Wisatawan di Bali Diimbau Biasakan Transaksi Nontunai Saat New Normal

- 29 Mei 2020, 13:37 WIB
CONTOH pembayaran dengan QRIS.* /ANTARA

PIKIRAN RAKYAT - Sektor pariwisata, hotel, transportasi, darat, laut dan udara, sangat rentan terhadap penularan virus.

Termasuk virus corona yang menyebabkan wabah Covid-19.

Oleh karena itu, dalam penerapan new normal beberapa saat lagi, wisatawan diimbau membiasakan diri dengan transaksi nontunai lewat smartphone.

Baca Juga: Kapal Perang AS Dekati Pulau Sengketa di Laut China Selatan, Dianggap Aksi Provokatif oleh Tiongkok

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali, Trisno, guna mencegah penyebaran COVID-19.

"Bank Indonesia Perwakilan Bali mendukung langkah Pemerintah Indonesia yang akan memberlakukan 'new normal' (Normal Baru) di beberapa provinsi untuk menghidupkan kembali gairah perekonomian," katanya, seperti dilaporkan Antara dari Denpasar, Bali, Jumat, 29 Mei 2020.

Khusus untuk Bali, apabila pemerintah menerapkan "New Normal", pihaknya mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap munculnya penularan COVID-19, karena akan mulai normal dan wisatawan akan menikmati liburan ke Pulau Bali.

Baca Juga: Hadapi Masalah Baru selain COVID-19, Jepang Dapat Ancaman Gelombang Bunuh Diri Besar-Besaran

"Untuk itu, wisatawan yang datang ke Bali dianjurkan menggunakan transaksi dengan cara nontunai melalui smartphone yang dikoneksikan melalui 'Quick Response code Indonesia Standards (QRIS). Cara ini bertujuan mengurangi interaksi dengan manusia ke manusia untuk mencegah penyebaran COVID-19," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Trisno Nugroho menjelaskan perekonomian di Bali mengalami perlambatan pada triwulan pertama dengan angka 1,4 persen, namun pihaknya optimistis pada 2021, ekonomi di Pulau Dewata akan perlahan pulih.

Menurut dia, kunjungan wisman sempat meningkat di Bali pada triwulan I 2020, namun pertumbuhan kunjungan wisman menurun tajam di penghujung triwulan I 2020.

Baca Juga: Mahasiswa UPI Dapat Ajukan Keringanan dan Penangguhan Biaya Kuliah

"Hal ini menjadi penyebab kontraksi pada komponen ekspor jasa. Bali merupakan daerah yang paling terdampak dari turunnya kunjungan wisman tersebut," katanya.

Ia menambahkan akumulasi "inbound" wisman periode Januari-Maret 2020 mengalami kontraksi sebesar 21,82 persen (yoy) dengan penurunan terdalam pada wisman asal Tiongkok sebesar -64,24 persen (yoy).

"Menyambut new normal, mari kita jaga Bali dengan menjadikannya lebih baik, tidak hanya di mata Indonesia, melainkan juga di mata dunia," katanya.

Baca Juga: Jarak 2 Meter Memisahkan Setiap Jemaah, Salat Jumat Perdana Berlangsung Khidmat

Oleh karena itu, Bali perlu merumuskan berbagai strategi dan inovasi untuk bisa terus bersaing dengan destinasi wisata lainnya di berbagai negara dalam menghadapi "New Normal/Normal Baru".

"Tren pariwisata diperkirakan akan mengalami perubahan. Pasca-pandemi, wisatawan akan mengedepankan aspek safety, hygene and cleanliness atau yang sering kita sebut sebagai kondisi New Normal," katanya.***

Editor: Gita Pratiwi

Sumber: Antara


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X