial, mulai dari manajer sampai dengan yang lain. Padahal dalam pedoman aturan pemberian bonus, bonus hanya bisa diberikan oleh pelatih, asisten pelatih, dan atlet. Hingga kami kesulitan menyortir mana yang pelatih dan mana yang bukan, karena SK tidak nyambung dengan aturan. Hingga kami kembali melakukan komunikasi kepada PB untuk mensortir, siapa yang melatih siapa," tuturnya.

Pihaknya mengaku kurang tahu apakah ini masalah kurang komunikasi antara PB dengan pelatih dan asisten pelatihnya atau bukan. Karena pihaknya, Deputi III, memang tidak mengurusi soal kontingen.

"Ketika kami menerima SK dengan semua masuk dalam ofisial, sulit rasanya diterjemahkan untuk bonus. Sementara tidak mungkin kami meminta KOI merubah SK dalam posisi masih sedang pertandingan. Fokus ke Asian Games. Setelah selesai ternyata agak sulit merubahnya, jadi kami jemput bola minta ke PB. Nah, masalah ini komunikasi atau ketidaktahuan KOI, kami tidak paham kenapa mereka masuknya ofisial," ucapnya.

Alasan dipertanyakan



Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mempertanyakan alasan keempat cabang olahraga tersebut mengangkat isu belum keluarnya bonus Asian Games tersebut ke Media. Padahal pihaknya mengaku menerima dengan terbuka kritik dan pertanyaan langsung baik telepon maupun media lainnya.

"Saya akan buka ini, kenapa mereka baru ambil sekarang. Sementara yang lain sudah mengambilnya. Ini artinya ada komunikasi yang missed, atau soal-soal teknis administrasi di level cabornya. Yang pasti begitu Pak Jokowi instruksikan langsung maka semua berjalan. Tapi apakah dilakukan langsung secara linier atau belum itu yang harus dicari tahu, sebab mayoritas sudah menerima," katanya.

Bagikan: