Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Berawan, 22.1 ° C

Rangkaian Asian Para Games 2018 Dimulai dari Solo

Wina Setyawatie

SOLO, (PR).- Api yang diambil dari api abadi di Mrapen, Grobogan, Rabu 5 September 2018 menjadi pertanda dimulainya rangkaian Asian Para Games (APG) 2018 yang akan berlangsung 6-13 Oktober mendatang. Api yang diambil akan menjadi menjalani beberapa prosesi di Solo, kota awal lahirnya para atlet difabel Indonesia sebelum akhirnya akan diarak ketujuh kota besar di Indonesia lewat pawai obor APG.  

Pawai obor sendiri akan dimulai dari Ternate. Dimana api akan dinyalakan tepat pada peringatan Hari Olah Raga Nasional (Haornas). Lalu akan diarak menuju Makassar (12 September), Bali (16 September), Pontianak (19 September), Medan (23 September), Pangkal Pinang (26 September), dan berakhir di Jakarta (30 September). 

"Pawai obor ini sendiri untuk menunjukkan kebanggaan, bahwa kita telah ditunjukan sebagai tuan rumah Asian Para Games," kata Ketua Panitia Penyelenggara Asian Para Games 2018 (Inapgoc) Raja Sapta Oktohari di Solo, Rabu 5 September 2018.

Menurut dia, pawai obor ini merupakan salah satu dari warisan permanen dari APG, mengingat obor dan lentera yang digunakan memang khusus di buat untuk rangkaian pelaksanaan APG ini. Obor dan lentera ini bermotifkan batik parang dimana bermakna petuah yang tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti bergerak. Menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, dalam artian untuk memperbaiki diri, memperjuangan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga. Selain motif parang, di tubuh obor sebesar 1,9 kg ini juga memiliki rangkaian huruf braille. 

Prosesi di Solo sendiri berjalan meriah. Meskipun api masih berada di lentera, tapi api tetap diarak dengan menggunakan empat kereta kencana keliling kota oleh Ketua Inapgoc dan Ketua Komite Paralimpik Nasional (NPC) Senny Marbun, serta beberapa atlet difabel salah satunya Jainal Aripin atlet atletik kursi roda, dan beberapa tokoh ternama seperti Betrand Antolin sebagai duta obor, Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, dan Wakikota Solo FX Hadi Rudyatmo. 

Sambutan yang diberikan oleh masyarakat kota Solo pun sangat hangat, sama halnya ketika pelaksanan pawai obor Asian Games beberapa waktu lalu berlangsung di kota ini. 

Pawai obor ini sendiri merupakan salah satu cara untuk melakukan sosialisasi APG kedaerah-daerah, selain itu Inapgoc juga akan menerapkan strategi yang sama untuk tetap menjaga menjaga momentum euforia masyarakat yang sebelumnya sangat tinggi di Asian Games. Dimana kawasan komersil di kawasan Gelora Bung Karno akan tetap dibuka, karena menurut Okto, meskipun pelaksanaan Asian Games telah usai, namun sampai saat ini masih banyak yang datang ke wilayah GBK, minimal untuk berfoto. 

"Rencananya untuk membuka kawasan komersil ini sekaligus perkenalan APG mulai September mendatang," ujarnya. 

Nantinya kawasan komersial ini akan disulap menjadi paragames festival. Dimana menurut Okto nantinya dalam waktu dekat akan ada gimmick baru untuk membentuk sosialisasi APG ini.

"Petunjuknya nanti akan ada salah satu atlet dunia yang akan bergabung mensosialisasikan acara ini," katanya.

Empat bagian tiket Asian Paralympic Games 2018



Untuk tiket Inapgoc akan menerapkan empat bagian. Pertama untuk tiket pembukaan-penutupan, tiket masuk kawasan GBK, tiket untuk masuk venue, serta tiket pertandingan final. 

Sebelumnya sempat ada wacana untuk menggratiskan masyarakat untuk menyaksikan APG. Namun, begitu melihat antusiasme besar masyarakat untuk pelaksanaan Asian Games, maka Inapgoc akhirnya menerapkan sistem yang sama dengan Asian Games guna mengatur arus penonton. 

"Namun, mengingat ini pestanya para kaum difabel, khusus mereka tiket akan kami berikan gratis. Untuk tiket umum, akan kami bahas kemudian penjualannya apakah melalui online atau pembelian offline, dan tentu untuk menetapkan besaran harganya," kata Okto.

Menurut dia untuk masalah tiket ini dirinya mengaku belajar banyak dari Asian Games kemarin. Pihaknya banyak belajar soal pendistribusian tiket dan alur penonton. 

“Yang banyak diprotes  kemarin karena meski tiket sold out tapi tetep ada bangku kosong, makanya kali ini kami akan menerapkan sistem tiket masuk saja tanpa ada bangku penonton. Prinsipnya first come, first serve aja,” ujarnya. 

Okto mengaku pihaknya masih memiliki cukup waktu, meskipun nyatanya tinggi 1 bulan lagi sebelum pelaksanaan. Menurutnya semua persiapan sedang dalam proses dan targetnya paling lama akhir bulan ini sudah siap semua. 

Pada Asian Para Games kali ini, Indonesia akan mengirimkan 302 atletnya yang aman bertanding di lebih dari 300 nomor pertandingan/perlombaan. 

Tidak ingin sesumbar soal raihan medali



Kontingen Indonesia pada APG 2018 ini tidak ingin sesumbar dengan hasil multievent difabel se-Asia ketiga nanti. Namun, Komite NPC yakin jika raihan Indonesia nanti akan lebih baik dibandingkan hasil empat tahun lalu di Incheon, Korea. 

Senny mengaku untuk kali ini jauh lebih berat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, pasalnya 13 dari 18cabang yang dipertandingan di APG kali ini sekaligus kualifikasi (sanction) untuk Paralimpik Games 2020 Tokyo. Hingga sebagai tuan rumah, hampir tidak bisa menerapkan strategi pemilihan nomor event.

"Karena tidak ada nomor yang gampang. Jadi berat untuk kita untuk menerapkan strategi untuk pemenangan. Tapi yang bisa saya katakan bahwa, hasilnya nanti pasti akan lebih baik dari Incheon. Kita sendiri targetnya naik dua level menjadi rangking 5-7 Asia. Itu saja sudah bagus. Ini menjadi lebih berat, karena kita adalah juara umum ASEAN Paragames," ucapnya.

Meskipun berat, namun menurut Shenny tidak ada istilah minder atau tidak percaya diri. Namun, mereka lebih kepada tidak ingin jumawa. Ini berkaca dari pengalaman sebelumnya. "Kalau sekarang mau bicara sombong sulit, apalagi test case di Incheon kemarin kita hanya mencapai ranking 9. Jadi lebih baik tidak sombong tapi melejit ke atas hasilnya," kata dia.

Untuk bisa mencapai target rangking 5-7, para atlet Indonesia dinilai minimal harus mencapai 16 medali emas. Beberapa cabor, dinilai Shenny bisa menjadi andalan, seperti catur dengan probabilitas 4 emas, atletik (2 emas), bulu (4 emas), renang (4 emas), tenis meja (1 emas), angkat besi (1 emas), dan balap sepeda (1 emas). 

Catur sendiri adalah olah raga pilihan Indonesia dan cabor non-olimpik. Cabang ini awalnya sempat ditolak oleh Asian Paralympic Committee (APC) karena bukan cabang yang dipertandingkan di Paralympic Tokyo, namun mengingat ini merupakan cabang yang bisa menjadi penyumbang pundi-pundi emas Indonesia hingga diperjuangkan. 

Sejauh ini, Senny mengaku optimis pencapaian itu bisa tercapai. Ini melihat dari hasil tryout keluar negeri. 

"Kita sudah melakukan melakukan pemusatan latihan sejak Januari lalu, jadi sekitar 8 bulan kita sudah melakukan persiapan dan sudah try out keluar juga. Dari hasil try out, melihat dari limit, menyenangkan hasilnya dan sudah banyak yang pecah," ujar Senny. 

Sayangnya, cabang sepakbola yang lebih dikenal dengan nama seven-a-side soccer untuk kali ini tidak dipertandingkan. Padahal cabang ini di ASEAN Paragames lalu di Kuala Lumpur cabang ini menjadi juara umum, hingga di Asian Para Games ini sebenarnya berpeluang emas. 

Indonesia sendiri sudah mengajukan cabang ini, tapi ditolak oleh APC, karena mengingat cabang ini tidak dipertandingkan pada 2020. Mengingat semua cabang APG ini mengacu pada olah raga yang dipertandingkan di Paralympic Games nanti. 

"Kalau dipertandingkan kita bisa bersaing dengan Iran dan berpeluang medali emas. Semua cabang ini mengacu pada aturan IPC (Internasional Paralympic Committee)," ucap Sekjen NPC Indonesia, Waluyo menambahkan.***

Bagikan: