Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

13 Klub Liga Tiongkok Menunggak Gaji, Apa Kabar Carlos Tevez dan Carvalho?

SEBANYAK tiga belas klub Liga Super Tiongkok bisa saja kehilangan keikutsertaan mereka dalam kompetisi musim depan. Itu karena mereka dianggap gagal membayar gaji pemain dengan benar.

Dilansir dari laman Mirror, klub bersangkutan diberi tahu bahwa mereka harus menyelesaikan tunggakan gaji pemain selambat-lambatnya pada 15 Agustus 2017. Setelah itu, klub-klub ini pun mesti mengirim bukti pembayaran ke Asosiasi Sepak Bola Tiongkok (CFA). Jika tidak, mereka akan menghadapi penolakan untuk mengikuti Liga.

Pemberitahuan disampaikan melalui surat yang dikeluarkan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 11 Juli 2017. Dalam surat tersebut, secara tegas disebutkan bahwa klub yang memiliki hutang di luar toleransi, tidak dapat ikut dalam kejuaraan klub kontinental.

Klub Ricardo Calvalho dan Carlos Tevez



Tim-tim yang masuk daftar dalam surat teguran, ternyata bukan cuma tim kecil.  Klub yang berstatus juara saat ini, Guangzhou Evergrande juga masuk di dalamnya. Ada pula klub dengan jumlah belanja terbesar, Shanghai SIPG. Shanghai SIPG merupakan tim yang skuatnya berisikan Hulk, Ricardo Carvalho serta Oscar yang dibeli dari Chelsea seharga 60 juta poundsterling.

Shanghai Shenhua, yang memiliki pemain dengan gaji termahal dunia, Carlos Tevez juga masuk di antara tim yang diberi peringatan. Carlos Tevez mendapatkan upah sebesar 615.000 poundsterling setiap pekan.

Selain tim-tim besar, lima tim yang berlaga dikasta bawah Liga Tiongkok pun ikut dalam tuduhan gagal dalam membayar gaji dan bonus pemain mereka.

Juru bicara AFC menekankan bahwa perintah tersebut tidak secara khusus ditargetkan kepada klub-klub Liga Super Tiongkok. Melainkan dikirim ke semua anggota asosiasi.

Dari 16 tim yang berlaga di Liga Super Tiongkok, hanya Yanbian Fude, Henan Jianye dan Guizhou Hengfeng yang tidak memiliki kewajiban finansial yang belum terpenuhi.

Kontroversi ini muncul enam bulan setelah pemerintah Tiongkok ikut serta dalam pengawasan pengeluaran klub-klub sepak bola.

Badan pengelola olahraga di negara setempat menyebut tim-tim Liga Super Tiongkok melakukan 'pembakaran uang' di awal tahun. Kondisi ini pun dianggap fenomena serius karena seharusnya mereka memilih berinvestasi melalui program pengembangan pemain muda.

Juru bicara Administrasi Umum Olahraga Tiongkok akan berencana untuk membatasi pengeluaran klub dalam membeli pemain, juga menghambat investasi yang tidak masuk akal. Tindakan keras ini dirancang untuk mencegah penandatanganan kontrak bayangan dan pelanggaran lainnya. (Fakhrur Razi)***

Bagikan: