Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Sedikit awan, 20.9 ° C

Diasuh Seorang Habib, Sekolah Sepak Bola Ini Menelurkan Pemain Juara AFF U-16 2018

Mochammad Iqbal Maulud
PESEPAK bola dan offisial Timnas Indonesia melakukan selebrasi usai memenangkan pertandingan Final Piala AFF U-16 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu 11 Agustus 2018 Indonesia menjadi juara Piala AFF U-16 usai menang atas Thailand melalui adu pinalti dengan skor 5-4 (1-1). *
PESEPAK bola dan offisial Timnas Indonesia melakukan selebrasi usai memenangkan pertandingan Final Piala AFF U-16 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu 11 Agustus 2018 Indonesia menjadi juara Piala AFF U-16 usai menang atas Thailand melalui adu pinalti dengan skor 5-4 (1-1). *

SALAH satu sekolah sepak bola di Purwakarta menyumbang pesepak bola yang membawa Timnas Indonesia juara AFF U-16 2018. Ialah SSB ASAD Jaya Perkasa yang menelurkan beberapa pemain hebat yang berpartisipasi pada Piala AFF U-16. ‎Diketahui ASAD Jaya Perkasa ini memiliki manajer seorang habib dan dibina langsung oleh Mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

ASAD seperti diketahui merupakan singkatan dari asli sepak bola anak desa. Hal ini karena banyak anggotanya yang merupakan anak desa. Namun juga memiliki makna ganda yaitu jika dalam bahasa Arab, asad berarti singa.

‎Pada momen meraih juara AFF U-16 salah seorang jebolan ASAD, Fajar Faturahman menjadi satu-satunya pencetak gol di waktu normal. Adapun pertandingan melawan Timnas U-16 Thailand tersebut berakhir melalui drama adu penalti. Stadion Gelora Delta Sidoarjo menjadi saksi sejarah skor 4-3 yang mengakhiri pertandingan tersebut.

Proses panjang ASAD diceritakan manajernya Habib Alwi Hasan Syuaib. Menurut dia, pemikiran kultural Ketua DPD Partai Golkar Jabar itu diadopsi menjadi peraturan ASAD. Di antaranya, anak Sekolah Sepak Bola ASAD Jaya Perkasa diharuskan bangun tidur sebelum ayam berkokok. 

Ini berarti mereka harus bangun di waktu subuh dan melaksanakan salat subuh berjamaah. Setelah itu, siswa diharuskan mengaji sebelum melahap berbagai menu latihan.

“Anak ASAD yang muslim shalat subuh berjamaah kemudian mengaji. Teman-temannya yang non-muslim menyesuaikan mempelajari kitab agamanya. Intinya, bangun pagi menjadi kewajiban. Ini belajar karakter,” ujar Alwi pada Minggu 12 Agustus 2018.

Dalam skuad asuhan pelatih Fachri Husaini, terdapat lima pemain lulusan ASAD Jaya Perkasa. Mereka adalah Yadi Mulyadi, Hamsa Medari Lestahulu dan Muhammad Fajar Faturrahman. Tak ketinggalan ada nama Ahludz Dzikri dan Muhammad Talaohu. 

Kekuatan anak desa



Pemilihan anak desa untuk menjadi siswa Sekolah Sepak Bola ASAD Jaya hingga mampu meraih juara AFF U-16 bukan tanpa alasan. Menurut Alwi, kultur anak desa cenderung kuat dan tidak cengeng saat menerima pengajaran. Meskipun, dia mengakui bahwa kultur tersebut ada di anak kota dalam frekuensi yang tidak massif. 

“Kuat dalam berbagai hal dan mudah diarahkan, tidak cengeng. Ini terus terang saja melatar belakangi saya dan Kang Dedi untuk terus ‘apruk-aprukan’ (menjelajahi) desa. Kita konsisten mencari bibit pemain sepak bola,” katanya.

Terpisah, Dedi Mulyadi yang merupakan pembina dari ASAD Jaya Perkasa mengamini keterangan koleganya tersebut. Fans fanatik klub premier league Chelsea itu mengaku saat ini sedang melanjutkan tren positif pembinaan. Momen Agustusan dia gunakan untuk menggelar turnamen sepak bola. 

Batas usia di bawah 15 tahun ditentukan agar dapat diarahkan menjadi pemain sepakbola profesional. Selain itu, para orang tua diwajibkan menonton pertandingan mereka untuk memberikan dukungan moral. 

“Nanti masuk seleksi kita, ada kontrak sampai umur 18 tahun kita bina menjadi pemain sepakbola modern. Kalau berprestasi tidak boleh dulu menjadi model iklan, harus fokus. Kita sekarang ada turnamen sampai Desember, 4 kabupaten kita libatkan,” ucapnya.***

Bagikan: