Pikiran Rakyat
USD Jual 14.014,00 Beli 14.112,00 | Langit cerah, 18.3 ° C

Erick Thohir Yakin Indonesia Mampu Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2032

Wina Setyawatie
Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir.*
Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir.*

JAKARTA, (PR).- Dinilai sukses menggelar Asian Games 2018 oleh Presiden Komite Olimpiade Dunia (IOC) Thomas Bach dan Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah, Indonesia pun mempertimbangkan diri untuk ikut dalam pencalonan tuan rumah Olimpiade 2032. Kedua pimpinan tertinggi dalam organisasi tersebut mengungkapkan kekagumannya tersebut dalam pertemuan di Istana Bogor dengan Presiden Joko Widodo, Sabtu, 1 September 2018. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) yang juga Ketua Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir dalam jumpa pers di Main Press Center (MPC) di JCC Senayan, Jakarta. Dalam diskusi tersebut, Thomas dan Al Sabah mengaku takjub dengan persiapan Asian Games yang telah dilakukan Indonesia selama dua tahun ini. 

"Lalu Presiden Pak Jokowi pun bertanya, apakah memungkinkan untuk Indonesia menjadi salah satu kandidat tuan rumah Olimpiade 2032. Lalu dijawab bahwa IOC sangat terbuka untuk Indonesia jadi salah satu kandidat tuan rumah. Setelah Asian Games 2018, pemerintah pun memastikan mengirimkan surat secara resmi untuk melamar," tukasnya. 

Sama dengan Presiden, Erick pun menilai bahwa Indonesia mampu. Buktinya Indonesia mampu menggelar Asian Games 2018 ini kendati hanya memiliki dua tahun tiga bulan persiapan. 

"Kami tidak pernah tahu bagaimana prosesnya. Tapi kita siap untuk Olimpiade. Kalau kita menyerah, kita sudah mundur ketika persiapan Asian Games dua tahun lalu saat menerima tugas menjadi tuan rumah. Namun, sebelum kita maju memang ada beberapa hal yang harus dihadapi terlebih dahulu. Salah satunya lebih sering menggelar single event bertaraf internasional sebagai ajang persiapan, seperti di basket Indonesia jadi tuan rumah bersama Filipina dan Jepang untuk Piala Dunia 2023. Mudah-mudahan federasi olahraga lainnya juga turut menggelarnya, agar ini jadi salah satu langkah lobi," ujar Erick kemudian. 

Bila nantinya, setelah Asian Games ini Indonesia bisa menggelar kejuaraan-kejuaraan lain bertaraf internasional, maka selain jadi salah satu ajang promosi untuk tuan rumah Olimpiade, venue yang sudah dibangun juga tidak terbengkalai, mengingat venue yang dibangun sudah memenuhi standar internasional. 

"Juga selain kebutuhan olahraga, juga bisa membuat masyarakat Indonesia bersaing sehat dengan masyarakat dunia," imbuhnya. 

Di luar ekspektasi



Sementara apa yang terjadi di Asian Games 2018 ini, baik keberhasilannya maupun kendala yang ada, dinilai Erick sesuatu yang di luar ekspektasi. "Tiket kurang, souvenir maskot kurang, dan transportasi adalah good problem. Karena ini artinya animo masyarakat kita itu sangat besar. Coba kalau disuruh pilih, dibagusin tapi enggak ada yang datang, mau apa tidak? Tapi kalau begini kan artinya luar biasa, bahkan muncul istilah FOMO (fear of missing out) di generasi millenial. Jadi kalau tidak foto di GBK, dan diupload di media sosial tidak kekinian," katanya. 

Pihaknya mengaku tidak pernah berpikir seperti itu. Namun apapun kekurangan yang ada, Erick mengaku pihaknya berusaha untuk memperbaikinya. "Misalnya bangku kosong. Di Istora dengan kapasita 7.800 kursi setelah renovasi bagi basket itu cukup. Karena penonton basket bisa mencapai 4.000 saja sudah bagus. Tapi kalau di bulutangkis, kapasitas itu kurang. Belum lagi broadcast dan media mengambil kapasitas bangku sebanyak 500 kursi. Belum lagi kursi untuk sponsor dan undangan federasi Asia. Hingga jumlah kapasitas penonton berakreditasi lebih besar dari pada kapasitas bangka VIP, makanya saya bilang kemarin "first come, first serve". Tapi saya pastikan bahwa penonton yang punya tiket tidak boleh tidak duduk," imbuhnya. 

Jelang penutupan, 2 September 2018, diperkirakan animo masyarakat akan semakin meningkat. Diperkirakan akan ada lebih dari 60 ribu penonton yang akan masuk di ke festival di Kawasan Gelora Bung Karno (GBK). 

"Ini berkaca pada pengalaman pekan lalu, maka kami menyiapkan 75.000 tiket festival untuk hari penutupan. Ini guna antisipasi banyaknya animo masyarakat untuk menyaksikan penutupan. Karena jumlah pengunjung plus pemegang tiket penutupan akan hadir pada hari itu, maka kami akan menambah layar lebar untuk nobar di kawasan Asian Festival di GBK. Tepatnya di Istora Senayan dan Jalan Pintu 1 Senayan. Ini agar bisa menikmati juga, di dalam dan keramaian terpecah di beberapa titik," ucap Direktur Tiketing Inasgoc Sarman Simanjorang. 

Pihak panpel akan menjual tiket festival mulai pukul 08.00 WIB, Minggu pagi, mengingat tiap akhir pekan "hari bebas kendaraan" (CFD). Pintu GBK sendiri akan ditutup untuk pengunjung pada pukul 18.00 WIB. 

Untuk pengamanan sendiri, hampir sama dengan pembukaan. Hanya berbeda dari jumlah personel keamanan gabungan. Karena tidak ada tamu negara yang akan hadir, dan penutupan rencana akan dilakukan oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla. 

Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya, Kombes Slamet Hadi yang bertanggung jawab akan pengamanan upacara penutupan mengatakan bahwa ada sekitar 9.422 personel gabungan dari TNI/Polri yang akan mengamankan pada Minggu nanti. Pengamana akan dilakukan mulai dari keberangkatan atlet dari wisma atlet, lalu dibawah ke GBK. 

"Kami juga akan fokus pada pengamanan di arena festival yang akan jadi titik konsentrasi masyarakat. Agar mengurangi penumpukan penonton pada saat penutupan, kami minta masyarakat untuk tidak datang pada pukul 18.00 WIB atau waktu yang mepet dengan upacara penutupan," pungkasnya.***

Bagikan: