Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Umumnya berawan, 28.1 ° C

Para Pebulu Tangkis Putra Ungkapkan Rasa Setelah Berhasil Sumbang Emas di Asian Games 2018

Wina Setyawatie

JAKARTA, (PR).- Indonesia akhirnya membawa pulang dua emas, satu perak, dan tiga perunggu dari nomor perorangan cabang bulu tangkis Asian Games 2018. Dua emas Indonesia dipersembahkan oleh sektor ganda dan tunggal putra. 

Di ganda putra, Indonesia sukses menciptakan all Indonesian finals yang mempertemukan unggulan pertama Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon dengan rekan satu pelatnas, Fajar Alfian-M. Rian Ardianto. Dalam pertandingan yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2018, Kevin-Marcus sukses menundukkan rekannya tersebut dalam skor ketat tiga gim 13-21, 21-18, 24-22 untuk mendapatkan medali emas.

Sementara Jonatan Christie yang menjadi wakil Merah Putih di tunggal putra, berhasil mengkandaskan tunggal Taiwan Chou Tien Chen dengan skor akhir 21-18, 20-22, 21-15. 

Hasil tersebut dinilai mereka berkah yang tidak terduga. Mengingat keikutsertaan mereka adalah merupakan yang pertama di Asian Games. 

Lawan grogi jadi andalan Jonatan Christie



Bagi Jonatan Christie laga final kemarin disadarinya tidak akan mudah. Namun, dirinya menilai bahwa lawannya cukup tegang saat akan memulai pertandingan. Hal itu karena saat berjabat tangan ketika akan coin tos penentuan lapangan bermain, telapak tangan Chou dinilai Jonatan sangat dingin. 

"Wajahnya pun saya lihat tegang. Di awal,  saya lihat baru 1-2 pukulan dia sudah mulai capek. Mungkin karena pengaruh bermain ketat saat melawan Anthony (Sinisuka Ginting) di babak semifinal. Jadi saya hanya memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan saja. Meskipun menurut saya,Chou tetap pemain bagus. Smes kencang, netting bagus, dan defense juga rapat," ujarnya dalam jumpa pers usai laga final bulu tangkis di Istora Senayan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2018.

Menurutnya di awal dirinya sebenarnya mengharapkan bisa menciptakan sejarah bersama Anthony dengan bersama-sama lolos ke final. Tapi sayangnya, Anthony harus terhenti di semifinal. Hal tersebut, ujar Jonatan sempat membuatnya sedih. 

Namun, hal itu yang kemudian, dibaliknya menjadi suatu motivasi untuk bisa semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan tersebut. Mengingat jarang bisa bermain di Indonesia. Dengan medali emas tersebut, maka Jonatan sukses mengakhiri paceklik emas 12 tahun di nomor tersebut. Emas terakhir tunggal putra dibukukan oleh Taufik Hidayat pada Asian Games 2006 lalu di Doha

Akhirnya The Minions bawa medali dari major event



Sementara itu, bagi Kevin-Marcus medali tersebut merupakan salah satu yang dinanti-nantikan mereka. Mengingat sebagai ganda nomor satu dunia, mereka memang banyak memenangkan gelar juara BWF World Tour, namun belum pernah menang di "major event" seperti kejuaraan dunia, Asian Games, atau pun Olimpiade. 

"Saya nggak nyangka banget bisa juara, saya sampai menangis, Kevin juga menangis. Ya iya lah, kami benar-benar tertekan apalagi di gim ketiga ketinggalan cukup jauh, sudah merasa hopeless. Tapi, ini semua berkat Tuhan, kami akhirnya bisa juara," ujar Marcus.

Fajar-Rian yang mendapatkan perak pun mengaku cukup senang. Meskipun belum bisa mengalahkan Kevin-Marcus untuk kesekian kalinya, tapi mereka mengaku kali ini puas dengan permainan sendiri. 

"Meski kecewa tidak dapat medali emas, tapi secara permainan kami puas. Karena di pertemuan terakhir pada Indonesia Open, mereka mengalahkan kami dengan mudah 21-13, 21-10 saja, namun kali ini kami bisa memberikan perlawanan ketat ke mereka," ungkapnya. Raihan emas dan perak ini, menurut kedua pasangan ini adalah kado ulang tahun untuk sang pelatih Herry Imam Pierngadi. 

Tambahan tiga perunggu di nomor perorangan ini dihasilkan oleh Anthony di tunggal putra, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir di ganda campuran, serta Greysia Polii-Apriyani Rahayu di ganda putri. Mereka memperoleh perunggu setelah terhenti langkahnya di babak semifinal. 

Melebihi target



Pencapaian dua emas dari bulu tangkis ini dinilai sudah PBSI melebihi target Asian Games 2018. Pasalnya, pemerintah hanya mentargetkan cabang ini untuk bisa menyumbangkan dua emas saja, tapi hasilnya, justru ada tambahan di dua perak dan empat perunggu. Total raihan itu menempatkan Indonesia di urutan kedua peraih medali terbanyak di cabang ini, setelah Tiongkok yang tiga emas, satu perak, dan dua perunggu. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid. Binpres PBSI yang juga Manajer Tim Bulu Tangkis Indonesia Susy Susanti. Melihat dari pencapaian di Asian Games 2018, semua sektor dinilainya sudah cukup baik, menampilkan perfoma luar biasa. Termasuk sektor tunggal putri, kendati tidak menyumbangkan medali. Tapi, di nomor beregu, khususnya Gregoria Mariska Tunjung dinilai Susy sudah memberikan permainan terbaiknya. 

"Pencapaian di Asian Games 2018 ini, semua sektor sudah cukup baik menampilkan permainan terbaik mereka. Bahkan di ganda putra, buat saya semua adalah juara. Karena meskipun mereka sama-sama Indonesia, tapi mereka tetap menampilkan performa luar biasa. Di tunggal putra sebenarnya tidak ada target, jadi hasil ini kejutan besar. Apalagi mereka kembali menciptakan all Indonesian finals setelah 44 tahun bisa terjadi lagi. Mengingat target emas awalnya di campuran dan ganda putra, tapi hasilnya ternyata sedikit meleset. Di ganda putri sudah sesuai target, karena prediksi kita memang perunggu. Jadi semua bagus," ujarnya. 

Bila dibandingkan dengan hasil empat tahun lalu, dimana saat itu ganda putra dan putri yang mempersembahkan emas. Kini, menurut Susy, bisa dibilang di kategori putra, Indonesia merajai. Dia pun berharap, kedepannya semua sektor bisa menunjukkan progres peningkatan yang konsisten dalam setiap pertandingan. 

"Setelah ini ada All England, Kejuaraan Dunia, dan puncaknya Olimpide Tokyo 2020. Mudah-mudahan mereka bisa mempersiapkan diri, karena 2019 sudah mulai kualifikasi. Jadi fokus menuju Olimpiade selanjutnya," katanya. 

Sementar itu, legenda bulu tangkis Indonesia di tunggal putra Taufik Hidayat berpesan kepada dua pemain muda, Anthony dan Jonatan, kedepannya untuk bisa membuktikan diri bahwa emas di Asian Games ini bukan kebetulan. Bahwa mereka bukan hanya jagoan kandang. 

"Mudah-mudahan keduanya bisa stabil kedepannya, tidak hanya Asian Games yang digelar di negara sendiri. Harus bisa membuktikan dikejuaraan-kejuaraan berikutnya. Karena tanpa Lin Dan dan Lee Chong Wei, kekuatan ternyata cukup merata. Jadi kalau sekarang bisa, next mereka juga harus bisa," katanya. 

Menurutnya kedua tunggal putra tumpuan Indonesia saat ini tinggal mematangkan penyelesaian akhir mereka. Bagaimana meningkatkan kepercayana diri bahwa mereka bisa bersaing dengan pemain level dunia lainnya secara konsisten. 

"Harapan tertinggi saya, setelah mereka mampu mengembalikan emas yang hilang 12 tahun lalu. Mereka juga harus goal di puncaknya yakni Olimpiade 2010. Mengingat ketika itu, mereka sudah dalam umur emasnya. Gunakan kesempatan tersebut, dan dua tahun ini untuk fokus persiapan menuju situ," kata Taufik menambahkan.***

Bagikan: