Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Islah Suporter Sepak Bola Indonesia tak Dihadiri Bobotoh, Jakmania, dan Bonek

Wina Setyawatie

JAKARTA, (PR).- Tidak pernah berakhirnya rivalitas suporter selama ini diakui PSSI sebagai pekerjaan rumah mereka yang harus segera diselesaikan. Diperlukan edukasi dengan cara yang berbeda, mengingat permasalahan suporter ini kompleks.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi dalam acara islah suporter sepak bola nasional yang bertajuk jumpa suporter sepak bola Indonesia yang digelar oleh Kemenpora, di Wisma Menpora, Kemenpora, Senayan, Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2017.

Menurutnya, pembinaan suporter juga merupakan kewajiban dari PSSI. Edy mengakui jika tidak pernah berakhirnya rivalitas yang kerap kali berujung pada kekerasan ini merupakan kelemahan dan kesalahan PSSI.

"Karena ini merupakan sinisme untuk PSSI, karena begini terus urusannya (kisruh suporter). Jadi ini artinya PSSI yang kurang becus, bukan suporternya. Kami akui merupakan kelemahan dan kesalahan ini ada di PSSI," katanya. 

Karena itu pihaknya sangat mengapresiasi islah yang digelar oleh Kemenpora tersebut, mengingat selama ini memang diakuinya di kepengurusan sebelumnya, masalah suporter ini tidak ditanggapi sebagai salah satu fokus utama permasalahan sepak bola nasional. 

Pihaknya mengatakan setelah ini pihaknya akan menindak lanjuti hal tersebut secara teknis. Dimana para suporter akan saling dipertemukan dengan pihak-pihak yang berkompeten. 

Wakil Ketua PSSI Joko Driyono menambahkan, jika masalah suporter ini jadi pekerjaan rumah besar bagi PSSI sebagai federasi. Pihaknya sadar jika masalah suporter ini tidak selesai hanya di forum seminar dan diskusi saja, karena hal ini harus melibatkan banyak stakeholder sepakbola Indonesia, PSSI, klub, aparat keamanan, dan fans itu sendiri. 

"Kita tidak boleh menganggap ini hal yang sederhana. Sebab rivalitas masing-masing suporter itu harta karun sepak bola yang sebenarnya, tinggal yang berbeda adalah cara rivalitas diekspresikan itu yang jadi pembeda.  Kami memilih optimis bahwa ekspresi rivalitas tadi ditingkatkan lewat modus-modus yang lebih baik dan lebih elegan untuk peningkatan sepakbola kedepannya," imbuhnya. 

Pihaknya ingin melakukan edukasi suporter dengan modus yang berbeda. Agar edukasi tersebut bisa dirasakan langsung tanpa merasa di gurui. 

"Edukasi suporter itu berbeda dengan anak-anak di sekolah, dikumpulkan lalu diberikan aturan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Kita harus punya terobosan dulu, agar edukasi itu bisa dirasakan langsung tanpa dinilai menggurui. Karena suporter adalah indvidu-individu yang bebas untuk mengekspresikan apapun di dalam dan luar stadion," ucapnya. 

Terpenting dari acara yang diinisiasi oleh Kemenpora ini, menurut Joko, adalah para suporter ini bisa mengambil spirit perdamaian itu dulu. Untuk tindak lanjut, PSSI pun berencana untuk mengundang para suporter dan klub yang punya catatan rivalitas tinggi. 

"Rencananya pekan depan kita akan panggil Jak Mania dan Bobotoh bersama klub, waktu sedang kami atur. Fokusnya memang untuk klub-klub yang punya catatan penting. Tidak tertutup kemungkinan bonek dan aremania juga ikut di undang," imbuhnya. 

Kawal terus



Pemerintah menyatakan akan mengawal terus komitmen islah suporter sepak bola nasional ini agar kedepannya tidak ada lagi bentrok, konflik, rusuh, dan korban. Komitmen itu akan dipastikan pemerintah akan jadi konsekuensi logis yang harus dikawal bersama. 

"Kepada PSSI lah kami memberikan tugas itu. Kami berharap PSSI bersama klub bisa lanjuti kegiatan ini secara rutin. Kami akan kawal terus. Tapi jika ke depan terulang lagi, kami akan tagih konsekuensi tersebut dan pemerintah tidak akan segan untuk turun tangan kembali," kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam.

Menurutnya, ini adalah cara pemerintah mengingatkan federasi agar melakukan langkah-langkah cepat dan antisipatif. Serta mendorong perbaikan PSSI untuk kedepannya. 

"Penegakan aturan dengan tegas adalah satu cara cepat dan antisipatif, selain juga mencari jalan keluar lain untuk permasalahan suporter ini. Karena tadi pun PSSI sudah mengakui jika ini merupakan kelemahan mereka, itu kan diakui sendiri oleh mereka. Tapi kami tentu tidak boleh membiarkan dan kami harus bantu melakukan perbaikan," tukasnya. 

Pihaknya pun meminta kesadaran dari para suporter untuk juga berhenti untuk melantunkan yel-yel berbau rasisme dan para perwakilan suporter yang hadir dalam islah kemarin harapannya bisa menjadi motor untuk para rekan-rekan mereka di akar rumput untuk mengkampanyekan hal tersebut. 




Kemarin islah suporter sepak bola nasional dihadiri oleh 35 klub mulai dari Liga 1 hingga Liga 3 dan 35 perwakilan suporter. Mereka selain mengungkapkan unek-uneknya kepada pemerintah, PSSI, dan perwakilan aparat keamanan dari Intelkam Mabes Polri, mereka juga mengikrarkan satu kesepakatan bersama, yakni “Kami sebagai bagian dari suporter klub sepak bola Indonesia sepakat untuk tetap menunjukkan loyalitas pada klub masing-masing dan menghormati pertandingan, dengan tidak menunjukkan sikap permusuhan kepada kelompok suporter lain dan masyarakat pada umumnya". 

Kain 10 meter pun ikut menjadi sanksi suara hati suporter Indonesia yang hadir. Dimana Menpora, PSSI, perwakilan aparat keamanan, serta para perwakilan klub dan suporter ikut menandatangani komitmen damai suporter. Para perwakilan klub yang hadir yakni Persija Jakarta, Persibangga Purbalingga, Sriwijaya FC Palembang, Semen Padang FC, Persiba Balikpapan, PS TNI, Persijap, PSCS, Persibas Banyumas, Mitra Kukar, Barito Putera,  757 Kepri Jaya, PSM Makassar, Persita Tangerang, Cilegon United, Persiba Bantul, PSS Slemen, dan Persikad Depok.

Sementara para perwakilan suporter yang berpartisipasi adalah Singa Mania, Smeck PSMS, Bomber Mania, Ultras Persija, Panser Biru, STS, Slemania, The North Hell Cilacap, Japman, LA Mania, Pusamania, Spink, Snex Semarang, Garaz, Slemania, Ganster, PFC, Spartack, Basoka Kudus, Balistik, Fakasima SPFC, Panser Biru, Maczman, Red Gank, Aremania, Pasoepati, Kacong Mania, The Kmers, Askar Bertanjak, Pos Jateng, Batman, PFC Balikapan,  The Maident, serta Mitra Mania. 

Sayangnya, pertemuan itu tidak dihadiri oleh bobotoh dan Jak Mania, serta bonek, yang merupakan suporter yang paling bertikai. Namun, menurut Kemenpora, ketidakhadiran mereka bukan karena tidak mendukung, tapi karena memang waktu yang begitu mepet, hingga mereka pun tanpa persiapan. Ketiga belah pihak pun dikatakan pihak Kemenpora sebelumnya sudah memberikan konfirmasi untuk tidak hadir.***

Bagikan: