Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 29.9 ° C

Indonesia Siap Hadapi Undian Tuan Rumah FIBA World Cup 2023

Wina Setyawatie
MENTERI Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi menyambut perwakilan Federasi Bola Basket Internasional FIBA, Ingo Weiss didampingi oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang juga Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) Erick Thohir di Kemenpora, Jakarta, Selasa 4 Juli 2017. FIBA datang untuk melakukan peninjauan dua venue calon tuan rumah bersama dengan Jepang dan Filiina untuk FIBA World Cup 2023.*
MENTERI Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi menyambut perwakilan Federasi Bola Basket Internasional FIBA, Ingo Weiss didampingi oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang juga Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) Erick Thohir di Kemenpora, Jakarta, Selasa 4 Juli 2017. FIBA datang untuk melakukan peninjauan dua venue calon tuan rumah bersama dengan Jepang dan Filiina untuk FIBA World Cup 2023.*

JAKARTA, (PR).- Indonesia harus bersiap menghadapi undian tuan rumah FIBA World Cup 2023 yang akan digelar Agustus mendatang. Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama dengan Jepang dan Filipina.

Pesaing utama Indonesia, Jepang, Filipina yang menjadi perwakilan Asia, adalah duet Rusia, Turki dan Ukraina, Uruguay. Perwakilan Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) meninjau dua venue utama yang akan jadi calon tuan rumah, yakni Istana Olah Raga (Istora) dan Hall Basket di Kawasan Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Selasa 4 Juli 2017.

Bendahara FIBA, Ingo Weiss yang menjadi juru bicara, usai peninjauan, kepada wartawan mengatakan jika pihaknya kagum dengan segala fasilitas yang ada di dua venue tersebut, yang merupakan tempat bersejarah karena dibangun pada 1962 untuk Asian Games IV. Renovasi yang sudah dilakukan dinilai sudah bagus. 

"Secara umum, renovasi yang dilakukan sudah bagus, khususnya untuk penyelenggaraan Asian Games 2018 mendatang, tapi sekarang kami harus melihat bagaimana Indonesia bisa membuat venue ini lebih bagus untuk penyelenggaran Piala Dunia Basket di 2023. Karena setelah meninjauan kami menilai ada beberapa hal yang harus diperbaiki, seperti langit-langit pintu masuk yang terlalu pendek," ujarnya.

Jika Indonesia terpilih



Alasannya karena nantinya, jika Indonesia terpilih, para pemain dunia yang memiliki tinggi di atas rata-rata akan bermain di Istora. Hingga Istora sebagai salah satu venue pertandingan, selain di Jepang dan Filipina, harus memiliki lebih banyak ruang untuk masalah ini. 

"Tapi kami yakin, Indonesia bisa mengatasi masalah ini. Terlebih dukungan dari Presiden SEABA (Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara), Erick Thohir untuk bisa membawa Piala Dunia basket 2023 ke Indonesia sangat penuh. Saya berharap, Indonesia bersama Jepang dan Filipina bisa memenangkan proses bidding nanti. Karena ini untuk pertama kalinya Piala Dunia digelar di tiga negara. Ini akan jadi proses undian yang ketat, mengingat calon tuan rumah pesaing lainnya merupakan kandidat yang kuat," tukasnya. 

Tuan rumah di tiga negara ini akan jadi sesuatu yang menurutnya menguntungkan bagi basket, karena dengan sorotan media, dipastikan akan lebih dari 520 miliar penonton di dunia akan melihat event ini. Namun, sebelum bisa memastikan hal tersebut, Indonesia bersama juga dengan Jepang dan Filipina, menurutnya harus mempersiapkan diri untuk memenuhi persyaratan undian. 

Undian sendiri akan dilangsungkan Agustus mendatang. Selama masa penilaian, pada Oktober mendatang, pihaknya akan kembali datang dengan beberapa catatan penting evaluasi venue yang harus dipenuhi oleh Indonesia. Nantinya FIBA akan menentukan pemenang tuan rumah Piala Dunia 2023 pada akhir tahun ini.

Siapkan proposal



"Indonesia harus mempersiapkan proposal untuk dipaparkan dalam undian nanti. Karena aktifitas Piala Dunia bukan hanya pertandingan saja, tapi juga ada pre-event, seperti kualifikasi, tuan rumah untuk Piala Dunia untuk U-19, 3 on 3 event dan sebagainya. Nanti negara peserta undian, juga harus menentukan maskot dan logo. Jika Indonesia-Jepang-Filipina bisa memenangkannya, maka kalian akan sangat sibuk menghadapi persiapan menuju 2023," ujar Ingo menjelaskan. 

Erick menyatakan jika pihak Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan SEABA mendukung penuh pencalonan Indonesia tersebut. Karena pihaknya bersama PPKGBK diberikan amanah untuk mencari fungsi selanjutnya komplek olahraga GBK ini setelah Asian Games 2018. 

"Setelah Asian Games kami diminta Pak Jokowi (Presiden Indonesia) untuk mencari setelah Asian Games, venue di GBK ini harus bisa digunakan untuk olahraga masyarakat. Kami mengapresiasi usulan Perbasi yang mengajukan Istora sebagai salah satu venue Piala Dunia 2023. Ini adalah satu yang prestise dan ini pertama kali kejuaraan dunia di host tiga negara. Kalau bersama Jepang dan Filipina kan bagus, mengingat secara prestasi kita kurang bagus. Ini jadi intensif buat kita untuk lebih memacu Timnas," ungkapnya. 

Menurutnya, pihaknya sudah membicarakan dan melaporkan hal ini kepada Menpora dan pihak Kemenpora pun mendukung. Karena olahraga dinilai sebagai salah satu hal positif yang bisa menyatukan bangsa. 

"Untuk prestasi basket Indonesia pun juga bisa jadi triger bagi Timnas. Tentu salah satunya FIBA merubah kompetisi Timnas. Sekarang pertandingan sudah "home and away", jadi yang biasanya Indonesia main di luar negeri, sekarang bisa saja main di kandang, ketika melawan negara luar. Jadi basket Indonesia punya kesempatan untuk lebih tinggi berprestasi," tutur Erick menambahkan.

Masih ada waktu



Direktur PPKGBK, Winarto mengatakan jika Indonesia masih memiliki waktu untuk melakukan penyesuaian sesuai persyaratan yang diminta FIBA. Asian Games 2018, dinilainya hanya permulaan awal untuk Indonesia menjadi tuan rumah event internasional

"Renovasi untuk penyesuaian venue sesuai persyaratan FIFA bisa dilakukan. Karena kita berbicara tahun 2023. Sekarang kita baru bicara untuk Asian Games 2018. Tadi ada permintaan ketinggian untuk langit-langit pintu masuk. Setelah Asian Games 2018, Indonesia masih ada waktu empat sampai lima tahun untuk merenovasi seusai kebutuhan Piala Dunia. Karena untuk Asian Games saja, kita persiapan 1,5 tahun sudah cukup," ucapnya. 

Nantinya, Istora Senayan akan diproyeksikan sebagai venue pertandingan, sedangkan hal A basket akan digunakan sebagai tempat latihan. Sebelum peninjauan, kemarin, perwakilan FIBA, Ingo, Direktur Sport & Kompetisi Predrag Bogosavljev, dan Direktur Umum, Media, & Marketing Frank Leenders terlebih dahulu bertemu dengan Menpora Imam Nahrawi untuk perkenalan.***

Bagikan: