Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Darurat Kualitas Wasit Indonesia

Wina Setyawatie
PEMAIN Persib Bandung Achmad Jufriyanto memprotes sejumlah putusan wasit Kusni pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Minggu 9 Juli 2017.*
PEMAIN Persib Bandung Achmad Jufriyanto memprotes sejumlah putusan wasit Kusni pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Minggu 9 Juli 2017.*

AWAL pekan ini menjadi akhir dari putaran pertama penyelenggaraan Liga 1. Berjalan selama 17 pekan, hasil putaran pertama ternyata kurang memuaskan. Masih jauh dari kata sempurna. Pengubahan regulasi di tengah jalan masih ditemui, lalu protes klub terhadap hal-hal teknis seperti jadwal pertandingan, lapangan, TV pemegang hak siar, hingga yang terutama kinerja wasit. Namun, dua hal yang kemudian jadi perhatian utama yang perlu segera dievaluasi untuk putaran kedua nanti, yakni kualitas wasit dan ketegasan soal regulasi. 

Dikhawatirkan, jika tidak diatasi segera, masalah tersebut bisa menggerogoti kredibilitas kompetisi. Padahal seperti yang diketahui, PSSI saat ini sedang berusaha untuk mengembalikan masa jaya sepak bola Indonesia seperti dulu.

Bahkan ada ketakutan, jika kondisi ini tetap tidak juga bisa diatasi, bisa kedengeran hingga kuping FIFA, maka bisa saja Indonesia dinilai tidak serius melakukan pembenahan persepakbolaan nasional setelah jatuhnya sanksi mereka selama setahun lalu. Padahal FIFA, paska sanksi memiliki banyak proyek untuk membangun pengembangan dan atau pemulihan sepak bola di Indonesia.

Dari mata pengamat dan pemerintah, masalah utama kompetisi adalah kinerja wasit. Banyaknya wasit yang dinilai kurang maksimal di dalam memimpin pertandingan terlihat dari banyaknya komplain yang muncul dari tim-tim peserta. Salah satu bukti nyata masih kurangnya kinerja wasit adalah adanya sebelas keputusan kontroversial wasit di Liga 1 pada periode awal kompetisi, April-Mei 2017 lalu.

Memang secara menyeluruh pemerintah mengakui belum bisa mengevaluasi secara menyeluruh mengingat PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi belum memberikan data secara tertulis dari hasil putaran pertama kemarin.

Akan tetapi, jika melihat dalam konteks banyaknya keluhan yang masuk, hingga ke pihak Kemenpora sekalipun dan kekecewaan publik, jelas jika masih ada kekurangan.  Apalagi Sekretaris Menteri (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto menilai jika di era media sosial ini publik beraksi cepat sekali.

Meski begitu, pihaknya masih memaklumi keterbatasaan yang saat ini masih dialami PSSI untuk menggelar kompetisi. Pasalnya, pemerintah PSSI menggelar Liga 1 dan Liga 2 ini dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Setelah sanksi FIFA, seharusnya mulai tumbuh lagi iklim sepak bola yang sehat.

Akan tetapi, selama masa sanksi berjalan, rasanya belum ada perbaikan yang dilakukan secara signifikan. 

”Jadi kami juga tidak menyalahkan PSSI, tapi kami mendorong PSSI untuk melakukan pembenahan secepatnya dan kami membantu di belakangnya,” ujar Gatot.

Sedikit berbeda dari kacamata pengamat. Erwin Fitri menilai jika kualitas wasit yang kurang jeli dan tegas sering kali menjadi pemicu protes pemain, ofisial, dan penonton yang bahkan bisa berlebihan.

Kualitas ini harus terus ditingkatkan dengan memberikan kursus/penyegaran wasit secara lebih intensif lagi. Hal itu karena selalu ada hal baru dalam peraturan sepak bola yang berkembang. Kendati demikian, sebelum kompetisi memang selalu ada pelatihan/penyegaran untuk wasit yang akan ditugaskan. 

Lalu, kedua, soal ketegasan dan regulasi. Perubahan regulasi yang masih terjadi di tengah jalan, seperti dicabutnya aturan pemakaian pemain U-23 dengan alasan untuk membantu Timnas di SEA Games, Erwin melihat seharusnya apa pun alasannya, perubahan regulasi tidak bisa serta-merta dilakukan dadakan tanpa sosialisasi terlebih dahulu di awal musim. Saat ini, menurut dia, apa yang dilakukan PSSI terkesan menguntungkan klub tertentu.

”Solusi sementara, sembari berusaha meningkatkan kualitas wasit, apa yang dilakukan oleh LIB dengan rencana menggunakan wasit asing di putaran kedua, tidak apa-apa. Yang penting bisa membawa kredibilitas kompetisi dan bahkan bisa sekaligus memberikan pelajaran untuk wasit lokal,” katanya.

Yang tidak kalah penting juga adalah sosialisasi law of the game FIFA kepada klub-klub, pemain, oficial, dan pelatih, hingga mereka mengerti benar aturan dalam pertandingan tanpa harus melakukan protes berlebihan dan asal protes.

Meskipun bukan masalah utama, suporter pun tetap dinilai kedua belah pihak tidak boleh luput dari evaluasi. Butuh sanksi yang benar-benar mengikat suporter bila terjadi pelanggaran yang melibatkan mereka, seperti halnya yang terjadi di kasus Persib Bandung.

Sudah berulang kali disanksi, tetapi tetap saja kejadian yang sama seakan tidak membuat para suporter Maung Bandung jera. Mulai dari sanksi denda Rp 10 juta hingga Rp 130 juta, lalu mulai dari larangan mendampingi Persib dalam satu kali pertandingan, hingga disanksi terberat lima pertandingan, sebenarnya belum benar-benar mengena untuk para pendukung. Pasalnya, sanksi yang dijatuhkan Komdis dinilai kurang berdampak langsung untuk suporter. Karena yang selalu dihukum adalah klub, hingga suporter tidak merasakan efek jera secara langsung.

”Ibarat mau didenda Rp 10 miliar sekalipun, kalau klub yang selalu dijatuhi sanksi ya penontonnya tidak akan jera. Selalu berulang saja. Seharusnya setelah keluar adanya hukuman tanpa penonton mereka bisa berpikir dan belajar. Tetapi kalau terulang lagi sepertinya butuh hukuman yang lebih ekstrem, misalnya kena tidak boleh main di Bandung semusim atau setengah musim. Mungkin baru bisa kapok,” kata Erwin.

PSSI lakukan evaluasi



Evaluasi dari pihak PSSI dan LIB sendiri saat ini sedang berjalan. Evaluasi bersama dengan para pelatih kepala untuk faktor teknis berlangsung selama dua hari, 1-2 Agustus ini. Sementara itu, untuk evaluasi kompetisi secara menyeluruh untuk paruh musim akan dilakukan pada Kamis 3 Agustus 2017 mendatang.

Akan tetapi, dari evaluasi singkat yang dilakukan LIB di pekan ke-16 lalu, dari beberapa hal yang jadi perhatian, yang terpenting jadi perhatian utama ya tetap soal perangkat pertandingan. Pasalnya, hingga akhir putaran pertama ini, ternyata kurang lebih ada 8-9 orang wasit dan asisten wasit yang perlu di evaluasi.

Ada faktor nonteknis yang dipandang memang memengaruhi kinerja wasit. Hal itu dinilai Direktur Operasional LIB, Tigor Shalomboboy sebagai masalah integritas. Hal itu yang sampai kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya dan PSSI. Karena bila berbicara integritas, pasti setiap wasit melakukan tugasnya karena ada alasan.

Untuk putaran kedua, beberapa improvisasi pun sudah disiapkan oleh LIB. Salah satunya adalah wasit asing. Penggunaan wasit asing ini diharapkan bisa jadi penyegaran bagi wasit lokal dan sebagai transfer pengetahuan.

Hal itu bukan berarti memandang rendah kualitas wasit Indonesia saat ini, tetapi ini merupakan salah satu langkah perbaikan. Bagaimana ke depannya perbaikan ini bisa meningkatkan mutu pertandingan.

Improvisasi lainnya adalah dengan menugaskan referee assessor yang selama ini tidak ada. Referee assessor ini akan bertugas menilai kinerja wasit, termasuk wasit asing yang turun memimpin Liga 1.

Penempatan referee assessor ini merupakan hasil tukar pikir dan mantan wasit FIFA George Cumming yang beberapa waktu lalu datang ke Indonesia untuk bertukar pikiran, dan salah satu bagian dari program pengembangan wasit.

Lalu bagaimana dengan menaikan mutu wasit? Menurut Tigor, pihaknya akan melakukan secara bertahap dengan menumbuhkan inovasi-inovasi program pengembangan baru yang kemudian akan diteruskan ke federasi untuk direalisasikan.

Setelah program wasit asing ini berjalan, akan keliatan apakah ada peningkatan signifikan untuk mutu wasit lokal. Memang hal ini dinilai tidak mudah, karena untuk program pengembangan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi menurut LIB jika tidak dicoba, maka Indonesia akan semakin ketinggalan.

Terlebih saat ini Indonesia hanya memiliki lima pengadil yang berlisensi FIFA. Untuk masalah meningkatan mutu wasit ini, pemerintah juga ikut membantu dengan ikut membiayai upgrading untuk pengadil. 

Kendati nanti mulai terlihat ada peningkatan mutu wasit, sayangnya LIB belum tahu apakah peningkatan itu juga akan diikuti dengan upgrading peralatan canggih pendukung kinerja wasit di lapangan pada saat putaran kedua nanti. Karena seperti yang diketahui, peralatan wasit dalam memimpin pertandi­ngan di Indonesia sudah ketinggalan zaman. Contoh kecil saja, kita belum menggunakan vanishing spray, busa untuk  penanda pelanggaran.

Untuk penambahan equipment ini, belum bisa dijawab oleh LIB. Karena menurut mereka untuk menerapkan equipment modern tidak semudah yang dipikirkan. Karena dinilai butuh edukasi lagi untuk wasit dan asisten wasit.

Terkait dengan suporter, LIB mengaku menyerahkan seluruhnya kepada klub. Mengingat suporter menempel dalam klub hingga menjadi tanggung jawab klub untuk memberikan edukasi kepada para pendukung agar tidak terjadi tindakan-tindakan yang dinilai melanggar aturan.

Akan tetapi, dalam kode disiplin PSSI pasal 59-61, pasal 75 tahun 2008 terkait dengan suporter telah tercantum sanksi maksimal yang bisa dikenakan oleh Komisi Disiplin kepada suporter, panpel, maupun klub yang dianggap melanggar sesuai dengan yang tertera dalam pasal tersebut.

”Sebenarnya kalau mereka mengacu kepada regulasi yang mereka buat, hal-hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Jadi ada kemungkinan ada yang salah. Mungkin semua belum mengakomodasi sepenuhnya yang ada dalam regulasi itu,” ucap Gatot.

Semoga saja hasil evaluasi yang dilakukan di paruh pertama ini bisa memberikan pembelajaran berharga dan di putaran kedua. Semoga semua kendala yang ada di paruh pertama kemarin bisa diperbaiki tanpa terulang lagi kesalahan yang sama. Semoga!***

Bagikan: