Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Pemerintah Hentikan Liga Sepak Bola Indonesia Sementara

Wina Setyawatie

JAKARTA, (PR).- Kematian suporter pada laga Persib vs Persija akhir pekan lalu dinilai pemerintah bukan lagi tragedi sepak bola biasa, namun sudah jadi tragedi kemanusiaan. Untuk itu, pemerintah kembali menegaskan agar kompetisi Liga Sepak Bola Indonesia diberhentikan sementara selama dua pekan. 

Penghentian sementara ini, menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dalam jumpa pers di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa 25 September 2018, sebagai bentuk penghormatan semua pihak kepada korban dan keluarga korban. Sekaligus ini dinilainya sebagai bentuk belasungkawa nasional. Pemberhentian kompetisi ini sendiri berlaku sejak surat ini dibacakan sore kemarin. 

"Seluruh masyarakat Indonesia tentu berduka cita mendalam kepada keluarga Alm. Haringga Sirla. Semoga ibadah almarhum diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran, sekaligus rela melepas kepergian Haringga selama-selamanya. Saya pribadi betul-betul memahami perasaan ibunda, orang tua, dan keluarga besar sekaligus para sahabatnya. Sebagai orang tua, saya tentu juga merasa ketika kehilangan pasti akan berat," ucapnya. 

Sebagai penghormatan atas almarhum dan momentum instrospekai bagi semua pihak, maka pemerintah pun meminta kompetisi dihentikan sementara selama dua minggu. "Ini bentuk belasungkawa seluruh pihak dan sebagai momentum introspeksi bagi semua pihak, bahwa satu nyawa sangat mahal bila dibandingan dengan sepakbola," ujarnya menandaskan.

Pada saat kompetisi ini berhenti, pihaknya meminta agar PSSI dan operator liga harus melakukan hal luar biasa. Memutuskan sanksi yang tegas bagi pihak-pihak terkait yang dianggap terlibat. "Kami minta dalam masa penghentian ini, PSSI dan operator melakukan hal-hal luar biasa. Karena ini sudah merupakan peristiwa luar biasa, maka perlu upaya yang juga luar biasa tegas, berani, mampu menegakkan regulasi sebaik mungkin. Tidak hanya sebatas sanksi berbentuk dana yang selama ini dilakukan," kata Imam. 

Pada saat rehat, Imam pun meminta PSSI sebagai federasi juga melakukan upaya-upaya edukasi sekaligus melaksanakan regulasi yang telah dijabarkan dalam statuta FIFA, AFC, maupun statuta PSSI sendiri. Terutama terkait hubungan mutualisme simbiosis antara suporter dan klub, dan diakukan bersama-sama secara profesional serta bermartabat. 

"Karena jangan sampai persatuan nasional yang telah digaungkan selama ini terancam gara-gara Liga kita yang belum bermartabat dan profesional. Mengingat saat ini ada pejuang-pejuang sepakbola Indonesia di Timnas U-16 dan U-19 yang sedang bertanding dengan hasil yang menggembirakan," ujarnya mengimbuhkan. 

Pemerintah kedepannya juga akan evaluasi langkah-langkah konkrit apa yang akan diambil oleh federasi. Karena hal itu, menurutnya merupakan tanggung jawab PSSI sebagai federasi sepakbola Indonesia untuk membuat keputusan tersebut. 

"Jadi ini juga momen bagi kami melihat apakah ada perubahan yang mendasar untuk melihat di masa-masa yang akan datang," tuturnya. 

Namun sayangnya, pemerintah belum bisa memastikan apa langkah yang akan diambil mereka bila mana PSSI tidak menuruti perintah Menpora untuk mencari solusi tegas dan lugas. Imam mengatakan pihaknya akan melihat dulu langkah apa yang diambil dalam dua pekan tersebut. 

"Tapi kami telah menyiapkan model simbiosis mutualisme antara federasi dan suporter, serta suporter dengan klub, hingga saling menjaga dan bertanggung jawab. Kalau ini yang dilaksanakan maka kita memiliki harapan yang lebih besar lagi untuk sepakbola tanah air," ucapnya menegaskan.

Desak



Desakan yang sama juga datang dari Asosiasi Pesepakbola Profesional lndonesia (APPI) yang mewakili para pemain klub peserta Liga-l tahun 2018. Senada dengan pemerintah, bahwa merujuk pada situasi dan kondisi sepakbola nasional saat ini, maka mereka juga mengecak segala bentuk kekerasan yang terjadi, terlebih hal itu telah merenggut nyawa seseorang. 

Kedua,  mereka juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini hingga tuntas dengan memberikan hukuman sesuai hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia, yang dapat membuat efek jera tidak hanya bagi pelaku tapi bagi seluruh supporter di Indonesia agar hal ini tidak terulang lagi. 

"Kami juga mendesak PSSI dan PT Liga Indonesia Baru untuk memberikan hukuman yang adil sesuai dengan ranah sepakbola, yang dapat memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang terkait dengan insiden ini. Ini kejadian yang telah berulang, namun hukuman yang diberikan tidak memberikan dampak nyata," kata Wakil Ketua APPI, Andritany Ardhyasa.

Pihaknya juga meminta seluruh suporter Liga 1 dan Liga 2 membuat nota perdamaian atau kesepakatan bersama untuk memastikan insiden ini tidak terulang kembali. Sebab kalau ini terjadi lagi, menurutnya, Sepakbola Indonesia akan terancam. 

"Dan sebagai bentuk belangsungkawa atas insiden yang ada dan juga sebagai bentuk desakan kepada suporter, maka kami pun sepakat untuk tidak bermain di pekan 24 Liga 1 hingga benar-benar ada nota perdamaian antar suporter," tuturnya.***

Bagikan: