Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 22.7 ° C

Agus Meminta Maaf Gagal Mengakhiri Perlombaan Maraton Asian Games 2018

Wina Setyawatie

JAKARTA, (PR).- Agus Prayogo, atlet lari Indonesia yang mewakili nomor maraton meminta maaf setelah ia mengakhiri perlombaan lari maraton putra Asian Games 2018 karena cedera lutut pada Sabtu 25 Agustus 2018 di Jakarta.

Agus harus terhenti langkahnya di KM 30 setelah mengalami kram pada lekukan kaki kanan. Dia memutuskan untuk berhenti setelah tidak mampu lagi berlari kendati telah mendapatkan semprotan pereda sakit dari tim media.  "Kram pas lekukan, kalau di tekuk lalu dilurusin bunyi klek..klek.. Pas sebelum balikan, saya minta semprotan pereda sakit, lalu saya tarik-tari tapi tetap pas dicoba untuk dibawa lari lagi tidak bisa. Kalau ketarik saya paksakan finis nanti tambah ancur, makanya stop," kata Agus usai perlombaan. 

Emas di nomor ini direbut oleh pelari Jepang, Hiroto Inoue yang menghasilkan waktu tercepat 2 jam 18,22 menit. Waktu yang sama juga dicatatkan oleh pelari Bahran Elhassan Elabbassi, namun Inoue menjejakan kakinya di garis finis lebih dulu. Hingga Elabbassi pun mendapatkan perak. Sementara untuk perunggu diambil Bujie Duo dari Tiongkok dengan selisih 0,26 detik dari peraih emas dan perak. 

Gagal mencatatkan hasil bagus, Agus pun minta maaf. Namun, diakuinya jika levelnya belum sejajar dengan para pelari Asia. Para pelari Asian ini, menurut dia, notabene levelnya adalah pelari Olimpiade. 

"Saya minta maaf kepada masyarakat Indonesia. Baik yang sudah datang memberikan support kepada saya dan yang memberikan dukungan dari daerah masing-masing. Hari ini, saya tidak finis di KM30. Kerena ini kejuaraan level Asia, di data pun kemampuan personel best saya masih di 2 jam 11 menit. Masih kalah bersaing dengan para pelari yang notabene dari data saja sudah 2 jam 10 menit-an," ujarnya. 

Mengingat dari awal persaingnya memiliki pace (kecepatan lari) yang tinggi, maka menurut Agus dirinya pun terpancing untuk bergabung dengan mereka. Karena bila dirinya sejak start berlari dengan pacenya, maka dia dipastikan sejak awal akan tertinggal. 

"Jadi di awal saya mau tidak mau bergabung dengan mereka. Di awal masih bisa mengimbangi meski paling belakang. Di KM 15 sudah mulai tertinggal, tapi saya tahan dengan pace yang masih terlalu kencang buat saya. Cuma akhirnya di KM 30 seperti agak ketarik. Saya sendiri tidak bisa memastikan kenapa, yang pasti disitu saya pikir dari pada cedera makin parah maka saya berhenti," ucapnya. 

Bila melihat catatan Agus, pacenya adalah 3 menit 28 detik untuk 1 km. Sementara pelari lainnya rata-rata 3 menit 11 detik atau 3 menit 10 detik untuk 1 km.



Tingginya kelembapan udara



Kelembapan udara Jakarta yang tinggi pun menjadi salah satu penyebab Agus bisa mengalami kram. Pasalnya, kondisi cuaca Jakarta saat pertandingan dinilainya cukup ekstrem. Mengingat start baru dimulai pada pukul 06.00 WIB, sementara biasanya marathon dimulai pada pukul 05.00 WIB atau lebih awal. 

"Catatan terbaik saya 2 jam 21 menit itu diperoleh saat di Gold Coast, Australia, pas suhu disana sekitar 10 derajat. Sementara di Jakarta ini kondsi cuacanya memiliki kelembaban tinggi, jadi cukup ekstrem. Apalagi kita berlari tidak lebih awal jadwalnya seperti pada marathon biasanya," tukasnya. 

Agus mengaku selama persiapan sendiri sebenarnya dia tidak memiliki masalah, apalagi dia telah menjalani pemusatan latihan panjang sejak SEA Games Kuala Lumpur 2017 lalu, untuk persiapkan Asian Games. Jadi memang kekalahan ini, ujarnya, murni karena level (grade) yang terlalu jauh dengan para pelari Asia tersebut.***

Bagikan: