Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 22.6 ° C

Sepak Bola Asian Games 2018 Dianalisis Langsung Pelatih Top Tanah Air

Miradin Syahbana Rizky

SOREANG, (PR).- Sebanyak 23 pelatih kursus lisensi Pro AFC melakukan analisa pertandingan cabang olahraga sepak bola Asian Games 2018 dengan arena Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu, 19 Agustus 2018. Mereka diberi tugas oleh instruktur untuk menganalisa seluruh pertandingan Grup C dan Grup E yang tengah bertanding dari Selasa, 14 Agustus 2018, hingga Senin, 20 Agustus 2018.

Kursus lisensi Pro AFC yang pertama kali digelar di Indonesia itu telah digelar sejak April lalu dan baru berakhir pada April 2019. Sejumlah pelatih top Indonesia pun menjadi salah satu pesertanya karena hingga saat ini belum ada pelatih asal Nusantara yang mengantongi lisensi tertinggi di Asia tersebut.

Berikut nama-nama pelatih top Indonesia yang tengah mengikuti kursus Pro AFC mulai dari Djajang Nurjaman, Bambang Nurdiansyah, Aji Santoso, Wolfgang Pikal, Rudy Eka Priyambada, Joko Susilo, Liestiadi, Hanafing, Tony Ho, Emral Abus, Rahmad Darmawan, Iwan Setiawan, Nil Maizar, Indra Sjafri, Widodo C Putro, Yeyen Tumena, Mundari Karya. Lalu Yunan Helmi,Adam bin Abdulah (FAM Malaysia), Elavaran (FAM Malaysia), Fujiwara (JFA Japan), Syafrianto Rusli, dan Seto Nurdiantara.

Pelatih Djadjang Nurdjaman yang ditemui di Stadion Si Jalak Harupat mengatakan, kegiatan menganalisa laga di Asian Games 2018 merupakan bagian dari kegiatan modul ketiga. Djadjang mengatakan, pihaknya memang sengaja mengikuti kursus Pro AFC yang tengah digelar Indonesia.

"Mendapatkan Lisensi Pro AFC ini tidak mudah karena prosesnya mencapai satu tahun. Jadi dengan adanya Pro AFC dengan tuan rumah Indonesia tentunya momen berharga. Kita tidak tahu lagi kapan kursus lisensi Pro AFC bakal digelar lagi disini," ucap pelatih yang mengantarkan Persib Bandung juara Liga Indonesia musim 2014 ini.

Kebutuhan wajib



Dia menambahkan, hingga saat ini belum ada pelatih Indonesia yang sudah bergelar Pro AFC. Sehingga bisa dibilang Djadjang dan kawan-kawan ini adalah pelopor pertama di Indonesia. Menurut dia, meningkatkan lisensi kepelatihan merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan lagi.

"Ilmu sepak bola itu tidak pernah berhenti. Kita harus bisa selalu mengikuti perkembangan tersebut sipaya tidak ketinggalan ilmunya. Apalagi ini upaya saya jaga-jaga. Karena rencananya akanada regulasi di tahun 2020 pelatih kepala klub di Liga 1 Indonesia harus memegang lisensi Pro AFC," ujarnya.

Untuk itu, ia ingin mendorong para pelatih di Jabar untuk terus memotivasi diri selalu meningkatkan lisensi dan ilmunya. Pasalnya, pihaknya menyayangkan tidak adanya pelatih selain dia yang asal Jabar mengikuti kursus Pro AFC periode ini.

"Saya tentunya prihatin ya. Karena yang ikut lisensi Pro AFC sekarang asli Jabar hanya saya saja. Padahal, dari Jawa Timur ada empat orang kemudian dari Banten ada tiga orang. Saya yakin Jabar tetap menjadi kiblat sepak bola Indonesia jika seluruh pelatih bisa terus mencari ilmu," ujarnya.

Menurut dia, kegiatan kursus Pro AFC sangatlah padat. Bahkan, bakal ada agenda untuk belajar dan memantau langsung tim di Madrid, Spabyol.

"Semuanya ada delapan modul. Rencananya Desember para pelatih akan ke Madrid. Dan selesai pada April 2019," tuturnya.

Tak lupa, Djadjang sedikit memberikan bocoran bahwa ia akan segera menjadi pelatih usai dipecat dari tim Liga 1 PSMS Medan. Namun, Djadjang masih merahasiakan klub tersebut.

"Insya Allah dalam waktu dekat saya akan kembali melatih. Nanti kalau sudah ada kesepakatan pasti saya kabarin. Saya ingin melatih lagi karena salah satu tugas dari lisensi Pro AFC adalah memberikan laporan harian kepelatihan kita," tuturnya.***

Bagikan: