Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Sukses di Asian Games 2018, e-Sport Dipertimbangkan di SEA Games 2019

Wina Setyawatie
atlet e-Sport saat bertanding di Asian Games 2018.*
atlet e-Sport saat bertanding di Asian Games 2018.*

JAKARTA, (PR).- Suksesnya penyelenggaraan cabang eksibisi e-Sport pada Asian Games 2018, membuat cabang ini dipertimbangkan untuk dapat dipertandingkan lagi pada SEA Games 2019 di Manila, Filipina dan Asian Games 2022 di Hangzhou, Tiongkok. Hal itu melihat dari besarnya respon peserta dan antusiasme penonton. 

Pada Asian Games 2018, sebagai cabang eksibisi, e-Sport dinilai sukses menyedot perhatian. Dari segi peserta, untuk babak kualifikasi saja ada 300 atlet e-Sport dari 27 negara Asia yang ambil bagian. 

Adapun putaran final sendiri, ada 18 negara yang lolos  dan berlaga. Hal tersebut diutarakan oleh Presiden Federasi Olahraga Elektronik Asia (AESF), Kenneth Fok kepada wartawan dalam jumpa pers di Main Press Center, JCC Senayan, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018.

"Kekhawatiran di awal, cabang ini tidak akan mendapatkan sambutan seantusiasme cabang Asian Games lainnya. Namun ternyata sambutannya sangat bagus dan besar. Saya sangat senang responnya, apalagi NOC Indonesia sangat mendukung. Mengingat berhubungan dengan broadcasting, ticketing adalah area baru yang tidak pernah kita sentuh," ujarnya. 

Melihat dari besarnya antusiasme, pihaknya pun berharap Asian Games ini menjadi pintu untuk mereka tampil pada multievent kejuaraan yang lebih tinggi levelnya. Meskipun bila melihat petunjuk Dewan Olimpiade Asia (OCA), masih ada gap yang cukup jauh jaraknya antara e-Sport dan olahraga konvensinal. 

"Entah bagaimaan nasib olahraga ini dalam empat tahun ke depan, karena perkembangan teknologi sudah pasti cepat. Namun, yang pasti council meeting sedang memikirkannya  bagaimana untuk bisa mempertandingan cabang ii di SEA Games 2019 nanti dan AG 2019. Sejauh ini tanggapan mereka positif. Mereka akan membahasnya dalam council member meeting pada November mendatang," ucap Kenneth.

Bukan sekadar permainan



Dirinya berharap dengan tampil di Asian Games, bisa membawa e-Sport untuk menjadi cabang olah raga dengan level yang lebih tinggi. Hingga tanggapan bila e-Sport ini hanya permainan akan hilang.

Tanggapan e-Sport sebagai permainan dinilainya lebih banyak sisi negatifnya. Tapi dengan masuk sebagai salah satu olahraga, maka para gamer kini juga diwajibkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai olimpiade. 

"Sebagai atlet yang bertanding membawa nama negara, bukan hanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Tapi para atlet juga belajar bagaimana menjunjung tinggi sportifitas. Gamer yang biasanya merupakan pribadi introvert, kini bisa lebih terbuka. Itu sisi positifnya," katanya. 

Mengingat cabang ini menjadi salah satu kandidat untuk kembali dipertandingkan di multievent olahraga selanjutnya, maka penting menurut Kenneth untuk para federasi negara-negara peserta menjaga para atletnya. Karena mereka dinilainya adalah aset penting. 

"Yang pasti Asian Games ini menciptakan benchmark yang tinggi untuk kompetisi atau turnamen esport selanjutnya," tuturnya.

Ubah persepsi



Sementara itu Presiden e-Sport Indonesia Eddy Lim mengatakan bahwa e-Sport sebagai permainan sudah pasti ada banyak sisi negatifnya, tapi ketika e-Sport sebagai salah satu cabang olahraga, maka yang dirasakan para atlet justru adalah sisi positifnya. 

Selama ini persepsi untuk bisa jago bermain game adalah dengan semakin banyak jam mainnya. Persepsi tersebut menurut Eddy sangat salah.

Sebagai olahraga, dia menuturkan, para atlet harus berpikir dengan benar sebagai layaknya olahragawan. 

"Selama ini  kesalahan games itu adalah untuk bisa jago mereka beranggapan harus main game 28 jam sehari. Padahal bukan dari cara mainnya, tapi bagaimana merubah cara berpikir. Memindahkan persepsi yang salah, bahwa kualitas latihan yang penting bukan kuantitas. Sama halnya dengan olahraga konvensional. Orang yang sering berlatih bulutangkis sendiri, dengan orang yang berlatih 3 kali sepekan tapi masuk klub, yang jago pasti yang masuk klub. Karena mereka punya metodenya. Makanya, kini setelah dianggap sebagai olahraga kita fokus untuk merubah persepsi itu," ujarnya.

Mengingat kemungkinan e-Sport ini akan dipertandingkan pada SEA Games 2019, maka menurut dia, pihaknya punya waktu setahun untuk membenahi hal tersebut. Hal itu, kata Eddy, penting ditanamkan. Bahwa sebagai olahraga ada barrier yang mengatur mereka sebagai olahragawan.

Pada Asian Games ini sendiri, Indonesia sukses menyabet emas pertamanya. Emas datang dari atlet muda berusia 16 tahun, Ridel Yesaya Sumarandak, yang jadi jawara Clash Royale.

Total, e-Sport telah mempertandingkan enam game sejak Minggu, 26 Agustus 2018, hingga 1 September mendatang di Britama Arena,  Jakarta. Selain Clash Royale, juga ada Arena of Valor (AoV), Hearthstone,  League of Legends, Pro Evolution Soccer 2018, dan StarCraft II.***

Bagikan: