Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Cerah berawan, 27.8 ° C

Basket Putra Hanya Finis di Posisi 8 Asian Games 2018

Wina Setyawatie
PEMAIN Indonesia, Johnson (kiri) menguasai bola dibayangi pemain Jepang, Schafer  pada pertandingan Bola Basket Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat 31 Agustus 2018. Dalam pertandingan tersebut Indonesia kalah dengan skor 66-84.*
PEMAIN Indonesia, Johnson (kiri) menguasai bola dibayangi pemain Jepang, Schafer pada pertandingan Bola Basket Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat 31 Agustus 2018. Dalam pertandingan tersebut Indonesia kalah dengan skor 66-84.*

JAKARTA, (PR).- Tim basket putra Indonesia akhirnya harus puas hanya finis di peringkat 8 Asian Games 2018. Pada pertandingan penentuan peringkat 7/8 kemarin di Istora Senayan, Jakarta, Jumat 31 Agustus 2018, Arky Dikania Wisnu dkk. tunduk atas Jepang 66-84. 

Indonesia sempat bisa mengimbangi permainan Jepang di kuarter pertama dengan membuat selisih poin yang sangat  tipis  meskipun kalah 20-21. Namun, Jepang mulai menjauh di kuarter kedua setelah melesakkan 18 poin berbanding 12 pon yang dibukukan oleh Jamarr Jhonson dkk. 32-39.

Di kuarter ketiga, Timnas sempat mengejar ketertinggalan. Aksi agresif Jamarr dkk. memberikan Indonesia tambahan poin, meskipun Jepang pun mulai merubah stateginya dengan memasukan dua poin guard mereka Tsuji Naoto dan Leo Vendrame. Mereka mencari poin dari tembakan tiga angka. Selisihnya tidak terlalu jauh, Indonesia sukses merapatkan poin dengan hanya terpaut tiga poin saja, 54-57. 

Sayangnya, momentum kuarter ketiga tidak dapat dipertahankan pasukan Fiktor Roring. Indonesia justru banyak bermain tertekan, setelah Tsuji berkali-kali sukses melepaskan tembakan tiga angka yang berbuah poin. Jepang tampil  gemilang dengan menghasilkan 27 poin.

"Tapi memang ini olahraganya "The Giant". Korea saja main bagus, sangat bagus malah, tapi saat melawan Tiongkok yang memiliki dua menara mereka mati. Mereka merasakan apa yang kita rasakan, jadi bukan alasan. Tapi ada progres yang ditunjukkan anak-anak, bila berbicara dulu, saat melawan tim-tim kuat macam Jepang, Tiongkok, marginnya bisa setengah botol. Sekarang hanya selisih 40-30 poin saja, bahkan di gim ini hanya 20 poin, jadi ada perkembanganlah," ucap dia.

Menurutnya, penting kedepannya untuk Perbasi mencari atau mendapatkan pemain yang tinggi bila mau bersaing di level Asia. Karena meskipun ada bakat, tapi tetap kalah materi pemain, maka tetap saja Indonesia akan tertinggal. 

"Ini membuat naturalisasi jadi wajib, karena saat ini hanya satu. Mudah-mudahan ke depan FIBA baik hati dan mau mengaku Jamarr sebagai pemain lokal dan mudah-mudahan ada bakat baru yang sizenya bagus. Karena portur tubuh adalah segalanya di olahraga ini," kata dia.***

Bagikan: