Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 30.7 ° C

Lima Hal yang Harus Kamu Tahu Soal MMA

Miradin Syahbana Rizky

TANPA harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, olah raga modern yang mencampurkan teknik pukulan, tendangan, bantingan, dan kuncian dalam bertarung ini tentunya sudah dikenal masyarakat. Dengan nama berbahasa Inggris yakni mix martial art (MMA), olah raga ini lebih dikenal dibandingkan jika disebut seni bela diri campuran.

1. Gabungan teknik bela diri



MMA merupakan gabungan dari teknik menyerang tinju, muay thai, karate, taekwondo, dan banyak lagi ilmu bela diri. Sedangkan teknik bantingan, kuncian, dan takedown banyak berasal dari judo, jujitsu, dan gulat. Kelahiran MMA harus mengikuti juga dengan munculnya Ultimate Fighting Championship (UFC), hasil ide dari Art Davie, Rorion Gracie, dan John Millius.

Mereka mencanangkan turnamen dengan 8 peserta yang minim peraturan (kecuali menggigit dan mencolok mata) dan batas waktu, untuk membuktikan teknik bertarung apa yang paling efektif di dunia. 

Salah satu penggagas UFC yaitu Rorion Gracie juga memiliki misi keluarga Gracie untuk menyebarkan teknik gracie jujitsu, atau brazilian jujitsu ke seluruh dunia. Ia menganggap cara ini adalah cara terbaik untuk membuktikan keampuhan jurus Gracie Jujitsu.

2. Berawal dari UFC



Mengenai sejarahnya, MMA sebagai olah raga modern tidak lepas dengan sejarah kemunculan UFC. UFC perdana dibuat pada tahun 1993 di Nevada, Colorado Amerika Serikat. Pada awalnya, UFC 1 minim peraturan kecuali larangan menggigit, mencolok mata, dan batas waktu. 

Peserta diperbolehkan menggunakan seragam disiplin bela diri yang dianutnya, bahkan memperbolehkan petinju menggunakan satu sarung tinju saja. Pertandingan dihentikan apabila seorang petarung menyerah atau anggota kamp petarung melempar handuk untuk menghentikan pertarungan. Seorang wasit hadir dalam pertarungan tetapi andilnya sangat minim dan keselamatan petarung tidak begitu terjamin. Tanpa adanya peraturan, UFC awal dianggap sebagai ajang brutal yang dilarang banyak negara bagian Amerika Serikat.

3. Evolusi peraturan MMA



Seiring waktu dan keinginan besar para pendiri awal UFC untuk menjadikan MMA sebagai ajang olah raga yang diakui, peraturan demi peraturan mulai melapisi tiap ajang UFC.

Sejak dibelinya merek UFC oleh Zuffa (pendirinya terdiri dari Frank dan Lorenzo Fertitta, bekas pemilik kasino di Las Vegas), dan digerakkan oleh Dana White (sahabat Fertitta bersaudara sejak kecil), UFC mendekatkan diri pada komisi atletik dan mulai terbentuk peraturan-peraturan dan divisi berat yang hingga sekarang digunakan UFC.

Bahkan, mayoritas organisasi MMA di seluruh dunia menggunakan peraturan yang disetujui oleh komisi atletik Amerika Serikat dan menjadi peraturan MMA de facto dunia. Peraturan MMA yang digunakan sekarang disebut Unified Rules of Mixed Martial Arts.

Untuk sebuah pertarungan MMA berlangsung selama 3 ronde sepanjang 5 menit tiap ronde, dan untuk kejuaraan perebutan sabuk selama 5 ronde tiap 5 menit. Format durasi waktu ini adalah yang umum digunakan untuk ajang MMA dan disahkan oleh Unified Rules of Mixed Martial Arts. UFC juga telah meng­adakan pertarungan non-kejuaraan (tidak merebutkan sabuk tetapi ajang utama) selama 5 ronde.

Saingan awal organisasi UFC yaitu PRIDE (organisasi MMA taraf internasional asal Jepang 1997-2007) memiliki format waktu yang sedikit berbeda. Ronde pertama berdurasi 10 menit, sedangkan ronde kedua dan ketiga selama 5 menit. Durasi waktu ini sama saja untuk pertarungan nonkejuaraan ataupun kejuaraan.

Sebuah pertarungan MMA bisa dilakukan di sebuah cage seperti UFC, Bellator, ONE FC, dan lain-lain atau ring seperti PRIDE, DREAM, M-1 GLOBAL, dan lain-lain.

4. Olah raga yang kerap berujung kematian



Jika berbicara mengenai kerasnya tarung MMA, kita bisa merujuk beberapa kejadian yang membuat sejumlah atlet mengalami cedera yang berujung pada kematian. Di antaranya adalah atlet bernama Tim Hague (34).

Tim Hague tewas, Minggu 18 Juni 2017 lalu, setelah meng­alami kekalahan KO dalam sebuah pertarungan tinju menghadapi Adam Braidwood. Hague tewas di rumah sakit, setelah ia mengalami kekalahan KO setelah berkali-kali dipukul jatuh oleh Braidwood, mantan pemain tim sepak bola Edmonton Eskimos, dalam pertarungan di Shaw Conference Center di Edmonton, Alberta, Canada.

Meski telah menjalani operasi bedah otak di rumah sakit, nyawa Hague tidak bisa diselamatkan. Mengetahui lawannya kemudian tewas, Adam Braidwood mengaku sangat menyesal.

Sebelumnya, satu nyawa melayang dari MMA. Petarung MMA asal Portugal, Joao Carvalho (28), meninggal dunia setelah menjalani laga menghadapi petarung tuan rumah, Charlie Ward, di Dublin, Irlandia, Sabtu 9 April 2016.

Dalam laga itu, Carvalho tumbang setelah menerima pukulan telak dari Ward. Dalam video amatir yang merekam momen ini, sebelum tumbang, Carvalho sudah terlihat sempoyongan.

Terlihat jelas, Carvalho sempoyongan setelah menerima satu pukulan telak dari Ward. Selepas itu, Ward terus menghujani Carvalho dengan pukulan lain. Termasuk ketika Carvalho sudah terjatuh.

Seusai dinyatakan kalah, Carvalho langsung ambruk tak sadar­kan diri. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Beaumont. Dia menjalani perawatan selama 3 hari, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

5. Menantikan duel McGregor vs Mayweather Jr.



Berawal dari psywar dan saling ejek di dunia maya, juara dunia MMA Conor McGregor secara terbuka menantang petinju dunia yang tak terkalahkan Floyd Mayweather Jr. Duel lintas bela diri ini pun akhirnya dapat diwujudkan seusai keduanya sepakat bertarung dengan pertimbangan beberapa syarat.

Di antaranya mereka berduel di atas ring mengikuti peratur­an olah raga tinju. McGregor yang sama sekali tidak memiliki rekor bertinju telah mendapat lisensi dari organisasi tinju di Nevada.

Meski demikian, pihak promotor tetap berjaga-jaga seandainya petarung asal Irlandia itu mengeluarkan jurus lain di luar tinju. Seperti dilansir USA Today, Presiden UFC, Dana White, juga sangat hati-hati dengan hal ini.

Dia menegaskan bahwa McGregor dilarang menendang, membanting, dan menyikut selama bertanding melawan Floyd Mayweather Jr. ”Tidak mungkin hal itu bakal terjadi. Ini sudah ada dalam kontrak nomor 1,” ujar Dana.

Mayweather Jr. dan McGregor akan bertarung pada 26 Agustus 2017 di T-Mobile Arena, Las Vegas, Amerika Serikat. Kedua­nya sepakat tampil di kelas 68 kg selama 12 ronde. Dalam duel i­ni, keduanya juga akan mengenakan sarung tinju seberat 10 ons.

Mayweather Jr. diperkirakan menerima lebih dari 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,3 triliun dari pertandingan ini. Sementara itu, McGregor diperkirakan akan menerima bayaran sekitar 60 juta dolar atau Rp 830 miliar.

”Nomor 2, ini adalah tinju yang berlangsung sesuai aturan Komisi Tinju Nevada. Ketika Anda berbicara Floyd Mayweather, tuntutan hukum bakal dilayangkan bila itu terjadi. Anda tentu tahu seberapa besar Conor menyukai uang. Conor akan kehilangan banyak uang jika hal itu sampai terjadi," kata Dana.

Mayweather Jr. belum pernah terkalahkan hingga akhirnya memutuskan pensiun 2015. Ia memiliki rekor bertanding 49 kali menang, 26 di antaranya diselesaikan dengan KO.

Pada pertandingan terakhir, petinju berjuluk The Money itu berhasil mengalahkan Andre Berto, September 2015. Namun, saat ini Mayweather Jr. akan menginjak 41 tahun pada pertarungan nanti. Dia juga lama absen dari ring tinju. Hal ini tentu menjadi tantangan buat Floyd Mayweather Jr. jika ia jadi berduel lawan McGregor.

Menghadapi duel itu, McGregor mengaku sudah tak sabar. Dikutip dari The Sun, sakit hati McGregor tampaknya belum reda saat Mayweather mengejeknya beberapa bulan lalu. "Saya akan menghancurkan wajahnya," tulis McGregor di Twitter setelah memastikan linsensi itu diraih.

Kisruh kedua petarung ring itu sebenarnya dimulai dari isu. Be­berapa media luar memanas-manasi kedua petarung dan membuat mereka saling singgung. Mayweather lebih dulu angkat suara dengan meremehkan Mcgregor. Sikap itu membuat McGregor merasa terhina dan memincu kehendak untuk mereali­sasikan pertarungan itu.***

Bagikan: