Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 22.4 ° C

Kontingen Jepang Keluarkan Atlet Nakal, Selebihnya Asian Games 2018 Masih Kondusif

Wina Setyawatie
PEBASKET Taiwan Yingchun Chen mencoba melakukan Drive saat dihadang oleh pemain Jepang Naoto Tsuji (Kiri) dan Nagayoshi Yuya (kanan) dipertandingan kualifikasi Asian Games di Hall Basket Senayan, Jakarta, Selasa 14 Agustus 2018.*
PEBASKET Taiwan Yingchun Chen mencoba melakukan Drive saat dihadang oleh pemain Jepang Naoto Tsuji (Kiri) dan Nagayoshi Yuya (kanan) dipertandingan kualifikasi Asian Games di Hall Basket Senayan, Jakarta, Selasa 14 Agustus 2018.*

JAKARTA, (PR).- Kabar tidak menyenangkan di Asian Games 2018 datang dari kontingen Jepang. Empat atlet basketnya tersangkut masalah prostitusi saat berlaga di Asian Games ini. 

Sesuai dengan pernyataan resmi  Japanese Olympic Committee, Senin 20 Agustus 2018, yang dikeluarkan oleh Ketua kontingen Jepang,  Yasuhiro Yamashita. Keempatnya adalah Yuya Nagayoshi, Takuya Hashimoto, Takuma Sato, dan Keita Imamura. Pihaknya merasa malu dengan kejadian tersebut, dan menilai jika keempatnya sudah menodai nilai-nilai negaranya. 

"Saya merasa malu. Dengan kerendahan hati saya meminta maaf sebesarnya kepada publik Jepang, JOC, dan semua orang atas kejadian tercela ini. Kami akan lebih membimbing atlet kami mulai sekarang. Pasti akan ada hukuman yang pantas untuk empat pemain itu setelah kami mendapatkan semua fakta. Kami akan pastikan skandal ini tidak akan terjadi lagi," kata Yamashita. 

Dikabarkan jika keempat pemain basket tersebut keluar dari kampung atlet pada pekan lalu, Kamis 16 Agustus 2018 untuk makan malam. Lalu setelah itu, dengan masih menggunakan seragam kontingen Timnas Jepang, mereka pergi bersama pekerja seks komersial ke hotel untuk menginap. Keempat atlet tersebut, menurut Yamashita telah dipulangkan ke Jepang dan mereka tidak akan mengikuti sisa pertandingan basket di Asian Games 2018 ini. 

Mengomentari hal tersebut, Sheikh Salman mengatakan jika dirinya percaya JOC bisa mengatasinya. Kasus seperti ini menurutnya tidak sekali saja terjadi di Asian Games ini. Ini adalah kasus yang biasa. 

"Atlet adalah simbol dalam kehidupan sosial. Makanya kami minta mereka dipantau terus, mereka harus lebih bijak," tuturnya. 

Ada masalah minor, berjalan on the track 



Sejauh ini, Dewan Olimpiade Asia (OCA) menilai penyelenggaraan Asian Games 2018 masih "on the track". Penilaian itu keluar dari hasil respon seluruh partisipan peserta Asian Games dalam pertemuan pimpinan kontingen yang digelar setiap pagi di wisma atlet.

Pasalnya, menurut Wakil Presiden Kehormatan OCA, Wei Ji Zhong dalam jumpa pers di Main Press Center (MPC), JCC Senayan, Jakarta, Senin 20 Agustus 2018, sejauh ini tidak ada satu pun protes yang dikeluarkan oleh negara peserta. Memang diakuinya ada beberapa keluhan, tapi itu dinilai sifat minor. 

"Hingga saat ini, kami tidak menerima satu pun protes. Adanya hanya beberapa keluhan tapi sifatnya minor. Tapi kami mendapatkan banyak saran. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh OCA, kami bersama dengan Inasgoc (Panitia Penyelenggara Asian Games 2018), berusaha memecahkan problem dalam tempo yag sesingkat-singkatnya," tuturnya. 

Dari segi pertandingan pun menurutnya, sejauh ini semua berjalan lancar. Semua peserta sudah merasakan aspek lain dari kompetisi dan sejauh ini pula, pihaknya mengaku belum menerima adanya protes. 

"Minor problem sejauh ini hanya soal komunikasi. Games director OCA pun sudah memastikan jika dia siap menerima 24 jam keluh kesah peserta dan menyelesaikannya. Jadi bisa dibilang semua terkendali. Bersama dengan Inasgoc, semua masih berjalan sesuai dengan treknya dan yang terbaik dalam game," ujar Wei. 

Sementara itu Presiden OCA, Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah mengatakan jika kesuksesan even Asian Games ini sangat penting buat pihaknya. Pasalnya, banyak risiko yang diambil setelah Vietnam mundur.

Lalu Indonesia masuk dan mengajukan diri. Dalam perjalanan mempersiapkan diri untuk Asian Games ini, ditemukan banyak dinamika. Tapi koordinasi yang bagus mampu memecahkan masalah-masalah yang mundur. 

"Setelah kerja keras mempersiapkan ini dalam tiga tahun. Sukses akhirnya bisa diraih. Hingga kami percaya diri bisa menggelar acara yang sukses. Saya yakin semenjak melihat pembukaannya. Dimana dalamnya ada identitas Indoensia," katanya. 

Untuk pertandingan, diakuinya memang selalu saja ada yang sulit. Namun luar biasa karena banyak rekor terpecahkan hingga H+2 pembukaan. 

"Energi yang luar biasa yang ditunjukkan oleh sukarelawan. Mereka bekerja dengan sangat baik. Buat saya persatuan Korea yang cukup menarik. Karena disitulah titik balik Asian Games," katanya. 

Terkait dengan keriuhan penjualan tiket Asian Games yang tidak begitu mulus. Harus berpindah dari satu provider online satu ke yang lainnya karena tidak kuat menerima daya traffic yang luar biasa, Sheikh menambahkan bila mereka terus melakukan diskusi. Menurutnya pihaknya sudah menemukan masalahnya dan berjanji akan segera menyelesaikannya. 

"Tapi yang pasti ketika orang membicarakannya mereka pasti akan penasaran dan datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan. Atau minimal mereka membicarakannya. Kami memiliki kerjasama yang baik untuk bisa memecahkan masalah," tuturnya.***

Bagikan: