Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.1 ° C

Hujan Iringi Kemeriahan Acara Penutupan Asian Games 2018

Wina Setyawatie
SUASANA kemeriahan penutupan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu 2 September 2018. Dalam gelaran Olahraga terbesar di Asia tersebut Indonesia berhasil mencatan rekor dengan raihan 31 medali emas, dan pada Asian Games 2022 akan berlangsung di Hangzhou, Tiongkok.
SUASANA kemeriahan penutupan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu 2 September 2018. Dalam gelaran Olahraga terbesar di Asia tersebut Indonesia berhasil mencatan rekor dengan raihan 31 medali emas, dan pada Asian Games 2022 akan berlangsung di Hangzhou, Tiongkok.

JAKARTA, (PR).- Dibawah hujan yang cukup deras dengan diiringi lagu kemesraan, api Asian Games 2018 yang berada di kalderon, Minggu 2 September 2018 malam, perlahan meredum. Dengan matinya api tersebut maka resmi ditutupnya pelaksanaan multievent se-Asia ke-18 tersebut.

Dalam acara penutupan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tersebut, Presiden Dewan Olimpiade Asia, Syeikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah pun menyatakan bahwa Asian Games 2018 resmi berakhir dan dia menyambut kedatangan 45 negara Asia untuk kembali hadir di Hangzhou Tiongkok, September 2022 mendatang. 

Bendera Asian Games yang telah berkibar selama lebih dari 14 hari di Jakarta akhirnya diturunkan. Lalu Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyerahkan obor Asian Games kepada Sheik, untuk kemudian diteruskan kepada Ketua Komite Olimpiade Tiongkok Gou Zhongwen. Kemudian Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin serah terima bendera Asian Games kepada Walikota Hangzhou Xu Liyi dan Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) Puan Maharani pun mengembalikan bendara OCA kepada Sheik Ahmad untuk kemudian dijaga sebelum kembali dikibarkan lagi empat tahun lagi. 

Dalam sambutannya, Sheik Ahmad mengatakan terima kasihnya yang besar kepada Jakarta dan Palembang yang dinilainya telah sukses menjadi tuan rumah yang baik. Keduanya, dinilai telah membuat mimpi Asia terwujud. Dengan bahasa Indonesia, dia pun mengatakan "Indonesia terima kasih banyak! Kami cinta kalian!" berkali-kali. 

"Meskipun ini hari yang sedih karena kita akan berpisah, tapi hari ini juga menggembirakan. Pasalnya, kita akan kembali ke negara masing-masing untuk bertemu keluarga. Venue, olahraga, dan masyarakat yang bersahabat dari Indonesia akan selalu terkenang, kami tidak akan melupakan kalian. Kalian akan selalu dihati," katanya dengan disambut gemuruh tepukan tangan dan teriakan para penonton yang hadir. 

Jokowi di Lombok



Kesuksesan Asian Games 2018 ini yang diraih dengan kerja keras dalam waktu singkat ini, menurutnya, membuktikan bahwa Indonesia punya kapabilitas untuk menggelar event besar olahraga apapun di dunia. Dia juga menyampaikan rasa salutnya kepada para atlet. 

"Asia bangga kepada kalian atas semangat dan kerja keras yang ditunjukkan. Sekarang mari kita semua maju untuk berjuang di Olimpiade 2020 di Tokyo. Saya juga sampaikan terima kasih kepada 13.000 sukarelawan yang telah menggambarkan apa itu Indonesia yang sebenarnya," katanya dengan penuh suka cita. 

Upacara penutupan ini tidak dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Jokowi sedang melakukan kunjungan ke Lombok, dan melalui video yang ditampilkan di dua layar besar di SUGBK dia memberikan sambutannya. 

"Saya mohon maaf karena tidak bisa hadir langsung. Saya berada di Lombok. Tapi kami disini kami juga merasakan semangat yang sama untuk terus bangkit kembali," ujarnya yang diiringi tepuk tangan penonton.

Asian Games memang berakhir, tapi energi dan semangat Asia, katanya, tidak akan padam. Dia sampaikan rasa terima kasihnya untuk atlet dan para sukarelawan yang telah memberikan prestasi dan kehangatan. 

"Inilah energi Asia yang sebenarnya. Berkat raihan positif ini, kita bisa mencapai prestasi tertinggi di Asian Games. Terima kasih juga untuk seluruh masyarakat Indonesia yang juga turut menyukseskan Asian Games. Semoga Asian Games, menjadikan bangsa ini semakin besar," ucapnya semari tidak lupa meminta doa untuk Lombok. 

Hujan yang turun cukup deras kemarin tidak menghambat jalannya acara penutupan. Penampilan 100 pesilat dari Komunitas silat di bawah PB IPSI membuka acara. Lalu, disambung lagu Assalamuaikum yang dinyanyikan oleh Indah Nevertari sebagai penyambut. Kendati pengisi acara harus menggunakan payung Merah, tapi turunnya hujan membuat acara sedikit berbeda dan unik. 

Kebersamaan



Acara utama pun dimulai. Penampilan marching band dari angkatan bersenjata Indonesia pun menjadi awal dari parade bendera peserta Asian Games dan atlet yang masuk secara bersamaan dengan berbaur satu sama lain. Sukarelawan pun bergabung masuk ke dalam arena tengah bersama para atlet terakhir. 

Dengan tema kebersamaan, acara penutupan ini memang ingin memberikan suasana perayaan bagi para atlet  yang telah berlaga di Asian Games ini. Mereka pun mendapatkan suguhan layaknya menonton konser musik. 

Penyanyi asal Kota Kembang Isyana Sarasvati membuka acara hiburan. Diiringi cuplikan video pejuangan para atlet-atlet Indonesia yang bertanding selama Asian Games, Isyana menanyikan lagu "Asia's Who We Are" dengan syahdu. Setelah dia secara bergantian, Gigi, RAN, Irfan Samsons, Ade Govinda mengisi acara. 

Kolaborasi musisi India Siddharth Slathia dengan Denada menanyikan lagu-lagu India yang populer di telinga masyarakat Indonesia seperti Kuch-kuch hota hai dan jai ho pun disambut dengan semarak. Penonton pun ikut berdendang. Siti Badriah bersama Jevin Julian dan Alffy Rev pun membuat gempar panggung dengan meremix lagu jaran goyang dan syantik yang sempat populer. 

Salah satu K-Pop, Ikon pun hadir dengan dua lagi. Kemudian disambung dengan penampilan Bunga Citra Lestari, Dira Sugandi, Winky Wiryawan, dan JFlow. Menutup acara hiburan tampil band Korea Super Junior. Penampilan Super Junior disambut dengan meriah oleh para penonton. Mereka membawakan tiga lagu, Sorry..sorry, Mr Simple, dan bounche. 

Seperti yang diketahui, di Asian Games ke-18 ini Indonesia membuat sejarah baru. Karena di penyelenggaraan kali ini, Indonesia sukses mencetak prestasi tertinggi dengan melompat jauh dari peringkat 17 di Asian Games 2014 di Incheon menanjak ke peringkat empat dengan 31 emas di Jakarta ini. 

"Dengan perolehan total 98 medali ini, sangat penting untuk menjadikan momen penguatan rasa persatuan dan jati diri bangsa, yang majemuk dan toleran, yang memiliki semangat juang tinggi untuk meraih kemajuan, kesejahteraan dan perdamaian bersama," kata Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pengarah Inasgoc, Jusuf Kalla. 

Standar tinggi



Kesuksesan Asian Games 2018 dinilai Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach menempatkan standar tinggi dalam penyelenggaraan multi event se-Asia. Kedepannya tidak akan mudah bagi tuan rumah selanjutnya, Hanzhou, Tiongkok 2022 untuk bisa melanjutkan kesuksesan ini. 

"Saya pikir Indonesia bisa sangat bangga dengan suksesnya Asian Games ini. Sukses ini saya lihat di segala aspek, ini kondisi yang sangat bagus. Bukan hanya hasil yang bagus diperoleh oleh tim Indonesia, tapi bagi saya yang terpenting kita semua telah melihat bagaimana organizing committee, pemerintah, partikular kru, serta sukarelawan melihat bahwa mereka mempresentasikan Indonesia dengan baik. Apalagi kita melihat bahwa generasi muda telah bersatu di belakang suksesnya Asian Games ini dan bekerja keras. Jadi ini respek saya untuk Indonesia," tuturnya. 

Indonesia dianggapnya telah menanamkan soliditas dan memiliki pondasi yang bagus untuk menginsiprasi pelaksanaan Olimpik Games 2032. Dengan sukses ini, Indonesia telah membuktikan bahwa mereka siap meneruskan sesuatu yang lebih besar lagi dan akan menjalannya dengan bagus. Ini bisa jadi dasar yang bagus untuk mereka bidding di Olimpiade 2032," ucap Bach. 

Bagi tuan rumah selanjutnya, tentu tidak akan mudah menurutnya meneruskan sukses besar ini. Namun, OCA dinilainya kedepannya bisa lebih percaya diri untuk pelaksaan Asian Games selanjutnya, mengingat Asian Games tidak jauh berbeda dengan Olimpiade. 

"Tuan rumah selanjutnya, harus mencari keunikannya tersendiri. Tiap edisi (Asian Games) harus mencerminkan kultur yang berbeda agar tidak membosankan. Tantangan mereka lainnya adalah bagaimana mempersiapkan diri lagi lebih baik, mengingat Hanzhou memiliki waktu lebih lama dibandingkan Indonesia. Jakarta-Palembang punya strategi bagus bagaimana mengimplementasikan pemberdayaan fasilitas, menggerakan masyarakatnya untuk hadir di stadion dan menjadi bagian dari Asian Games, dan saya pilih Organizing Committee selanjutnya bisa belajar dari Asian Games ini," ujarnya mengimbuhkan.

Tuan rumah Olimpiade



Sementara itu terkait dengan rencana Indonesia untuk bisa ikut dalam bidding tuan rumah Olimpiade 2032, Wakil Presiden OCA kehormatan, Wei Ji Zhong menuturkan bahwa saat ini Indonesia masih memiliki banyak waktu untuk melakukan persiapapun apapun yang diinginkan. Dia menyarankan agar kedepannya, Indonesia fokus kepada venue. Karena apa yang dimiliki oleh Indonesia saat ini, menurut pandangannya tidak akan cukup untuk memenuhi strandar Olimpiade.

"Tapi yang terpenting, pertama, Indonesia harus bersatu dulu. Semua orang harus berjalan bersama-sama. Kedua, anda harus mendapatkan dukungan dari pemerintah. Itu merupakan poin kunci untuk melakukannya. Sementara itu, Indonesia juga harus membangun para generasi mudanya untuk berjuang bersama untuk tampil di Olimpiade bersama Tim Nasional," kata Wei.***

Bagikan: