Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Anthony Ginting Rajut Asa untuk Rebut Gelar Super 1000 Pertama

Wina Setyawatie
PEBULU tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting mengembalikan kok ke arah lawannya pebulu tangkis Taiwan Chou Tien Chen pada babak semifinal China Open 2018 di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium Changzhou, Jiangsu, Cina, Sabtu, 22 September 2018. Anthony berhasil melaju ke babak final usai mengalahkan Chou dengan permainan rubber game, 12-21, 21-17, 21-15.*
PEBULU tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting mengembalikan kok ke arah lawannya pebulu tangkis Taiwan Chou Tien Chen pada babak semifinal China Open 2018 di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium Changzhou, Jiangsu, Cina, Sabtu, 22 September 2018. Anthony berhasil melaju ke babak final usai mengalahkan Chou dengan permainan rubber game, 12-21, 21-17, 21-15.*

CHANGZHOU, (PR).- Tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting merajut asa untuk merebut gelar perdananya di kejuaraan bulutangkis BWF World Tour Super 1000. Pemain asal klub SGS PLN Bandung ini, melaju ke babak final China Open 2018 setelah mengalahkan wakil Taiwan, Chou Tien Chien di babak semifinal.

Di laga yang berlangsung di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Sabtu, 22 September 2018, pemain peringkat 13 dunia tersebut menang rubber game 12-21, 21-17, 21-15 atas Chou yang merupakan unggulan kelima. Kemenangan tersebut sekaligus membayarkan kekalahan Anthony di Asian Games 2018, Agustus lalu di babak semifinal.

Dengan hasil ini maka Anthony berpeluang untuk merebut gelar perdananya di level kedua tertinggi di Super World Tour. Sebelumnya dia telah mencatatkan dua kali gelar juara di Indonesia Master tahun ini dan Korea Open 2017 lalu.

Bila dia sukses merebut gelar, maka ini akan menjadi gelar pertama tunggal putra setelah paceklik gelar selama 24 tahun di turnamen ini. Terakhir sektor tunggal putra menyumbangkan gelar juara di negeri tirai bambu ini pada 1994 lalu lewat Alan Budikusuma.

Menghadapi Chou, kematangan permainan Anthony diuji. Di gim pertama, dia belum mampu menemukan permainnya, hingga sejak awal terus di setir oleh lawan. Tekanan yang diberikan Chou tidak dapat diatasinya, hingga Anthony pun tertinggal jauh 4-15. Dia tidak mampu mengejar dan akhirnya menyerah.

Permainan Chou yang terus mendorong bola di gim pertama ini, dinilai Anthony tidak mengenakannya. Dia berusaha untuk mengontrolnya, tapi kondisi angin di lapangan yang belum bisa diatasinya justru menjadi bumerang untuknya. 

Baru di gim keduanya dia bisa meladeni permainan Chou. Anthony berusaha untuk mempercepat permainannya agar tidak terbawa lagi ritme permainan lawan. Begitu juga di gim ketiga.

"Pada dua gim berikutnya saya mencoba untuk mempercepat permainan. Dia (Chou -Red.) ingin membawa saya ke permainan awalnya di gim pertama, tapi gerakannya justru tidak secepat gim pertama malahan. Tapi saya bersyukur masih diberikan kemenangan," ujarnya sesuai rilis PBSI. 

Pada laga final, Anthony akan bertemu dengan Kento Momota dari Jepang. Unggulan ketiga itu sendiri maju usai menaklukan wakil tuan rumah Shi Yuqi 21-10, 21-17. 

Sejauh ini bila melihat rekor pertemuan kedua pemain, keunggulan masih menjadi milik Kento 4-2. Namun di pertemuan terakhir di babak kedua Asian Games 2018 nomor individu, Anthony mampu merebut kemenangan dalam straight game.

Menghadapi Kento, Anthony mengaku melakukan persiapan yang sama dengan saat melawan Chou, Chen Long, maupun Viktor Axelsen. Tidak ada yang spesial.

Pasalnya, dirinya tidak mau memikirhan rekor sebelumnya agar bisa tampil lebih lepas mainnya. Menurut dia, yang terpenting untuk baginya adalah dia sudah punya persiapan mau main seperti apa saat nanti berharapan dengan Kento. Hal itu di pelajarinya semenjak Asian Games 2018 lalu.

"Lawan semua sama saja, tidak ada yang mudah sejak awal juga. Ini kali pertama saya ke final turnamen level super 1000, saya belum puas karena belum juara tentunya. Masih ada satu pertandingan lagi yang harus diselesaikan," ungkapnya. 

Karena servis



Sementara itu dari ganda putra, Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon gagal menciptakan hattrick di turnamen ini. Perjalanan mereka akhirnya terhenti di babak semifinal setelah dikandaskan wakil tuan tumah Han Chengkai-Zhou Haodong dalam skor 19-21, 21-11, 17-21.

Kekalahan mereka tersebut lagi-lagi dikarenakan servis. Empat kali fault yang diberikan hakim garis membuyarkan konsentrasi Kevin-Marcus saat poin-poin penentuan di gim ketiga.

"Memang cukup berpengaruh (servis dinyatakan fault). Dengan kondisi shuttlecock yang kencang seperti ini, kalau sudah tidak konsentrasi dengan servis, mau main bagaimana?," kata Kevin.

Marcus sendiri kembali mempertanyakan keputusan hakim garis yang memfault servisnya hingga empat kali. Pasalnya, menurut dia, ini sangat merugikannya. Dia pun menilai ada baiknya jika ada alat pengukur yang akurat, hingga putusannya dinilai bisa lebih adil.***

Bagikan: